Bahasa Indonesia dan Diplomat Kita

Pramudito*, Kompas, 9 Apr 2016

Pada awal 1980-an, ketika mengikuti pendidikan diplomat pemula di Kementerian (dulu: Departemen) Luar Negeri, saya dan beberapa teman heran. Mengapa salah satu pelajarannya adalah ”Bagaimana Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar” dengan widyaiswara JS Badudu (1926-2016)? Pikiran kami waktu itu, masih perlukah pelajaran bahasa Indonesia untuk calon diplomat? Bukankah yang penting pendidikan keterampilan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris? Meskipun begitu, kami tetap tekun mengikuti uraian ahli bahasa Indonesia itu.

Baca lebih lanjut

Seng!

Geger Riyanto*, Majalah Tempo, 4 Jan 2016

Ilustrasi “tidak” (Sumber: Healing Insights)

Seumur-umur, saya mengaku, saya bukanlah orang yang mudah mengatakan tidak. Sebelum sampai pada kata “tidak”, saya akan menggelandang perbincangan menyambangi tempat-tempat lain dan terkadang tersasar pula.

Baca lebih lanjut

Akal-Mulut dalam Ujaran Kebencian

Stanislaus Sandarupa*, KOMPAS, 20 Nov 2015

Ilustrasi: Didie SW/Kompas

Surat Edaran Kepala Polri bernomor SE/06/X/2015 tertanggal 8 Oktober 2015 tentang ”ujaran kebencian” menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Ada yang melihatnya sebagai aturan, peringatan, dan perlindungan—bahkan ancaman terhadap kebebasan berpendapat—dari sudut politik, komunikasi, dan hukum.

Baca lebih lanjut

Berbahasa Satu, Bahasa Bingung …

Mohammad Hilmi Faiq & Sarie Febriane, KOMPAS, 25 Okt 2015

Ilustrasi: KOMPAS/Riza Fathoni

Ilustrasi: KOMPAS/Riza Fathoni

Bahasa merupakan hasil konsensus masyarakat dalam menyampaikan pesan secara verbal. Ketika konsensus tersebut dipersempit ke dalam kelompok tertentu, maka kesalahpahaman dan kebingungan pun terjadi. Inilah yang muncul seiring maraknya pemakaian bahasa ”alay”.

Baca lebih lanjut

Cuma Bahasa Slang, Jangan “Baper”

Sarie Febriane & M. Hilmi Faiq, Kompas, 25 Okt 2015

Ilustrasi: KOMPAS/Riza Fathoni

Ilustrasi: KOMPAS/Riza Fathoni

Apakah Anda cukup akrab dengan istilah seperti LOL, LMAO, kthxbye, XOXO, BRB, YOLO, ROTFL, FTW, FYI, OMG, atau ZOMG? Dapatkah Anda mengira arti kata-kata berikut, seperti warbiyasak, gaes, gosah, ciyus, mager, baper, woles, gegara, tetiba, atau KZL? Bukan bahasa, melainkan itulah slang di jagat virtual.

Baca lebih lanjut

Kegalauan Bahasa Indonesia

Sudaryanto*, Republika, 5 Okt 2015

Ilustrasi: Sugiyono, Badan Bahasa

Ilustrasi: Sugiyono, Badan Bahasa

Bahasa Indonesia sedang galau? Barangkali pertanyaan awal itu akan muncul di benak pembaca saat membaca judul artikel ini. Ya, bahasa Indonesia tengah mengalami kegalauan yang luar biasa. Apa pasal? Sebab, para penutur asli bahasa tersebut sedang keranjingan berbahasa Inggris ria. Buktinya, kosakata-kosakata bahasa Inggris kini banyak bertaburan di ruang publik kita. Pertanyaannya, bagaimana caranya agar kita bisa menghapus kegalauan tersebut?

Baca lebih lanjut

Mafia

Ni Nyoman Dwi Astarini*, Media Indonesia, 4 Okt 2015

Ilustrasi: Clipart Panda

Penyiksaan dua warga Desa Selok Awar Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Sabtu (26/9) membuka mata kita bahwa intimidasi dan kekerasan nyata ada di Indonesia. Salim Kancil, 52, meninggal setelah dianiaya sekelompok orang yang menyebut diri Tim 12. Warga lainnya, Tosan, 51, dirawat di rumah sakit, juga akibat penganiayaan. Penganiayaan tersebut diduga terkait dengan penambangan pasir yang marak mencaplok lahan persawahan di desa itu. Kedua warga desa itu memang dikenal lantang bersuara dalam menolak penambangan pasir di desa mereka.

Baca lebih lanjut

Bahasa Indonesia Bahasa ASEAN

Didik Sulistyanto*, KOMPAS, 19 Sep 2015

Sumber gambar: FOPDEV

Presiden Joko Widodo meminta agar syarat memiliki kemampuan berbahasa Indonesia untuk pekerja asing dihapus. Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan, permintaan Presiden Jokowi itu untuk menggenjot iklim investasi di Indonesia. “Memang disampaikan secara spesifik oleh Presiden untuk membatalkan persyaratan berbahasa Indonesia bagi pekerja asing di Indonesia,” kata Pramono, Jumat, 21 Agustus 2015.

Baca lebih lanjut

Menghina Diri Sendiri

Radhar Panca Dahana*, KOMPAS, 11 Sep 2015

Siapakah yang terbayang dalam kepala Anda saat mendengar nama Celina Evangelista atau Baby Valerta Duarte? Atau mungkin nama-nama seperti Brandon de Angelo, Andrew Ralph Roxburgh, Catherine Wilson, Febby Lawrence, atau Chico Jericho? Nama fiktif? Bukan! Jelas nama manusia. Manusia asing? Juga bukan.

Nama-nama di pertanyaan pertama saya ambil secara acak dari daftar nama bayi kelahiran bulan Juli 2015 di sebuah kecamatan, ya, kecamatan di negeri ini: RI. Adapun nama-nama dalam pertanyaan kedua adalah sebagian dari nama-nama artis kita, artis Indonesia tentu saja, yang bisa Anda dapatkan di Wikipedia.

Baca lebih lanjut