Becak, Becak

Samsudin Berlian* (Kompas, 3 Feb 2018)

Kredit Foto: Nino Citra Anugrahanto untuk Kompas

Ketika masih ditarik kuda, ia dalam bahasa Hokkien disebut bechia. Be berarti ‘kuda’. Chia ‘kereta’. Tapi, mengapa ketika kuda penarik sudah berganti jadi manusia pengayuh, ia tetap disebut becak? Mungkin karena telah terjadi dua hal. Pertama, makna asali becak sudah dilupakan; orang tidak lagi ingat bahwa be- di situ berarti ‘kuda’. Jadi, pengayuh, penumpang, dan pengamat becak tidak merasa heran, apalagi terganggu, tidak melihat kuda di sekitar mereka. Kedua, telah terjadi transposisi sempurna. Kereta yang dikayuh manusia mengambil alih fungsi kereta yang ditarik kuda secara lengkap, sementara keadaan-keadaan lain tidak berubah.

Baca lebih lanjut

Iklan

Pura-Pura dalam Perahu

Eko Endarmoko* (Kompas, 27 Jan 2018)

Moyang kita dari banyak daerah di sekujur tanah Nusantara pernah lebih suka menegur, mengkritik, memberi nasihat, atau mengajarkan adab yang baik dengan bahasa tersirat. Orang boleh berdebat, apakah kegemaran memakai bahasa tersirat di situ adalah tanda adab yang baik ataukah cermin sikap pura-pura, semacam eufemisme yang akut.

Baca lebih lanjut

Bahasa Kikuk

Kurnia J.R.* (Kompas, 20 Jan 2018)

Di media digital bahasa Indonesia kerap tampil kikuk, seumpama orang terjebak situasi salah kostum. Menghadiri pemakaman dalam busana pesta atau sebaliknya. Serba salah, tetapi terus terjadi karena dua alasan. Pertama, karena pelaku tak tahu dan tak mau belajar. Kedua, pelaku tak sendirian dan, karena beramai-ramai, mereka tak merasa bersalah atau bermasalah.

Baca lebih lanjut

Kasar atau (Sok) Akrab?

André Möller* (Kompas, 13 Jan 2018)

Ketika saya mulai belajar bahasa Indonesia, disampaikan bahwa kamu hanya bisa dipakai dengan kerabat atau saudara yang amat dekat atau dengan anak kecil. Segala penggunaan yang lain dianggap kurang sopan, dan dengan jelas akan memperlihatkan kenyataan bahwa kami, para pelajar, belum memahami bahasa asing ini. Kami disuruh memakai kata Anda atau kata panggilan yang tepat, seperti mbak, mas, bu, pak, dan seterusnya. Kalau kita berkonsultasi dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia, ajaran ini sepertinya bisa dikatakan tepat. Kamu diartikan sebagai ’yang diajak bicara; yang disapa (dalam ragam akrab atau kasar)’. Bagian terakhir ini yang penting: akrab atau kasarAnda, di lain pihak, diartikan KBBI sebagai ’sapaan untuk orang yang diajak berbicara atau berkomunikasi (tidak membedakan tingkat, kedudukan, dan umur)’. Dengan demikian, lebih amanlah memakai kata Anda.

Baca lebih lanjut

Bahasa Menunjukkan Harga

Samsudin Adlawi* (Majalah Tempo, 8 Jan 2018)

Bahasa menunjukkan bangsa. Peribahasa itu sangat karib dengan telinga kita. Maklum, ia sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Bahkan dulu guru saya di sekolah dasar mendoktrinkan jiwa nasionalisme kepada muridnya dengan peribahasa itu. Walhasil, kami hafal di luar kepala, sekalian artinya: baik-buruk sifat dan tabiat orang dan/atau bangsa dapat dilihat dari tutur kata atau bahasanya.

Baca lebih lanjut

Genangan

Rainy M.P. Hutabarat* (Kompas, 6 Jan 2018)

KOMPAS/RIZA FATHONI
Sejumlah pengguna jalan memperlambat laju kendaraan dan menghindari genangan di jalur lambat Jalan Ahmad Yani, Jakarta Timur, Selasa (12/12/2017). Sejumlah genangan terjadi saat hujan melanda sebagian besar Jakarta dan menimbulkan kemacetan lalu-lintas.

Banjir dan genangan adalah dua kata yang selalu muncul di media massa saat musim hujan. Perbedaan kata ini pernah ramai dibahas tahun 2015 saat Djarot, wakil gubernur DKI waktu itu, mengatakan bahwa banjir setinggi 70 sentimeter di Kampung Arus RW 02, Kramatjati, Jakarta Timur, hanyalah genangan. Warganet pun tersentak dan riuh. Masak air setinggi 70 sentimeter disebut genangan?

Baca lebih lanjut

“Hoax”

Samsudin Berlian* (Kompas, 2 Des 2017)

Ternyata bukan hanya penyebar-pertama atau sumber hoax yang sulit dicari. Kata hoax itu sendiri susah ditemukan siapa bidannya. Para pakar pun tidak tahu. Hipotesis: hoax kependekan hocus, bagian pertama dari hocus-pocus. Hocus Pocus adalah nama panggung pesulap ternama di Inggris pada abad ke-17. Menurut Oxford English Dictionary, ketika pentas, si pesulap suka berucap ”Hocus pocus, tontus talontus, vade celeriter iubeo”. Artinya? Kira-kira sama dengan sim-salabim atau abrakadabra, alias celoteh tanpa arti. Bunyinya dimirip-miripkan dengan bahasa Latin supaya terdengar rahasia dan sihiria, bikin orang terpesona. Oxford Advanced Learner’s Dictionary punya varian penjelasan, bahwa asal hocus-pocus itu adalah ”hax pax max Deus adimax”, maknanya sama saja, omong kosong.

Baca lebih lanjut

I Lovina You

André Möller* (Kompas, 18 Nov 2017)

Masyarakat Perancis terkenal bangga akan bahasa nasionalnya. Beberapa dasawarsa yang lalu wisatawan yang menyampaikan sesuatu dalam bahasa Inggris bakal diabaikan dan disurami, dan yang kurang fasih berbahasa Perancis dianggap kurang beradab. Zaman kini, hal ini sudah agak berubah, tapi masalah bahasa tetap sensitif di negeri bermenara Eifel ini. Beberapa tahun yang lalu hal ini diaktualisasikan di Kota Loches.

Baca lebih lanjut