Memunyai?

Yanwardi*, KOMPAS, 7 Jan 2017

Agak aneh bagi saya sikap sebagian praktisi dan pemerhati bahasa yang bersikeras mengubah mempunyai menjadi memunyai. Sejak dahulu penutur bahasa memilih mempunyai ketimbang memunyai. Bahkan, sebagian di antara mereka, ketika saya tanyakan kedua kata itu, justru bertanya balik, “Emang ada kata memunyai?” Bagi penutur asli bahasa Indonesia, kata-kata, seperti mempunyai, mengurung, memukul, menyapu, dan menusuk terucap dengan sendirinya, tidak mengingat dulu bahwa sistem morfofonemik (proses fonologis akibat pertemuan morfem dengan morfem), yakni awalan “me(N)-“, kalau bertemu kata dasar berawal huruf/fonem/bunyi k, p, s, dan t harus luluh, apalagi sampai mencari nasal yang harus homorgan (ng, m, ny, dan n). Otak penutur akan pusing bila demikian. Untunglah intuisi bahasa penutur bergerak otomatis ketika berbahasa.

Baca lebih lanjut

Cara Berpikir Penutur: Guru Pembelajar

Yanwardi* (Kompas, 5 Nov 2016)

Kata bentukan sering dalam pemakaiannya tidak sesuai dengan pendapat ahli bahasa. Kata pembelajar, misalnya, ketika saya tanyakan kepada beberapa penutur bahasa Indonesia, cenderung ditafsirkan sebagai ’siswa’, atau ’orang yang belajar’. Pendapat beberapa ahli bahasa, Anton M Moeliono misalnya, bertolak belakang dengan penafsiran itu. Menurut Anton, makna pembelajar adalah ’pengajar’ atau ’yang membuat orang jadi belajar’. Dasar argumen ini adalah pembelajar diturunkan dari verba membelajarkan yang bermakna ’membuat orang jadi belajar’. Pemikiran morfologis ini sah saja.

Baca lebih lanjut

Pepanah?

Yanwardi* (Kompas, 10 Sep 2016)

Sebagian besar orang agaknya sudah mengetahui bahwa nomina berawalan ”pe(N)-” umumnya diturunkan dari verba berawalan ”me(N)-D”, seperti pembunuh dari membunuh, peninju-meninju, pencuri-mencuri, dan pengajar-mengajar. Di sisi lain nomina berawalan ”pe-D” sebagian besar diturunkan dari verba berawalan ”ber-D”, misalnya peternak dari beternak, petani-bertani, dan petinju-bertinju.

Baca lebih lanjut

Memenangkan dan Memenangi

Yanwardi*, Kompas, 2 Jul 2016

Ada beberapa alasan mengapa saya tergerak mengangkat kembali ihwal memenangi vs memenangkan (pertandingan). Pertama, dalam pemakaian lisan sehari-hari, memenangkan selalu muncul alih-alih memenangi dan dalam situasi lisan yang formal pun, misalnya, di acara televisi sering keceplosan para peserta pembicaraan menggunakan memenangkan. Kedua, dari puluhan naskah yang saya edit, tidak ada satu pun yang memakai memenangi. Beberapa penulis bahkan bersikeras memakai memenangkan. Ketiga, ketika saya tanyakan kepada beberapa teman penutur bahasa Indonesia, mereka malah merasa aneh dengan memenangi. Keempat, karena bahasa bersistem, terjadi ekses penggantian ”me-/-kan” dan ”me-/-i” yang serampangan.

Baca lebih lanjut

Tekad yang Nekat?

Yanwardi*, KOMPAS, 5 Mar 2016

Belum lama ini saya dan Eko Endarmoko, penulis Tesaurus Bahasa Indonesia yang monumental itu, berdiskusi kecil soal bahasa melalui pesan singkat. Di pesan singkatnya Eko Endarmoko menggugat kenyataan berbahasa: mengapa kita mengeja /tekad/, tetapi di sisi lain mengeja /nekat/. Jika kita mengikuti patokan itu atau bertolak dari ejaan /nekat/, seharusnya tekad dieja /tekat/ dan ditulis tekat.

Baca lebih lanjut

Humor Bahasa dan Bahasa Humor

Yanwardi*, KOMPAS, 12 Des 2015

Ilustrasi: Trans 7

Humor dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai sesuatu yang lucu, keadaan yang menggelikan hati, kejenakaan, dan kelucuan. Humor bisa terjadi dalam segala bidang kehidupan manusia, bisa verbal bisa nonverbal. Humor verbal, yakni yang menggunakan bahasa, dengan mudah dijumpai dalam, misalnya, acara lawak. Karena menggunakan bahasa, acara lawak menarik ditelaah dari sisi kebahasaan.

Baca lebih lanjut

Bahasa dan Realitas

Yanwardi*, KOMPAS, 19 Sep 2015

Sumber gambar: Slate Magazine

Iseng-iseng saya buka koran Kompas terbitan bulan-bulan yang silam. Pada suatu artikelnya tersua ungkapan masuk keluar mal. Agak tidak biasa urutan itu karena kaprah yang dipakai adalah struktur berurutan keluar masuk. Bisa jadi Kompas ingin menggambarkan bahwa struktur masuk keluar lebih sepadan dengan realitas: masuk keluar. Pelaku barang tentu masuk dahulu, baru keluar.

Baca lebih lanjut

Mengapa Berbuka Puasa?

Yanwardi*, KOMPAS, 11 Jul 2015

1758594benhil-2780x390

Ilustrasi: Hidangan untuk berbuka puasa (Sumber: Kompas)

Eko Endarmoko, penulis Tesaurus Bahasa Indonesia, agaknya tersentak ketika mendengar seorang anak kecil mempertanyakan berbuka puasa atau menutup puasa yang benar. Jauh sebelum itu, pertanyaan ini pernah diutarakan seseorang dalam sebuah milis bahasa. Ada dua hal menarik dalam kasus ini. Pertama, secara linier, ungkapan bahasa yang muncul kiranya (seolah-olah) lebih logis menutup puasa. Bukankah kita faktanya menutup puasa setelah berpuasa dari matahari belum muncul sampai matahari tenggelam? Kedua, mengapa kata buka mengambil awalan ber– khusus dalam kolokasi dengan kata puasa. Biasanya buka mengambil awalan me(N)-, misalnya, membuka mata, baju, toko, warung, dsb. Tulisan ini akan mencoba menjawab dua ihwal tersebut.

Baca lebih lanjut