(Laki-Laki) Feminis

Hendri Yulius*, Majalah Tempo, 1 Mei 2017

Bila Hari Kartini selalu identik dengan kesetaraan gender untuk perempuan, kini sudah saatnya untuk memulai percakapan tentang isu gender dan laki-laki. Tidak mengherankan bila selama ini isu gender selalu dipersamakan dengan isu “perempuan”. Sebab, beragam wacana gender yang beredar di ruang publik selalu berkisah tentang tuntutan perempuan atas representasi jenis kelaminnya di parlemen atau kebijakan khusus untuk melindungi perempuan dari kekerasan dan pelecehan seksual. Setidaknya itulah yang muncul ke permukaan umum, yang semakin lama memperkuat asumsi bahwa istilah gender sama dengan perempuan.

Baca lebih lanjut

Bacalah! Jangan!

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 29 Apr 2017

Sudah waktunya kita saling menasihati untuk jangan membaca terlalu banyak. Oh, ini bukan soal aktivisme. Baca melulu. Kerja kapan? Bukan, bukan itu. Sebagai pemalas besertifikat, penulis merasa bertanggung jawab menjelaskan bahwa sebagian besar, kalau bukan semua, aktivis merasa perlu, dan tampak, bekerja sangat keras superaktif sepanjang waktu karena mereka tidak bisa memikirkan cara mencapai hasil terbaik dengan tenaga dan waktu minimum. Ibaratnya, menulis kolom selama tujuh hari tujuh malam sebulan sebelum tenggat. Penulis yang cerdas akan mulai berpikir satu jam sebelum batas waktu. Hasilnya sama. Masuk koran. Esoknya dilupakan orang. Honor jumlah sama masuk rekening. Begitulah. Kolumnis rajin yang tersinggung sila pergi sana naik sepeda, biar aktif.

Baca lebih lanjut

Menerjemahkan atau Menjinakkan Kartini?

Joss Wibisono*, Majalah Tempo, 24 Apr 2017

Menerjemahkan sebuah naskah adalah mencari padanan kata, kalimat, atau ungkapan bahasa yang digunakan dalam naskah itu ke dalam bahasa lain. Padanan di sini mensyaratkan persamaan yang setaraf, yang berimbang atau berbobot sama. Lebih dari itu, penerjemahan juga mensyaratkan pemahaman nuansa sebuah tulisan; terjemahan yang berhasil akan berhasil pula menerjemahkan nuansa sebuah karya, apalagi kalau karya itu berbobot sastra.

Baca lebih lanjut

Menjelang Tiga Tahun Kecemasan

Taufik Ikram Jamil*, Majalah Tempo, 17 Apr 2017

INILAH pesan-pesan melalui telepon seluler Abdul Wahab kepada saya yang disebutnya untuk menandai jelang tiga tahun Joko Widodo menjadi presiden. “Tentu telah banyak disimak telaah politik, hukum, dan ekonomi, yang dipenuhi kecemasan dalam waktu hampir dua tahun kepemimpinan Jokowi. Tetapi selalu pulakah engkau mendengar bagaimana ihwal serupa sebenarnya juga melanda pada penggunaan bahasa Indonesia Jokowi, terbingkai dalam ungkapan; jelang tiga tahun kecemasan?” tulis kawan saya itu lagi.

Baca lebih lanjut

Rokok dan Lain-Lain

Sapardi Djoko Damono*, Majalah Tempo, 10 Apr 2017

Beberapa tahun terakhir ini kita saksikan perubahan sikap terhadap rokok, setidaknya dalam perkara menciptakan slogan. Sebelumnya kita mengatakan rokok bisa menimbulkan penyakit jantung dan paru-paru, mengganggu kehamilan, dan sebagainya, sekarang awas-awas itu kita tarik lebih tegas lagi: MEROKOK MEMBUNUHMU, disertai gambar yang bisa saja menakutkan, jauh lebih telak dan ringkas dibanding awas-awas sebelumnya.

Baca lebih lanjut

Deviasi Bahasa Puisi

Muhammad Husein Heikal*, KOMPAS, 8 Apr 2017

Bagi penyair, ada kewenangan istimewa dalam memperlakukan bahasa yang dikenal sebagai deviasi bahasa. Dalam Buku Praktis Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa, 2003) dijelaskan bahwa pemahaman bahasa dalam konteks media puisi tidak sama dengan pemahaman terhadap bahasa yang hidup dalam pergaulan sehari-hari. Bahasa sastra berbeda dengan bahasa pidato, buku teks, atau karya ilmiah. Bahasa dalam puisi sering menyimpang dari kaidah atau ketetapan tata bahasa yang normal. Penyimpangan ini dalam linguistik disebut deviasi bahasa. Penyimpangan itu diperbolehkan demi visi puisi sang penyair kesampaian.

Baca lebih lanjut