Lenyap

Mulyo Sunyoto* (Kompas, 10 Jun 2017)

Kulenyapkan kau!”; “Mereka sudah melenyapkan musuh kita.”; “Lenyapkan dia!”; “Sudah lenyapkah bajingan itu?” Itulah beberapa penggalan dialog yang terdengar lewat sulih suara dalam drama seri yang diimpor dari India, Turki, yang ditayangkan sejumlah saluran televisi swasta.

Baca lebih lanjut

Iklan

Servisifikasi

Arianto Patunru* (Majalah Tempo, 5 Jun 2017)

Istilah “transformasi struktural” jamak ditemukan dalam studi pembangunan. Generasi saya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia mengenal topik ini dari kuliah Profesor Arsjad Anwar. Salah satu referensi utamanya adalah buku Hollis Chenery dan Moises Syrquin berjudul Patterns of Development (1975). Beberapa literatur sebelumnya, seperti tulisan Allan Fisher (1935) atau Colin Clark (1940), juga membahasnya. Intinya, perekonomian akan beralih tumpuan dari sektor pertanian (termasuk peternakan, kehutanan, dan perikanan) ke sektor industri (terutama manufaktur, tapi juga mencakup pertambangan, konstruksi, dan “utilitas”–listrik, gas, dan air minum) dan lalu ke sektor jasa (meliputi jasa perdagangan, hotel, dan rumah makan; transportasi dan komunikasi; keuangan, perumahan, dan jasa usaha; serta jasa lainnya). Jadi umumnya, semakin berkembang suatu bangsa, kontribusi sektor jasanya semakin besar. Saat ini sektor jasa di Indonesia menyumbang sekitar 48 persen produk domestik bruto, diikuti sektor industri 40 persen, dan sisanya sektor pertanian. Di Australia, kontribusi sektor jasa adalah sekitar 70 persen, dan di Amerika Serikat 80 persen.

Baca lebih lanjut

Imsak dan Saum

Riko Alfonso* (Media Indonesia, 4 Jun 2017)

Marhaban ya Ramadan. Seiring dengan kedatangan Ramadan, muncul pula istilah-istilah serapan dari bahasa Arab yang berhubungan dengan bulan puasa ini. Sayangnya, banyak masyarakat kita yang tidak paham dengan makna istilah tersebut sehingga kerap salah kaprah saat penggunaannya.

Dalam rubrik ini, telah pula dipaparkan beberapa kesalahpahaman berbahasa yang kerap muncul di masyarakat umum berkaitan dengan Ramadan. Salah satunya ialah istilah takjil (verba) yang artinya ‘mempercepat (dalam berbuka puasa)’, tetapi malah diartikan sebagai ‘makanan untuk berbuka puasa’.

Baca lebih lanjut

Zalimis

Samsudin Berlian* (Kompas, 3 Jun 2017)

Telah lahir pada hari ini istilah baru yang sangat perlu dipahami dalam diskursus sosial politik Indonesia kontemporer. Berikut lema dalam “Kamus Besok Bahasa Indonesia” dan satu kutipan pencerah.

za.li.mis

1. n orang atau kelompok yang zalim; pezalim

2. n orang atau kelompok yang (dianggap) sangat melampaui batas perikemanusiaan dalam bertindak zalim

3. n orang atau kelompok yang menganut, mendukung, membela, dan atau mengembangkan ideologi zalimisme dalam politik

Baca lebih lanjut

Provokasi dan Kritik

Ahmad Sahidah* (Majalah Tempo, 29 Mei 2017)

Bahasa kita menyerap bahasa asing sebagai salah satu cara untuk memperkaya perbendaharaan kata. Mengingat lema asal mempunyai pandangan dunia sendiri, maknanya tentu tak sepenuhnya hadir dalam pikiran pengguna bahasa sasaran, baik dalam tulisan maupun lisan. Pendek kata, ada pengertian yang tak terangkut dalam kata yang diserap, sehingga secara otomatis turut memengaruhi pemahaman.

Baca lebih lanjut

Akronim Ramadan

Encep Abdullah* (Pikiran Rakyat, 28 Mei 2017)

Ramadan adalah bulan yang penuh berkah. Salah satunya berkah akronim. Akronim yang paling populer di telinga kita, antara lain kultum, sanlat, dan bukber. Barangkali Anda menemukan akronim lain, mohon kabari saya (encepabdullah@rocketmail). Siapa tahu tulisan ini masih bisa saya edit lagi. Bila tak ada, saya lanjutkan saja.

Baca lebih lanjut

Secara Terpisah

André Möller* (Kompas, 27 Mei 2017)

Ketika saya membaca koran berbahasa Indonesia atau menonton TV Indonesia (mengapa RRI masih begitu susah disimak secara daring?), saya sering mendengar istilah secara terpisah. Biasanya si wartawan menghubungi seorang pakar dan setelah itu secara terpisah ia menghubungi seorang pakar lain yang mendukung ataupun membantah pendapat pakar pertama. Bisa juga, pakar pertama menyatakan sesuatu, dan secara terpisah pakar kedua menyatakan hal yang sama ataupun hal terbalik. Menurut saya, istilah secara terpisah ini memiliki dua masalah: secara dan terpisah.

Baca lebih lanjut

Pada Kecepatan Mereka Mengabdi

Hermien Y. Kleden* (Majalah Tempo, 22 Mei 2017)

Pesan WhatsApp ini sering muncul di layar telepon seluler saya, sepintas mirip kode-kode ilmu nujum: “klo mo mkn dtg y, jgn php pls!” Lain hari muncul teks dalam bahasa Inggris: “Hi, w r y? PS: I’ll brb & tty abt dat 2day. Tx!” Di masa awal-awal dulu, teks yang membikin migrain ini saya kira salah ketik atau typo belaka. Seorang reporter muda di kantor redaksi kami menjelaskan kepada saya, huruf-huruf itu bukanlah typo. Dia lantas “menerjemahkan”-nya dengan cepat dan enteng:

Baca lebih lanjut

Sekolah, Bahasa Ibu, Bahasa Indonesia

Encep Abdullah* (Riau Pos, 21 Mei 2017)

Setidaknya, selama lima tahun saya pernah malang melintang menjadi pengajar bahasa Indonesia di beberapa bagian wilayah Banten. Sejak mahasiswa saya sudah mengajar di tempat bimbel. Di tempat bimbel itu saya tidak hanya mengajar di Serang, tetapi juga di Cilegon, Rangkasbitung, Pandeglang, bahkan pernah dikirim ke Tangerang, Indramayu, dan Bekasi. Tentu hal itu menjadi pengalaman tersendiri bagi saya, terutama ihwal perjalanan saya menekuni dunia mengajar dan bahasa. Dari beberapa tempat yang saya datangi itu, tak ada masalah mengenai komunikasi berbahasa Indonesia saya dengan peserta didik meskipun dalam keseharian mereka mungkin terbiasa menggunakan bahasa daerah. Mereka mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, malah mungkin mereka juga lebih pandai berbahasa asing ketimbang saya.

Baca lebih lanjut

Kutemui Ribuan Kontaminasi

Henry Bachtiar*, Media Indonesia, 21 Mei 2017

Kontaminasi adalah gejala bahasa yang dalam bahasa Indonesia diistilahkan dengan keran­cuan (kekacauan). Kerancuan itu muncul karena susunan unsur bahasa yang tidak tepat, seperti morfem dan kata. Menurut J.S. Badudu, kerancuan dalam bahasa Indonesia dibedakan menjadi tiga macam: kontaminasi bentuk kata, bentuk frasa, dan bentuk kalimat.

Baca lebih lanjut