Tambang Tarik, Ojek Taksi

Zen Hae*, Majalah Tempo, 8 Mei 2017

Taksi berbasis aplikasi, baik mobil maupun sepeda motor, adalah kelanjutan dari budaya sewa-menyewa dalam masyarakat kita. Di masa lalu, ketika sepeda motor dan mobil belum menjadi alat transportasi umum, orang di Nusantara menyewa bendi atau yang sejenisnya, bahkan perahu, untuk bepergian ke lain tempat. Istilah yang digunakan belum lagi “ojek” atau “taksi”, melainkan “tambang”. Dalam bahasa Indonesia dan Malaysia, tambang adalah nomina bermakna banyak. Terkait dengan transportasi, ia kurang-lebih bermakna “kendaraan yang disewakan untuk mengangkut orang atau barang”, “orang yang menumpang atau barang muatan”, dan “ongkos menumpang”.

Baca lebih lanjut

Artis Dari Hong Kong

Zen Hae*, Majalah Tempo, 13 Feb 2017

Mereka yang mengalami masa remaja sepanjang 1970-1980-an sangat mengenal artis berikut ini: Bruce Lee, Chen Kuan Tai, Chen Lung (kemudian menjadi Jackie Chan), Fu Shen, Erl Thung-shen, Ti Lung, dan Rosamund Kwan. Mereka adalah bintang film yang sebagian besar bermain dalam film silat produksi Shaw Brothers, yang berpusat di Hong Kong. Mereka biasa disebut “bintang film Hong Kong”—sebagaimana “bintang film India”, “bintang film Barat” (bukan Hollywood), dan “bintang film Indonesia”.

Baca lebih lanjut

Yaitu dan Co

Zen Hae*, Majalah Tempo, 8 Feb 2016

Dalam berbahasa, kita menjelaskan atau membuat rincian agar sesuatu yang kita sebut sebelumnya terurai dan menemukan batasan-batasannya. Dengan begitu, pokok soal yang kita bicarakan bisa menjadi jelas dan orang yang kita ajak bicara bisa terhindar dari salah paham. Misalnya kalimat Anak Pak Murad ada dua, yaitu Rika dan Burhan. Dengan partikel atau kata penghubung yaitu, kita menegaskan sekaligus membatasi bahwa anak Pak Burhan terdiri atas Rika dan Burhan, bukan Ruri dan Bardi.

Baca lebih lanjut

Ihwal Profesi dalam Sastra

Zen Hae*, Majalah Tempo, 19 Okt 2015

Ilustrasi: Last Bender

Bahasa Indonesia punya sejumlah cara dalam membentuk nomina yang bermakna “profesi” atau “pelaku”. Dari membubuhkan prefiks pe-, menempelkan aneka sufiks serapan, hingga menambahkan kata “tukang”. Sejumlah profesi dalam dunia kesusastraan mengalami semua itu: penyair, esais, novelis, cerpenis, deklamator, tukang cerita.

Baca lebih lanjut

Ihwal Meninggalkan Dunia

Zen Hae*, Majalah Tempo, 9 Jul 2015

Ilustrasi: Majalah Holiday

Di majalah ini edisi 2-8 Maret 2015, Bagja Hidayat menulis “Ihwal Meninggal” yang memerinci kekacauan makna terkait dengan kata tinggal dan meninggal dalam kamus kita, terutama Kamus Besar Bahasa Indonesia. Menurut dia, meninggal tidak bermakna sebagaimana yang dikandung kata induknya: tinggal. Ia tidak melukiskan sesuatu yang menetap; sebaliknya, menjauh atau meninggalkan sesuatu.

Baca lebih lanjut

E-Dagang Atau Dagang-E?

Zen Hae*, Majalah Tempo, 27 Apr 2015

Ilustrasi: Nationkart

Bahasa Indonesia hari ini tak henti-hentinya ditantang untuk mengatakan pelbagai hal baru dalam dunia modern. Termasuk kata atau istilah terbaru di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkaitan dengan penggunaan teknologi Internet. Sebagian besar kata atau istilah itu kita serap dari bahasa Inggris sebagai bahasa internasional yang paling banyak digunakan saat ini. Bagaimana kita menyerapnya ke dalam bahasa Indonesia, itulah soal utama tulisan ini.

Baca lebih lanjut

Dari Penglihatan Ke Pelihatan

Zen Hae*, Majalah Tempo, 2 Feb 2015

Ilustrasi: SAP News Center

Kita menggunakan kata penglihatan untuk melukiskan kerja mata, terutama ketika mata mendeteksi cahaya. Mata sebagai indra penglihatan membantu manusia membedakan terang dan gelap, juga dalam merasakan sensasi visual lainnya. Penglihatan menjadi satu dari lima indra manusia yang terpenting-selain pendengaran, perabaan, pengecapan, penghiduan. Namun di sini bukan soal pengindraan yang jadi penting, bentukan kata penglihatan itulah pokok soalnya.

Baca lebih lanjut

Dari Bistik ke Tayub Eropah

Zen Hae*, Majalah Tempo, 15 Sep 2014

Berdepan-depan dengan bahasa asing, bangsa kita menempuh pelbagai cara. Dari yang paling mudah, yakni menyerap, hingga yang sulit, yaitu menerjemahkan dan memadankan. Menyerap istilah asing sudah terjadi sejak pertama kali nenek moyang kita berhubungan dengan bangsa asing, terutama lewat perdagangan, penyebaran agama, dan penjajahan. Bahasa Indonesia hari ini adalah bahasa Melayu yang diperkaya oleh anasir bahasa Sanskerta, Arab, Persia, Hindi, Tamil, Portugis, Belanda, Cina, Jepang, dan Inggris-di samping anasir bahasa daerah.

Baca lebih lanjut

Tiga Kasus “-Nya”

Zen Hae* (Majalah Tempo, 16 Jun 2014)

Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2001) menjelaskan -nya sebagai “bentuk terikat yang merupakan varian pronomina persona ia/dia dan pronomina benda yang menyatakan milik, pelaku, atau penerima”. Kaum linguis menyebut -nya sebagai enklitik, yakni “klitik yang terikat dengan unsur yang mendahuluinya” (Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik, 1982).

Jika saja setiap akan berbicara atau menulis kita mengecek ke dalam kamus kata-kata yang meragukan, mungkin salah kaprah berikut tidak perlu berlangsung hingga hari ini. Begitulah, ketika berbicara di depan banyak orang, pun ketika menutup surat, kita kerap mengatakan, “Terima kasih atas perhatiannya.” Atau, kepada orang yang berpakaian bagus, seseorang bisa mengatakan, “Bajunya bagus.”

Kepada siapakah enklitik -nya itu dikembalikan? Kepada orang yang diajak bicara atau kepada orang lain di luar percakapan?

Baca lebih lanjut