Jembatan Bahasa: Indonesia-Prancis

Setyaningsih (Majalah Tempo, 2 Jan 2021)

“Kira-kira ada seperempat jam lamanya Hidjo dan Raden Ajeng Biroe berjalan-jalan di dalam Sriwedari sambil omong-omongan. Lalu mereka duduk di kursi yang sudah tersedia di depan restoran yang sedikit remang dan terlindung dari pandangan orang […] Sesudah meminta dua botol limun kepada jongos restoran, lalu dia berkata kepada Raden Ajeng.” Dalam novel Student Hidjo garapan Mas Marco Kartodikromo yang semula dimuat bersambung di Sinar Hindia dan terbit pertama kali pada 1919, lalu diterbitkan ulang oleh Bentang, itu, bisa saja Hidjo tidak mengucapkan kata bahasa Melayu “limun”, tapi bahasa Prancis “limonade” saat memesan minuman kecut dan segar tersebut.

Sumber ilustrasi: Unsplash https://unsplash.com/photos/YhSoK3TOg78

Baca lebih lanjut

Di Balik Istilah Polisi Tidur

Teguh Candra (Kompas.id, 2 Jan 2021)

Kala berkendara, saat mengemudi, atau sekadar duduk manis sebagai penumpang, kita sering menikmati sensasi, maaf, pantat sedikit terangkat apabila bersua ”gundukan” panjang melintang di tengah jalan. Polisi tidur, demikian orang menyebut namanya.

Terlahir menjelang akhir era Generasi X dan kebetulan berada dalam pusaran gairah untuk memuaskan rasa ingin tahu, penulis pun mengamini polisi tidur sebatas bentuknya: gundukan (tentunya yang melintang panjang di tengah jalan).

Sumber ilustrasi: Tribun News

Baca lebih lanjut

Linguistik Forensik

Ahmad Hamidi (Majalah Tempo, 26 Des 2020)

“LABEL ‘forensik’ dalam linguistik terkadang … ya, gitu, deh. Padahal ujung-ujungnya, ya, menggunakan kacamata analisis wacana dan pragmatik pula,” demikian celetuk seorang mutualan—orang yang mengikuti akun media sosial orang lain dan orang lain tersebut mengikuti balik akun yang bersangkutan—saya di media sosial. Di lain kesempatan, dia nyeletuk lagi, “Gimmick ilmu itu adalah ketika demi cari nama, ilmuwan berkoar-koar ilmunya sebagai ilmu baru, dikasih nama tertentu agar terlihat keren dan meyakinkan para pemula.”

Ilustrasi: Shutterstock

Baca lebih lanjut

Pewaris versus Ahli Waris

F.X. Sukoto (Kompas.id, 26 Des 2020)

Cara Wood, 28 tahun lalu, bekerja di sebuah restoran di kampung halamannya, Chagrin Falls, Ohio, Amerika Serikat, sekitar 15 mil (28 kilometer) sebelah timur Cleveland. Wood (17) adalah seorang karyawati yang baik, cerdas, ramah, dan suka membantu.

Salah satu pelanggan restoran tersebut, Bill Cruxton, sangat menyukai Wood. Cruxton, seorang duda tanpa anak, hampir setiap hari ke restoran Drin’s Colonial itu untuk makan sehingga mereka menjadi teman dan semakin akrab.

Ilustrasi: KOMPAS

Baca lebih lanjut

Kalimat Sejajar dan Tidak Sejajar

Antonius Galih Rudanto (Kompas.id, 19 Des 2020)

Berbagai tulisan, baik visi-misi dalam kampanye, kutipan langsung dari narasumber, maupun slogan sebuah kota yang menjadi identitas, tidak lepas dari rincian. Rincian ini akan mudah dicerna dan tidak menyebabkan keambiguan apabila pedoman kesejajaran atau paralelisme diusahakan untuk diterapkan. Tidak sulit memahami rincian dalam sebuah kalimat, tetapi adakalanya ditemukan rasa bahasa yang agak aneh.

Sumber gambar: Kompas

Baca lebih lanjut

Nakal

Nur Hadi (Majalah Tempo, 12 Des 2020)

Sebut saja namanya Arif. Lantaran sering pulang diam-diam ke rumah tanpa sepengetahuan pengurus pesantren, akhirnya Arif mendapat peringatan keras dan berujung pada skors. Arif masuk deretan anak nakal. Namun, setelah diselisik lebih jauh, ternyata Arif sering mengalami perundungan yang dilakukan oleh teman sekamar.

Baca lebih lanjut

”Mengklaim” atau ”Mengeklaim”, Apa Bedanya?

Apolonius Lase (Kompas.id, 12 Des 2020)

Di masyarakat pengguna bahasa Indonesia, terutama para penulis atau juru warta di media massa, penggunaan kata mengeklaim bersaing dengan kata mengklaim. Pada umumnya, penulis selalu menggunakan kata mengklaim, alih-alih mengeklaim.

Ini tidak salah. Semua ada dasarnya, mengapa penulis menggunakan kata itu: klaim, mengklaim, pengklaim, pengklaiman. Ini sudah sesuai dengan apa yang ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi IV dan sebelumnya.

Baca lebih lanjut

Perbedaan Namun, Akan Tetapi, dan Tetapi (Tapi)

Kusnadi (Kompas.id, 5 Des 2020)

Jika mencermati tulisan-tulisan yang terbit di media massa, ada kecenderungan penggunaan kata hubung tidak diperhatikan. Fakta yang sama sebetulnya dapat kita temukan juga pada artikel-artikel yang beredar di kalangan kampus.

Barangkali karena masalah bahasa di seputar kita sudah terlalu banyak, urusan pemakaian kata hubung itu diabaikan. Contoh dari pengabaian itu, misalnya, terjadi dalam penggunaan kata hubung namun, akan tetapi, dan tetapi (tapi).

Sumber gambar: Kompas

Baca lebih lanjut

Pasca, Paska, Sesudah, atau Setelah?

Lucia Dwi Puspita Sari (KOMPAS, 21 Nov 2020)

Bentuk terikat pasca sering muncul dalam tulisan di media massa dan media lainnya. Kata yang bermakna ’sesudah’ atau ’setelah’ ini kadang muncul pula dalam bentuk lain, yakni paska-. Kata yang terakhir ini muncul karena mengikuti ujaran orang yang belum mengetahui asal-usul pengucapan kata pasca-.

Baca lebih lanjut