Yaitu dan Co

Zen Hae*, Majalah Tempo, 8 Feb 2016

Dalam berbahasa, kita menjelaskan atau membuat rincian agar sesuatu yang kita sebut sebelumnya terurai dan menemukan batasan-batasannya. Dengan begitu, pokok soal yang kita bicarakan bisa menjadi jelas dan orang yang kita ajak bicara bisa terhindar dari salah paham. Misalnya kalimat Anak Pak Murad ada dua, yaitu Rika dan Burhan. Dengan partikel atau kata penghubung yaitu, kita menegaskan sekaligus membatasi bahwa anak Pak Burhan terdiri atas Rika dan Burhan, bukan Ruri dan Bardi.

Baca lebih lanjut

Ihwal Profesi dalam Sastra

Zen Hae*, Majalah Tempo, 19 Okt 2015

Ilustrasi: Last Bender

Bahasa Indonesia punya sejumlah cara dalam membentuk nomina yang bermakna “profesi” atau “pelaku”. Dari membubuhkan prefiks pe-, menempelkan aneka sufiks serapan, hingga menambahkan kata “tukang”. Sejumlah profesi dalam dunia kesusastraan mengalami semua itu: penyair, esais, novelis, cerpenis, deklamator, tukang cerita.

Baca lebih lanjut

Ihwal Meninggalkan Dunia

Zen Hae*, Majalah Tempo, 9 Jul 2015

Ilustrasi: Majalah Holiday

Di majalah ini edisi 2-8 Maret 2015, Bagja Hidayat menulis “Ihwal Meninggal” yang memerinci kekacauan makna terkait dengan kata tinggal dan meninggal dalam kamus kita, terutama Kamus Besar Bahasa Indonesia. Menurut dia, meninggal tidak bermakna sebagaimana yang dikandung kata induknya: tinggal. Ia tidak melukiskan sesuatu yang menetap; sebaliknya, menjauh atau meninggalkan sesuatu.

Baca lebih lanjut

E-Dagang Atau Dagang-E?

Zen Hae*, Majalah Tempo, 27 Apr 2015

Ilustrasi: Nationkart

Bahasa Indonesia hari ini tak henti-hentinya ditantang untuk mengatakan pelbagai hal baru dalam dunia modern. Termasuk kata atau istilah terbaru di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkaitan dengan penggunaan teknologi Internet. Sebagian besar kata atau istilah itu kita serap dari bahasa Inggris sebagai bahasa internasional yang paling banyak digunakan saat ini. Bagaimana kita menyerapnya ke dalam bahasa Indonesia, itulah soal utama tulisan ini.

Baca lebih lanjut

Dari Penglihatan Ke Pelihatan

Zen Hae*, Majalah Tempo, 2 Feb 2015

Ilustrasi: SAP News Center

Kita menggunakan kata penglihatan untuk melukiskan kerja mata, terutama ketika mata mendeteksi cahaya. Mata sebagai indra penglihatan membantu manusia membedakan terang dan gelap, juga dalam merasakan sensasi visual lainnya. Penglihatan menjadi satu dari lima indra manusia yang terpenting-selain pendengaran, perabaan, pengecapan, penghiduan. Namun di sini bukan soal pengindraan yang jadi penting, bentukan kata penglihatan itulah pokok soalnya.

Baca lebih lanjut

Dari Bistik ke Tayub Eropah

Zen Hae*, Majalah Tempo, 15 Sep 2014

Berdepan-depan dengan bahasa asing, bangsa kita menempuh pelbagai cara. Dari yang paling mudah, yakni menyerap, hingga yang sulit, yaitu menerjemahkan dan memadankan. Menyerap istilah asing sudah terjadi sejak pertama kali nenek moyang kita berhubungan dengan bangsa asing, terutama lewat perdagangan, penyebaran agama, dan penjajahan. Bahasa Indonesia hari ini adalah bahasa Melayu yang diperkaya oleh anasir bahasa Sanskerta, Arab, Persia, Hindi, Tamil, Portugis, Belanda, Cina, Jepang, dan Inggris-di samping anasir bahasa daerah.

