Humor Bahasa dan Bahasa Humor

Yanwardi*, KOMPAS, 12 Des 2015

Ilustrasi: Trans 7

Humor dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai sesuatu yang lucu, keadaan yang menggelikan hati, kejenakaan, dan kelucuan. Humor bisa terjadi dalam segala bidang kehidupan manusia, bisa verbal bisa nonverbal. Humor verbal, yakni yang menggunakan bahasa, dengan mudah dijumpai dalam, misalnya, acara lawak. Karena menggunakan bahasa, acara lawak menarik ditelaah dari sisi kebahasaan.

Baca lebih lanjut

Bahasa dan Realitas

Yanwardi*, KOMPAS, 19 Sep 2015

Sumber gambar: Slate Magazine

Iseng-iseng saya buka koran Kompas terbitan bulan-bulan yang silam. Pada suatu artikelnya tersua ungkapan masuk keluar mal. Agak tidak biasa urutan itu karena kaprah yang dipakai adalah struktur berurutan keluar masuk. Bisa jadi Kompas ingin menggambarkan bahwa struktur masuk keluar lebih sepadan dengan realitas: masuk keluar. Pelaku barang tentu masuk dahulu, baru keluar.

Baca lebih lanjut

Mengapa Berbuka Puasa?

Yanwardi*, KOMPAS, 11 Jul 2015

1758594benhil-2780x390

Ilustrasi: Hidangan untuk berbuka puasa (Sumber: Kompas)

Eko Endarmoko, penulis Tesaurus Bahasa Indonesia, agaknya tersentak ketika mendengar seorang anak kecil mempertanyakan berbuka puasa atau menutup puasa yang benar. Jauh sebelum itu, pertanyaan ini pernah diutarakan seseorang dalam sebuah milis bahasa. Ada dua hal menarik dalam kasus ini. Pertama, secara linier, ungkapan bahasa yang muncul kiranya (seolah-olah) lebih logis menutup puasa. Bukankah kita faktanya menutup puasa setelah berpuasa dari matahari belum muncul sampai matahari tenggelam? Kedua, mengapa kata buka mengambil awalan ber– khusus dalam kolokasi dengan kata puasa. Biasanya buka mengambil awalan me(N)-, misalnya, membuka mata, baju, toko, warung, dsb. Tulisan ini akan mencoba menjawab dua ihwal tersebut.

Baca lebih lanjut

Bagaimana Mengukur Makna?

Yanwardi*, KOMPAS, 20 Jun 2015

Beberapa waktu yang lalu, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Tedjo Edhy Purdijatno dilaporkan ke Bareskrim Mabes Polri. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama pun demikian: dilaporkan. Entah berapa banyak lagi yang melaporkan atau dilaporkan kepada pihak yang berwajib terkait dengan ucapan atau perkataan. Kata-kata sebagai musabab pelaporan tentu bukan sebagai fisik lambang (penanda) saja, melainkan sebagai tanda yang mencakup pula konsep atau makna yang diembannya (petanda). Bahkan, makna bisa hadir ”di luar” persepsi yang biasa direkam dalam kamus.

Baca lebih lanjut

Begal dan Pembegal

Yanwardi, KOMPAS, 28 Mar 2015

Bahasa itu lentur, bisa ”ditekuk-tekuk”, dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan penuturnya. Namun, tentunya upaya tersebut tidak dengan sembarang atau semaunya. Ada koridornya, yakni sistem bahasa itu sendiri dan konvensi dari masyarakat pemilik bahasa. Jika hasil kelenturan itu tidak sesuai dengan sistem bahasa, akan muncul salah kaprah dan tabrakan dengan sistem bahasa yang telah ada sebelumnya.

Baca lebih lanjut

Apa Namamu?

Yanwardi*, KOMPAS, 21 Feb 2015

Belum lama ini seorang guru besar linguistik Universitas Indonesia menyatakan kerisauannya terkait dengan penggantian kalimat ”Siapa nama kamu?” menjadi ”Apa nama kamu?” oleh sebagian ahli bahasa di lingkungan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI. Ahli bahasa itu menambahkan bahwa yang menghendaki penggantian siapa dengan apa itu adalah orang Indonesia yang berbahasa ibu bahasa Indonesia pula. Apa sebenarnya yang mendasari kemunculan ujaran masing-masing itu? Dari segi relativitas bahasa Sapir-Whorf yang menyatakan, antara lain, bahasa dan budaya saling memengaruhi, kedua ujaran tersebut menarik dibahas.

Baca lebih lanjut

Berpikir Linier dalam Bahasa

Yanwardi*, KOMPAS, 22 Nov 2014

Suatu waktu pernah diperdebatkan mengakibatkan dan menyebabkan yang memiliki makna sama, padahal kata dasarnya berlawanan makna, dan penggantian kata memenangkan dengan memenangi. Ada kesamaan cara berpikir dalam argumen di kedua perdebatan itu: penalaran linier. Cara berpikir ini sering berfokus pada fenomena A ditarik lurus ke fenomena B atau memasukkan hukum pada data. Akibatnya, muncul keartifisialan dan, lebih jauh, bisa mengganggu sistem bahasa.

Baca lebih lanjut

Misteri Hari

Yanwardi* (KOMPAS, 1 Mar 2014)

”PADA hari Minggu kuturut ayah ke kota. Naik delman istimewa, kududuk di muka…”. Demikian petikan lagu anak-anak yang dikenal hampir seluruh anak-anak Indonesia. Tampak kata Minggu didahului kata hari di dalam lirik ”Naik Delman” itu, padahal kita tahu Minggu sudah mencakup pengertian ’hari’.

Lepas dari lirik lagu itu, bahasa memang unik. Sering gejala kebahasaan, karena sederhana, berjalan mengalir dalam setiap detik. Tidak dirasakan keunikannya. Tidak ada seorang pun dari masyarakat penuturnya yang mempertanyakan, mengapa ini begitu, mengapa itu begini. Tidak ada, bahkan ahli dan perencana bahasa pun tidak merasa perlu mengaturnya. Kita baru tersentak ketika muncul pertanyaan kritis dari penutur yang peka.

Baca lebih lanjut

Terkesima?

Yanwardi*, KOMPAS, 28 Sep 2013

Kata kesima telah lama hidup dalam bahasa Melayu maupun bahasa Indonesia. Dalam Kamus Poerwadarminta, Kamus Besar Pusat Bahasa, Tesaurus Bahasa Indonesia, dan Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia dinyatakan bahwa kesima berasal dari bahasa Jakarta. Kenyataan ini diperkuat oleh Kamus Dialek Jakarta Abdul Chaer yang memasukkan kesima sebagai lema.

Baca lebih lanjut