Frasa Hitam-Putih dalam Kejahatan

Lampung Post, 25 Jan 2012. Yuliadi M.R., Pemerhati bahasa, bekerja di Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Entah alasan apakah istilah kata hitam dan putih digunakan sebagian orang untuk mengungkapkan suatu (kejahatan) tertentu. Frasa yang mungkin akrab frasa kejahatan “kerah putih”, white collar crime, seperti kejahatan pencucian uang, kejahatan profesi, kejahatan komputer dan internet, kejahatan bantuan likuiditas bank, juga kejahatan penjualan pasal.

Pemberdayaan kata putih digunakan juga dalam kejahatan yang ilegal: “kupon putih”, seperti judi togel, buntut, atau nalo. Begitu pula penyebutan benda (bubuk) jahat yang merusak fungsi syaraf dan kesadaran: “bubuk putih”, dengan istilah lain disebut sabu-sabu atau putau. Tentu saja masih banyak frasa lain yang menggunakan kata putih.

Baca lebih lanjut

Banggar

Lampung Post, 9 Nov 2011. Yuliadi M.R., Pegawai Kantor Bahasa Provinsi Lampung

ENTAH terasuk apa, dewasa ini, sebagian orang begitu ramai berbicara banggar. Tidak hanya para pejabat yang disibukkan oleh banggar, tetapi hampir semua orang membicarakannya di banyak tempat.

Ada sebuah cerita tentang sesosok lugu yang sok tahu. Entah karena gerah atau ingin tampil wah, dia buka suara dengan yakinnya bak pengulas acara televisi berujar, “Banggar itu tempat bermain para pejabat dan asal tahu aja, itu hanya permainan!” Lalu satu dari yang lain juga nimbrung bertanya, “Emang, banggar itu apa?” Ia pun hanya geleng kepala.

Tentu tidak sedikit dari kita yang tahu, apa itu banggar? Acungan jempol layak diberikan kepada pencetus kata itu bila dilihat sebagai bentuk kreativitas dalam memperkaya (kosakata) bahasa Indonesia, tetapi di sisi yang lain perlu juga diberikan pengetahuan tentang penyingkatan kata. Sebab, banggar menjadi “benda” asing yang baru datang dan jadi pembicaraan. Tentu sebuah kontras bagi sebagian orang yang melihat kata itu sebagai akronim dari badan anggaran.

Baca lebih lanjut

‘Kematian’ Penyukat Beras

Lampung Post, 10 Agu 2011. Yuliadi M.R., Bekerja di Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Perkembangan ilmu dan teknologi berpengaruh terhadap kehidupan bahasa (Indonesia). Seiring itu, satu sisi bertambah perbendaharaan kosakata, pada sisi yang lain terjadi “kematian” beberapa kosakata. “Kematian” kosakata itu bisa terjadi karena jarang dipakai atau tidak digunakan sama sekali, baik itu dalam lisan atau tulis. Tentu kita akan bersependapat hal itu merupakan salah satu bentuk (ancaman) kepunahan suatu bahasa.

Dalam masyarakat, terutama Melayu dulu, ketika membayar zakat kita kenal penyukat beras, seperti kata cupak, gantang, atau pikul. Dalam perkembangannya, alat penyukat sebagai alat ukur berat itu mulai terlupakan. Menurut KBBI edisi IV, cupak digunakan untuk satuan takaran beras, yaitu seperempat gantang, sedangkan satu gantang sama dengan 3,125 kilogram. Satu pikul sama dengan 62,5 kilogram.

Baca lebih lanjut

‘Nyeruit’ Beda dengan ‘Nyalon’

Lampung Post, 22 Jun 2011. Yuliadi M.R., Pemerhati bahasa, menetap di Bandar Lampung

DALAM keseharian banyak dijumpai perubahan kata (dasar) yang tidak sesuai kaidah. Perubahan yang salah itu dilakukan sebagian orang berulang-ulang sehingga dianggap bukan lagi salah (salah kaprah). Kesalahan berbahasa itu terjadi pada umumnya terlihat dalam proses morfologi: kesalahan dalam bentuk turunan kata.