Baca lebih lanjut

Tiga Kasus “-Nya”

Zen Hae* (Majalah Tempo, 16 Jun 2014)

Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2001) menjelaskan -nya sebagai “bentuk terikat yang merupakan varian pronomina persona ia/dia dan pronomina benda yang menyatakan milik, pelaku, atau penerima”. Kaum linguis menyebut -nya sebagai enklitik, yakni “klitik yang terikat dengan unsur yang mendahuluinya” (Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik, 1982).

Jika saja setiap akan berbicara atau menulis kita mengecek ke dalam kamus kata-kata yang meragukan, mungkin salah kaprah berikut tidak perlu berlangsung hingga hari ini. Begitulah, ketika berbicara di depan banyak orang, pun ketika menutup surat, kita kerap mengatakan, “Terima kasih atas perhatiannya.” Atau, kepada orang yang berpakaian bagus, seseorang bisa mengatakan, “Bajunya bagus.”

Kepada siapakah enklitik -nya itu dikembalikan? Kepada orang yang diajak bicara atau kepada orang lain di luar percakapan?

Baca lebih lanjut

Pil Pilu Pemilu

Zen Hae* (Majalah Tempo, 24 Feb 2014)

Pemilihan umum (pemilu) bukan hanya pesta demokrasi, tapi juga pesta akronim (dan singkatan). Menjelang dan saat pemilulah kita menyaksikan bangsa kita memproduksi akronim secara besar-besaran. Pemilu itu adalah sebuah akronim, begitu juga tahapan dan perangkatnya: pemilukada atau pilkada, pileg, pilpres, pilwalkot, luber jurdil, parpol, bawaslu/panwaslu, balon, dapil, caleg, capres/cawapres, cagub/cawagub, cabup/cawabup, pantarlih, dan seterusnya.

Tengok juga bagaimana para pasangan (calon) pemimpin menamai diri mereka: WIN-HT (Wiranto-Hary Tanoe), Aman (Annas Maamun-Arsyadjuliandi Rachman), KarSa (Soekarwo-Saifullah Yusuf), sementara pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman Sumawireja berakronim “Berkah”. Adapun Joko Widodo menjadi “Jokowi”, tapi Basuki Tjahaja Purnama malah dipanggil “Ahok”, tidak diakronimkan dengan “Bacapur” atau “Basunama”.

Baca lebih lanjut

Mengaji Kaji

Majalah Tempo, 16 Mei 2011. Zen Hae: Penyair

SEKARANG ini kata kerja “mengkaji” dan “mengaji” diperlakukan sebagai dua bentukan yang berbeda maknanya. Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi ketiga, 2001) mendaftar makna bentukan pertama adalah “mempelajari, memeriksa, menyelidiki, memikirkan, menguji, menelaah”, sementara yang kedua berarti “mendaras Al-Quran, belajar membaca tulisan Arab, belajar atau mempelajari”. Kamus Dewan (edisi ketiga, 2002) juga membedakan makna dua bentukan itu dengan makna yang lebih-kurang sama. Dalam bahasa Indonesia “mengkaji” kemudian menurunkan kata benda “pengkajian”, sementara “mengaji” menurunkan kata benda “pengajian”, dengan makna yang juga lebih-kurang sama.

Baca lebih lanjut

Paduka

Majalah Tempo 18 Jan 2010. Zen Hae, Penyair.

Himpunan puisi Jantung Lebah Ratu (Gramedia, 2008) karya Nirwan Dewanto adalah salah satu buku puisi Indonesia modern yang cukup banyak menggunakan kembali kata-kata arkais atau jarang terpakai dalam komunikasi berbahasa Indonesia hari ini. Mau tidak mau pembaca mesti menengok kamus sebelum memahami makna dan konteks kata-kata itu. Misalnya kata ”paduka”, yang selama ini hanya dipakai di alam kerajaan dan dongeng sejenis Seribu Satu Malam.

Baca lebih lanjut