Pil Pilu Pemilu

Zen Hae* (Majalah Tempo, 24 Feb 2014)

Pemilihan umum (pemilu) bukan hanya pesta demokrasi, tapi juga pesta akronim (dan singkatan). Menjelang dan saat pemilulah kita menyaksikan bangsa kita memproduksi akronim secara besar-besaran. Pemilu itu adalah sebuah akronim, begitu juga tahapan dan perangkatnya: pemilukada atau pilkada, pileg, pilpres, pilwalkot, luber jurdil, parpol, bawaslu/panwaslu, balon, dapil, caleg, capres/cawapres, cagub/cawagub, cabup/cawabup, pantarlih, dan seterusnya.

Tengok juga bagaimana para pasangan (calon) pemimpin menamai diri mereka: WIN-HT (Wiranto-Hary Tanoe), Aman (Annas Maamun-Arsyadjuliandi Rachman), KarSa (Soekarwo-Saifullah Yusuf), sementara pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman Sumawireja berakronim “Berkah”. Adapun Joko Widodo menjadi “Jokowi”, tapi Basuki Tjahaja Purnama malah dipanggil “Ahok”, tidak diakronimkan dengan “Bacapur” atau “Basunama”.

Baca lebih lanjut

Iklan

Mengaji Kaji

Majalah Tempo, 16 Mei 2011. Zen Hae: Penyair

SEKARANG ini kata kerja “mengkaji” dan “mengaji” diperlakukan sebagai dua bentukan yang berbeda maknanya. Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi ketiga, 2001) mendaftar makna bentukan pertama adalah “mempelajari, memeriksa, menyelidiki, memikirkan, menguji, menelaah”, sementara yang kedua berarti “mendaras Al-Quran, belajar membaca tulisan Arab, belajar atau mempelajari”. Kamus Dewan (edisi ketiga, 2002) juga membedakan makna dua bentukan itu dengan makna yang lebih-kurang sama. Dalam bahasa Indonesia “mengkaji” kemudian menurunkan kata benda “pengkajian”, sementara “mengaji” menurunkan kata benda “pengajian”, dengan makna yang juga lebih-kurang sama.

Baca lebih lanjut

Paduka

Majalah Tempo 18 Jan 2010. Zen Hae, Penyair.

Himpunan puisi Jantung Lebah Ratu (Gramedia, 2008) karya Nirwan Dewanto adalah salah satu buku puisi Indonesia modern yang cukup banyak menggunakan kembali kata-kata arkais atau jarang terpakai dalam komunikasi berbahasa Indonesia hari ini. Mau tidak mau pembaca mesti menengok kamus sebelum memahami makna dan konteks kata-kata itu. Misalnya kata ”paduka”, yang selama ini hanya dipakai di alam kerajaan dan dongeng sejenis Seribu Satu Malam.

Baca lebih lanjut