Kalam Komunitas Kelam

Majalah Tempo, 27 Feb 2012. Veven Sp. Wardhana, Penghayat budaya massa

Buah apel, dalam bahasa Latin, disebut malus. Tak berbeda, “apel Malang” dan “apel Washington” pun tetap saja malus. Apel adalah buah dalam makna denotatif. Yang membedakan, masing-masing dibudidayakan di perkebunan di (kabupaten) Malang, Jawa Timur, dan Negara Bagian Washington, Amerika Serikat. Itu untuk bahasa petani dan ilmu botani. Namun, dalam bahasa para politikus yang tersangkut skandal pembangunan Wisma Atlet SEA Games, kosakata Latin tersebut tak berlaku bagi dua ragam apel itu. Bahkan sama sekali tak ada kaitannya dengan buah. “Apel Malang” merupakan kata ganti untuk uang rupiah, sementara “apel Washington” identik dengan alat tukar uang dolar Amerika.

Dalam sebuah persidangan skandal tersebut terjelaskan, penggantian kata apel untuk uang dimaksudkan agar tak terkesan vulgar. Maksudnya, perlu ada penghalusan atau pelembutan, yang dalam linguistik disebut eufemisme.

Baca lebih lanjut

Iklan

Jibaku

Majalah Tempo, 19 Sep 2011. Veven Sp. Wardhana

Jibaku, jelas, bukan bahasa Indonesia. Dalam buku Tesaurus Bahasa Indonesia susunan Eko Endarmoko, saya tak menemukan lema tersebut. Namun, belakangan hari, jibaku menjadi akrab dalam kalam Indonesia. Awalnya, kata tersebut saya temukan dalam status jejaring sosial  Facebook, yang ditulis Ste Ayesha, penulis novel teenlit alias teenager literature bertajuk Always Love All Ways: “berjibaku di Pejaten Village….” Jejaring sosial di jagat maya memang serba penuh kemungkinan. Karena itu, saya tak buru-buru membayangkan penulisnya hendak menubruk dan menabrakkan dirinya ke sebuah bangunan pusat pertokoan di Jakarta Selatan itu–laiknya pasukan kamikaze Jepang yang siap tewas bersama-sama pesawat yang dikemudikan atau ditumpangi itu. Benarlah, dari foto-foto dalam jejaring sosial tersebut ternyatakan bahwa jabaran jibaku bisa bermakna rela berdesakan dan bersesakan di pertokoan itu hanya untuk mendapati sesuap menu yang di lain lokasi pun ada, setelah sebelumnya berkutat dalam kemacetan lalu lintas senja Jakarta di jalan menuju lokasi pertokoan.

Baca lebih lanjut

Bahasa Hukum, Bahasa Tak Pasti

Majalah Tempo, 4 Apr 2011. Veven Sp. Wardhana: Pemerhati budaya massa.

PAHAMKAH kita dengan bahasa hukum di Indonesia? Pasal dan ayat dalam undang-undang, juga peraturan, atau surat keputusan seharusnya memberikan kepastian sebagaimana kepastian hukum. Namun justru bahasa (tepatnya: ragam bahasa) hukum itu sendiri yang menelikung kemungkinan kepastian itu.

Contoh nyata bahasa hukum yang memunculkan jamak-tafsir antara lain Pasal 2 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 1/1974 tentang Perkawinan:

“(1) Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu; (2) Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.”

Baca lebih lanjut

Antara Perempuan dan Wanita

Majalah Tempo, 14 Feb 2011. Veven Sp. Wardhana: Pengamat budaya massa.

Apakah bahasa, sebagaimana umumnya ilmu pengetahuan, benar benar dan sungguh sungguh netral, tak berpihak? Sebuah adagium menyatakan: ilmu pengetahuan-juga bahasa-memang netral, yang membuatnya tidak netral adalah penggunanya. Laiknya sebilah gunting, dia bisa dipakai untuk menggunting kain, menyemai tanaman, memangkas kuku di jari, atau menancap di tubuh hingga yang tertancap bersimbah darah

Feminis-baik perempuan maupun lelaki atau male feminist-bahasa jelas tidak (bias) netral. Ada ideologi tertentu di balik pemilihan dan penggunaan kata atau istilah tertentu. Antara kata “wanita” dan “perempuan”, kaum feminis lebih memilih kata “perempuan”. Ideologi yang melingkup di belakangnya: “empu” berarti ahli, atau hulu, atau kepala; sementara “wanita” dikesankan sebagai semata pasangan atau bahkan subordinat pria atau lelaki. Dengan merujuk pada majalah majalah wanita, isinya memang tak terasa aroma “feminis” yang kuat. Bahkan dalam sederetan artikel tip yang dimuat pun pesan moralnya cenderung menggariskan bahwa perempuan adalah pasangan lelaki. Jikapun perempuan sudah mencapai posisi tinggi dalam komposisi manajerial sebuah perusahaan, tetaplah yang bersangkutan harus kembali sebagai pelayan suami jika sudah sampai rumah dan rumah tangga. Karena itu, berlahiranlah tulisan model resep membuat suami betah di rumah, atau bagaimana agar suami tak lupa pada istri, dan seterusnya. Dan majalah majalah tadi memang tak pernah mengiklankan diri sebagai majalah perempuan, melainkan majalah wanita. Sebuah tabloid bahkan menyandang slogan: “siapa bilang wanita tak butuh berita…”. Bukan: “siapa bilang perempuan tak butuh berita…”.

Baca lebih lanjut

Berbahasa (Cara) Pusat Bahasa

Majalah Tempo 30 Nov 2009. Veven Sp. Wardhana. Penghayat budaya massa.

UNGKAPAN ”bahasa menunjukkan bangsa” secara telak dibuktikan lembaga Pusat Bahasa—jika makna bangsa sama maknanya dengan ”sebuah peradaban”. Peradaban sendiri tidaklah universal, namun berbeda-beda pada masing-masing bangsa, suku bangsa, bahkan komunitas. Pusat Bahasa boleh jadi merupakan bagian dari subkomunitas itu. Salah satu peradaban Pusat Bahasa tercermin saat menerbitkan 10 novel berbahasa Indonesia yang didasarkan legenda lama, yang berbahasa awal Jawa, Bali, Bugis, Jawa kuno, Batak, dan bahasa ”lokal” lainnya. Yang dijadikan acuan 10 penovel bukanlah ceritera yang berbahasa awal tadi, melainkan pada kisah yang sebelumnya sudah dibahasaindonesiakan.

Baca lebih lanjut