Banci!

Hendri Yulius*, Majalah Tempo, 15 Feb 2016

Dalam hal seksualitas, bahasa Indonesia memiliki banyak keterbatasan. Saya menyadarinya saat mengajar kelas pengantar kajian queer di salah satu universitas terkemuka di Bandung. Sebagai sebuah kajian keilmuan yang relatif baru, dalam bahasa Inggris, kata queer memiliki sejarah yang rumit dan panjang.

Baca lebih lanjut

Yaitu dan Co

Zen Hae*, Majalah Tempo, 8 Feb 2016

Dalam berbahasa, kita menjelaskan atau membuat rincian agar sesuatu yang kita sebut sebelumnya terurai dan menemukan batasan-batasannya. Dengan begitu, pokok soal yang kita bicarakan bisa menjadi jelas dan orang yang kita ajak bicara bisa terhindar dari salah paham. Misalnya kalimat Anak Pak Murad ada dua, yaitu Rika dan Burhan. Dengan partikel atau kata penghubung yaitu, kita menegaskan sekaligus membatasi bahwa anak Pak Burhan terdiri atas Rika dan Burhan, bukan Ruri dan Bardi.

Baca lebih lanjut

Mengejar ‘Selfie’

Bagja Hidayat*, Majalah Tempo, 1 Feb 2016

Selfie Jokowi (Sumber: ABC)

Di majalah Tempo edisi 30 November-6 Desember 2015, ada kartun Hariprast tentang peringatan Hari Guru. Hari menggambar seorang guru memakai baju Korpri sedang memegang telepon seluler di depan murid-muridnya, yang juga memegang telepon seluler. Teks kartun itu adalah “Guru ngetweet berdiri, murid selfie berlari”.

Baca lebih lanjut

Bahasa Pasaran

Dodi Ambardi*, Majalah Tempo, 25 Jan 2016

Sumber: Jogja News

Kalimat itu terpampang di papan kayu lusuh di depan bangunan rumah dengan tulisan tangan yang menggunakan cat kayu: “Jual-beli sekenan.” Papan pemberitahuan semacam itu kini semakin banyak kita temui di ruas-ruas jalan pinggiran kota. Di sekeliling papan itu banyak teronggok barang afkiran, dari potongan pagar besi, kusen jendela, lemari, mebel, kipas angin, kulkas, hingga televisi berbadan gemuk.

Baca lebih lanjut

Bahasa Melajoe

Bandung Mawardi*, Majalah Tempo, 18 Jan 2016

Teks Bahasa Melayu (Sumber: Djadoel Antik BamBim)

Pada 1920-an, buku-buku mengenai bahasa dan sastra sering menggunakan sebutan Melajoe. Buku digunakan dalam pelajaran di sekolah atau bacaan umum. Buku-buku itu agak memicu penasaran mengenai keseringan sebutan Melajoe ketimbang Indonesia. Para tokoh politik kebangsaan, sastrawan, dan wartawan mulai berikhtiar mengenalkan Indonesia sebagai gagasan dan imajinasi. Ikhtiar serius belum memberi pengaruh besar dalam penentuan kurikulum pendidikan kolonial atau penerbitan buku. Sebutan bahasa Indonesia memang ada dalam Sumpah Pemuda (1928) meski tak gampang menular ke penerbitan buku atau penentuan pelajaran di sekolah.

Baca lebih lanjut

Diaspora Nasi Kuning

Kasijanto Sastrodinomo*, Majalah Tempo, 11 Jan 2016

Kongres Diaspora (Sumber: HetaNews)

Empat hotel berbintang yang sempat saya singgahi di empat kota di Sulawesi—Manado, Gorontalo, Palu, dan Kendari—menyuguhkan pilihan menu sarapan yang sama: nasi kuning. Mungkin kebetulan saja. Kabarnya, nasi tersebut jadi sarapan sehari-hari masyarakat di kota-kota itu. Pertanyaannya, bagaimana cara nasi kuning itu, yang selama ini “hidup” dalam budaya Jawa, tiba di Tanah Sulawesi. Menurut beberapa teman di sana, nasi kuning itu diduga datang bersama orang Jawa yang berdiaspora ke berbagai wilayah di Sulawesi pada masa lalu. Masuk akal meski perlu diteliti lebih cermat.

Baca lebih lanjut

Ben Anderson dan Perkara Ejaan

Joss Wibisono*, Majalah Tempo, 28 Des 2015

Benedict Anderson (Sumber: LA Times)

Pada obituari Benedict Anderson, yang wafat di Indonesia, Tempo menyinggung berulang kali bahwa, dalam menulis, Indonesianis terkemuka ini selalu menggunakan Edjaan Suwandi (1947-1972). Oleh majalah ini, ejaan yang digunakan Ben Anderson tersebut dianggap ciri khas Ben, dan sayang tidak dikupas lebih jauh. Sesungguhnya Tempo edisi akhir tahun 2001 (halaman 82-83) telah memuat kolomnya yang ditulis dalam ejaan pra-Orba, berjudul “Beberapa Usul demi Pembebasan Bahasa Indonesia”. Bahkan bisa dikatakan, bagi Ben, EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) itu tidak ada, sampai saat-saat terakhir ia tetap menggunakan Edjaan Suwandi.

Baca lebih lanjut

Hari Ibu Bukan Mother’s Day

Mariana Amiruddin*, Majalah Tempo, 21 Des 2015

Ilustrasi: Kongres Perempuan Indonesia I, 22 Desember 1928 (Mindtalk)

Setiap bulan Desember, terjadi pengulangan perdebatan apa yang disebut Hari Ibu atau Hari Perempuan. Kita perlu mengecek kembali konteks sejarah ataupun makna kata ibu. Sejarah mencatat bahwa Hari Ibu lahir dari peristiwa perjuangan kaum perempuan menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib perempuan yang dikeluarkan melalui Dekrit Presiden Sukarno pada 22 Desember 1959 untuk mengenang diselenggarakannya Kongres Perempuan pertama pada 1928 di Yogyakarta.

Baca lebih lanjut