Permisif

Uu Suhardi*, Majalah Tempo, 24 Agu 2015

Ilustrasi: 123RF

Dalam komunikasi, satu pihak menyampaikan pesan, sementara pihak lain menerimanya. Komunikasi lancar ketika pesan yang disampaikan dapat dipahami penerima sesuai dengan niat pengirim pesan. Karena itu, khususnya dalam bahasa lisan, kaidah tak terlalu penting selama pesan sampai ke tujuan. Bahkan logika bahasa pun bisa dikesampingkan.

Baca lebih lanjut

Kelas

Uu Suhardi*, Majalah Tempo, 4 Mei 2015

Ilustrasi: Ivan Lanin

Ilustrasi: Ivan Lanin

Kecermatan berbahasa berkaitan dengan ketepatan mengenali kelas kata. Kerap di media massa kita dapati kalimat semacam ini: “Hingga kini korban masih trauma”, “Dia alergi asap rokok”, “Semua pemain harus fokus pada pertandingan”, “Ratusan nelayan protes kebijakan menteri”, dan “Anaknya sekolah di Bandung”. Trauma, alergi, fokus, protes, dan sekolah merupakan nomina atau kata benda, sehingga tak tepat menjadi predikat pada kalimat-kalimat tersebut.

Baca lebih lanjut

Konteks

Uu Suhardi*, Majalah Tempo, 22 Des 2014

Seorang teman merasa perlu mengusulkan kata baru: tau. Kata itu dibuat sebagai pengganti tahu dalam arti “mengerti”, agar berbeda dengan tahu sebagai “makanan dari kedelai putih yang digiling halus-halus, direbus, dan dicetak”. Menurut dia, pemakaian tau sudah meluas dan mengikuti pelafalan (Bagja Hidayat, #kelaSelasa, 2014).

Baca lebih lanjut

Lewah

Uu Suhardi*, Majalah Tempo, 8 Sep 2014

Benarkah di dunia ini tidak ada yang sempurna? Ternyata ada, misalnya kalimat. “Saya pergi” adalah contoh kalimat sempurna. “Saya” sebagai subyek, sementara “pergi” sebagai predikat. Begitu sederhana, tapi justru kesederhanaan itulah yang menjadikannya sempurna.

Dalam teori jurnalistik, selalu dikatakan bahwa berita, agar “sempurna”, harus memenuhi unsur dasar 5W (who, what, when, where, why) dan 1H (how). Tapi penekanannya bisa berbeda-beda. Jika peristiwa yang hendak ditonjolkan, unsur what didahulukan. Bila pelaku, korban, atau saksi yang lebih penting, unsur who yang ditonjolkan. Unsur dalam 5W + 1H yang sering dipakai memang what dan who. Unsur when dan where digunakan sebagai pelengkap. Sedangkan why dan how dipakai sebagai penjelasan.

Baca lebih lanjut

Serapan

Uu Suhardi* (Majalah Tempo, 3 Maret 2014)

Setiap bahasa memiliki pola. Dalam bahasa Indonesia, contohnya, jika kata yang diawali fonem p, t, k, atau s mendapat imbuhan meng- atau peng-, fonem itu luluh. Misalnya memukul, pemukul, menari, penari, mengeras, pengeras, menyerang, dan penyerang. Dari pola, terbentuklah kaidah. Dengan kaidah itulah niscaya kita akan lebih mudah memahami dan mempelajari bahasa.

Memang, dalam kasus tertentu, pengecualian tak bisa dihindarkan.

Ada bentuk mempunyai (alih-alih memunyai), penyair (pensyair atau pesyair), dan mengkaji (mengaji), misalnya, yang tidak mengikuti pola yang membentuk kaidah itu. Apa pun penyebabnya, contoh kata-kata yang dikecualikan itu sangat produktif pemakaiannya dan dibakukan dalam kamus.

Tapi, satu hal yang tak boleh kita lupakan, makin sedikit pengecualian, makin mudah bahasa dipelajari dan dipahami.

Baca lebih lanjut

Terkait

Majalah Tempo, 6 Sep 2010. Uu Suhardi: Redaktur Bahasa Tempo.

Tak bisa dimungkiri, terkadang kita mengalami kesulitan ketika hendak menentukan kata sambung (konjungsi) atau kata depan (preposisi) yang tepat untuk menghubungkan unsur-unsur dalam sebuah kalimat. Akibatnya, kata sambung “oleh”, misalnya, sering dipertukarkan dengan preposisi “dari”, “pada”, dan “kepada” atau konjungsi “dengan”. Kalimat “Tim Jerman kalah oleh Spanyol” masih bersaing dengan kalimat “Tim Jerman kalah dari Spanyol”. Begitu pula antara “Lelaki tua itu terpesona oleh kecantikannya” dan “Lelaki tua itu terpesona pada kecantikannya” atau antara “Kita terbelenggu oleh isu-isu politik yang sensasional” dan “Kita terbelenggu dengan isu-isu politik yang sensasional”.

Baca lebih lanjut

Pesan (Tak) Sampai

Majalah Tempo, 20 Okt 2008. Uu Suhardi: Redaktur Bahasa Tempo.

Tiger Woods dan Vijay SinghSEBUAH koran Ibu Kota baru-baru ini menulis, “Vijay Singh menggantikan posisi Woods.” Pada Ramadan lalu, satu stasiun televisi nasional melaporkan, “Ruang sidang dipenuhi oleh sekitar seratus massa.” Sampai pekan lalu, sebuah kantor besar masih memasang tulisan di pintu masuknya: “Tidak menerima sumbangan dalam bentuk apa pun.”

Kalau kita baca sekilas, seolah tidak ada yang salah dalam ketiga kalimat tersebut. Dan mungkin, bagi penyusun masing-masing kalimat itu, yang penting pesannya sampai. Padahal, kalau kita baca dengan saksama, ketiganya mengandung kesalahan yang mengakibatkan kerancuan.

Baca lebih lanjut