Satuan dan Ukuran

Yusi Avianto Pareanom* (Majalah Tempo, 7 Jul 2013)

Banyak cerita menarik dari masa lalu yang dikisahkan para senior kepada pendatang baru di Tempo. Salah satunya kegigihan Syu’bah Asa mencari satuan untuk kata tahi. Anda tidak salah baca, Syu’bah memang sedang mencari kata yang menurut dia paling tepat untuk menera berapa banyak kotoran yang keluar dari pelepasan. Syu’bah, yang mungkin Anda kenal sebagai pemeran D.N. Aidit dalam film Pengkhianatan G 30 S PKI, begadang semalam suntuk dan belum mendapatkan hasil yang memuaskan juga. Pagi tiba, ia masuk ke kamar mandi. Begitu keluar, sambil menyeringai, ia mengabarkan temuannya: seecret. Mungkin raut mukanya saat itu tak berbeda jauh dengan roman Archimedes setelah menemukan dalilnya yang terkenal.

Saya tak tahu seberapa akurat penceritaan ulang itu. Saya juga belum sepenuhnya sepakat dengan temuan dari kamar mandi itu. Tapi imajinasi dan upayanya bersikap cermat layak dipuji. Satuan tahi belum dikenal dan Syu’bah tak mudah menyerah. Ia tidak sendiri dalam pencarian semacam itu. Sementara Syu’bah berkelana di “dunia bawah”, Danarto sufi, penelur realisme magis Indonesia bergerak di wilayah cahaya untuk menentukan satuan malaikat. Ia akhirnya memilih kata sekuntum. “Sekuntum malaikat”, indah dan lembut sekali.

Baca lebih lanjut

Iklan

Satu Baris

Majalah Tempo 16 Mar 2009. Yusi Avianto Pareanom. Penulis.

Para caleg semestinya belajar dari seniman grafiti truk. Yang disebut belakangan ini pintar memanfaatkan ruang terbatas untuk membuat slogan yang renyah. Walau norak dan kadang absurd, apa yang mereka tuliskan di bak truk lucu dan menghibur: Dian Sastro, lolos gadismu, jangan harap jandamu; tilas tapi raos (bekas orang tapi masih sedap juga), pra-one new-sony (perawan menyusui), dan masih banyak lagi.

Baca lebih lanjut