Istilah nyeruit sangat populer baru-baru ini. Tradisi nyeruit sudah turun-temurun dibudayakan dalam masyarakat adat Lampung. Acara nyeruit, yang diikuti oleh 10.800 orang, dicatat dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) ke-4.937 karena memiliki unsur superlatif, langka, dan unik, untuk kategori makanan khas tradisional.

Baca lebih lanjut

Jangan, Naik Travel atau ‘Busway’!

Lampung Post, 16 Mar 2011. Yuliadi M.R.: Pemerhati bahasa dan bekerja di Kantor Bahasa Provinsi Lampung

BERKEMBANGNYA ilmu, teknologi, dan informasi, masyarakat dituntut untuk bersikap lebih selektif dalam berbahasa. Bila tidak, acap bahasa (terutama pemakaian kata-kata serapan) yang kita gunakan jadi kacau. Kekacauan berbahasa itu dilakukan berulang-ulang dan pada akhirnya kita terbiasa dengan kekacauan-kekacauan itu.

Secara sadar atau tidak, kita sering berkata, “Berangkat ke Jakarta, naik travel saja. Nyaman!” Kata atau istilah naik travel ini telah berkembang. Masyarakat tanpa sungkan memakai atau menggunakannya, padahal penggunaan istilah itu salah.

Baca lebih lanjut

Macan Ompong

Lampung Post, 4 Agu 2010. Yuliadi M.R.: Pemerhati bahasa, tenaga teknis bahasa Kantor Bahasa Provinsi Lampung.

DALAM bincang-bincang pada suatu waktu di warung kopi, seorang teman berceloteh, “Belanda bak macan ompong di hadapan Spanyol kala mereka bertanding di final Piala Dunia pada waktu yang lalu”. Mengapa Belanda dikatakan bak macan ompong? Apakah pendayagunaan istilah itu dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk ekspresi berbahasa?

Situasi kejiwaan—dalam kajian psikologi bahasa—berpengaruh terhadap ekspresi berbahasa seseorang. Ekpresi itu dapat diamati dalam pilihan kata (diksi) yang digunakan dalam berbahasa. Pendayagunaan istilah macan ompong dalam pernyataan di atas adalah sebagai salah satu bentuk luapan emosi: ketidakpuasan, ketidakkendalian, atau ketidakterimaan terhadap kenyataan.

Baca lebih lanjut

Obat Paten: Anggapan yang Salah?

Lampung Post, 9 Juni 2010. Yuliadi M.R. dan Hariawan K.

BARU-BARU ini kita disuguhi dua pilihan obat, yakni obat generik dan obat paten. Anggapan yang berkembang adalah bahwa obat generik diartikan sebagai obat bagi masyarakat umum dengan harga murah dan berkualitas standar, sedangkan obat paten diartikan sebagai obat bagi masyakarat umum dengan harga agak mahal dan berkualitas tinggi.

Menurut bidang farmasi, obat paten adalah obat yang baru ditemukan berdasarkan riset dan memiliki masa paten yang bergantung pada jenis obatnya. Di Indonesia, masa paten obat adalah 20 tahun, setelah obat paten habis masa patennya, obat tersebut kemudian dinamakan sebagai obat generik.

Baca lebih lanjut

‘Injury Time’ bukan Perpanjangan Waktu

Lampung Post, 5 Mei 2010. Yuliadi M.R.: Pemerhati bahasa, bekerja di Kantor Bahasa Provinsi Lampung.

Di berbagai acara siaran langsung pertandingan sepak bola, kata injury time sering kita dengar. Sebagian orang, bahkan mungkin sebagian besar, mengartikan injury time sebagai perpanjangan waktu. Perpanjangan waktu dilakukan sebagai pengganti waktu yang “hilang” akibat tertundanya permainan berupa pelanggaran-pelanggaran atau peristiwa lain yang mengganggu pertandingan.

Kata injury time merupakan kata gabungan injury dan time, yang secara harfiah diartikan tambahan waktu sebuah permainan/pertandingan diberikan sebagai bentuk kompensasi atas pemain yang cedera atau gangguan tertentu selama pertandingan berlangsung. Untuk itulah, kata injury time tidak tepat diartikan dengan kata perpanjangan waktu melainkan kata tambahan waktu.

Baca lebih lanjut