Gelontor, Kucur, ”Netes”

Kasijanto Sastrodinomo (Kompas, 15 Des 2020)

Berapakah dana atau uang yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk menangkal wabah yang berkecamuk? Pada awal pandemi diberitakan bahwa pemerintah telah menggelontorkan anggaran untuk mengatasi Covid-19 melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebesar Rp405 triliun lebih (Kompas.com, 31-3-2020). Selain dinyatakan dengan angka, isyarat tentang seberapa besar jumlah dana itu diperkuat kata menggelontorkan. Tak masalah jika kata itu tergolong kasar (lihat KBBI) karena sangat efektif untuk membahasakan hal-hal penting, dan mungkin rumit, bagi khalayak luas.

Baca lebih lanjut

Nakal

Nur Hadi (Majalah Tempo, 12 Des 2020)

Sebut saja namanya Arif. Lantaran sering pulang diam-diam ke rumah tanpa sepengetahuan pengurus pesantren, akhirnya Arif mendapat peringatan keras dan berujung pada skors. Arif masuk deretan anak nakal. Namun, setelah diselisik lebih jauh, ternyata Arif sering mengalami perundungan yang dilakukan oleh teman sekamar.

Baca lebih lanjut

”Mengklaim” atau ”Mengeklaim”, Apa Bedanya?

Apolonius Lase (Kompas.id, 12 Des 2020)

Di masyarakat pengguna bahasa Indonesia, terutama para penulis atau juru warta di media massa, penggunaan kata mengeklaim bersaing dengan kata mengklaim. Pada umumnya, penulis selalu menggunakan kata mengklaim, alih-alih mengeklaim.

Ini tidak salah. Semua ada dasarnya, mengapa penulis menggunakan kata itu: klaim, mengklaim, pengklaim, pengklaiman. Ini sudah sesuai dengan apa yang ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi IV dan sebelumnya.

Baca lebih lanjut

Belantara Makna

Eko Endarmoko (Kompas, 8 Des 2020)

Menghidu rupanya tergolong kata yang agak asing bagi sebagian penutur bahasa Indonesia. Seorang teman menemukannya dalam satu klausa di sebuah tulisan, ”menghidu aroma kopi”. Dia mengira itu tipo alias salah tik sebab ungkapan yang lebih tepat menurutnya adalah ”menghirup kopi”, analog dari ”menghirup udara segar”. Benar begitu?

Baca lebih lanjut

Perbedaan Namun, Akan Tetapi, dan Tetapi (Tapi)

Kusnadi (Kompas.id, 5 Des 2020)

Jika mencermati tulisan-tulisan yang terbit di media massa, ada kecenderungan penggunaan kata hubung tidak diperhatikan. Fakta yang sama sebetulnya dapat kita temukan juga pada artikel-artikel yang beredar di kalangan kampus.

Barangkali karena masalah bahasa di seputar kita sudah terlalu banyak, urusan pemakaian kata hubung itu diabaikan. Contoh dari pengabaian itu, misalnya, terjadi dalam penggunaan kata hubung namun, akan tetapi, dan tetapi (tapi).

Sumber gambar: Kompas

Baca lebih lanjut

Kotak Kosong

Samsudin Adlawi (Majalah Tempo, 5 Des 2020)

Drama selalu mewarnai hajatan pesta demokrasi. Pemilihan kepala daerah serentak 9 Desember 2020 juga tidak luput dari drama. Bahkan, kali ini dramanya bakal lebih seru.

Keseruan itu disebabkan oleh makin banyaknya calon tunggal dibanding beberapa pilkada sebelumnya. Setidaknya ada 28 calon tunggal dalam pilkada serentak 2020. Mereka tersebar di 23 kabupaten dan 5 kota. Total ada 270 daerah yang menggelar pilkada. Perinciannya: 9 provinsi akan memilih gubernur-wakil gubernur, 224 kabupaten memilih bupati-wakil bupati, dan 37 kota memilih wali kota-wakil wali kota.

Baca lebih lanjut

Pelakor dan Misogini

Samsudin Berlian (KOMPAS, 30 Nov 2020)

Pelakor atau perebut laki orang berada di barisan istilah dan ungkapan yang—secara denotatif dan konotatif—menghinakan perempuan berkenaan dengan kedudukannya di dalam masyarakat bervisi laki-laki. Barisan misoginistik itu termasuk (tapi, tentu saja tidak terbatas pada) perusak rumah tangga, penggoda, janda kembang, gatal, penjual diri, dan ibu tiri.

Sumber Ilustrasi: Tribunnews

Baca lebih lanjut

Masker dan Kluster

Ahmad Sahidah (Majalah Tempo, 28 Nov 2020)

Salah satu alat pelindung diri yang sangat populer adalah masker. Kita sejatinya mengenal penutup mulut dan hidung ini sebelum virus korona merebak. Biasanya masker digunakan oleh dokter gigi yang sedang memeriksa karang dan kerak pasien atau polisi yang menjaga jalan persimpangan untuk mengatur kelancaran lalu lintas. Maklum, jalan kita tidak sehat karena polusi udara kadang melebihi ambang batas aman.

Sumber Ilustrasi: Dreamstime

Baca lebih lanjut

Pasca, Paska, Sesudah, atau Setelah?

Lucia Dwi Puspita Sari (KOMPAS, 21 Nov 2020)

Bentuk terikat pasca sering muncul dalam tulisan di media massa dan media lainnya. Kata yang bermakna ’sesudah’ atau ’setelah’ ini kadang muncul pula dalam bentuk lain, yakni paska-. Kata yang terakhir ini muncul karena mengikuti ujaran orang yang belum mengetahui asal-usul pengucapan kata pasca-.

Baca lebih lanjut