Belajar dari Bahasa Ibrani

Ibnu Burdah*, Kompas, 20 Mei 2017

Dari dalam maupun dari luar, bahasa Indonesia mengalami tekanan yang hebat. Tekanan dari luar berupa penetrasi bahasa-bahasa dominan dunia yang makin intensif dan masif di dunia nyata maupun virtual. Media baru memperdalam penetrasi ini. Bahasa-bahasa kuat itu dahulu adalah Arab dan Belanda, sekarang Inggris, mungkin sebentar lagi Mandarin. Bahasa India dan Korea juga berpotensi untuk itu. Dari dalam, bahasa Indonesia mengalami tekanan sangat besar pula dengan meluasnya penggunaan slang yang makin mendesak ranah bahasa Indonesia baku dan sikap bangsa ini terhadap bahasanya.

Baca lebih lanjut

Iklan

Korupsi Tanpa Koruptor

Seno Gumira Ajidarma*, Majalah Tempo, 15 Mei 2017

Semenjak Komisi Pemberantasan Korupsi dibentuk pada 2003, kata “korupsi” dan “koruptor” semakin merasuk ke kosakata perbincangan, dengan nada lebih optimistis dibanding komisi-komisi sejenis semasa Orde Baru. Perbedaannya memang jelas, pada masa Orde Baru pembentukan komisi semacam itu hanyalah manuver dari rezim korup, semacam kosmetik kepantasan dalam struktur pemerintahan. Lima tahun setelah Reformasi 1998, pembentukan KPK yang dilengkapi sarana mencukupi untuk kerja investigasi, dengan hasil konkret dari saat ke saat, menghapus sinisme dan skeptisisme yang barangkali sempat muncul.

Baca lebih lanjut

Celoteh

Indra Tranggono*, KOMPAS, 13 Mei 2017

Celoteh atau ocehan kini mendapat istilah baru, yaitu cuitan atau kicauan (versi Twitter) dan status (versi Facebook). Celoteh atau ocehan merupakan istilah khas yang muncul dari praktik berbahasa dalam komunikasi konvensional alias tatap muka. Dalam dunia digital, komunikasi tatap muka sering disebut komunikasi luring, luar jaringan. Yakni, komunikasi langsung, nyata (lawan dari maya), dan autentik (lawan dari semu, palsu). Di sana pihak-pihak yang berkomunikasi hadir secara manusiawi, menyosok secara multidimensional, memiliki gagasan, berperasaan, berekspresi, dan beridentitas (bukan anonim).

Baca lebih lanjut

Tambang Tarik, Ojek Taksi

Zen Hae*, Majalah Tempo, 8 Mei 2017

Taksi berbasis aplikasi, baik mobil maupun sepeda motor, adalah kelanjutan dari budaya sewa-menyewa dalam masyarakat kita. Di masa lalu, ketika sepeda motor dan mobil belum menjadi alat transportasi umum, orang di Nusantara menyewa bendi atau yang sejenisnya, bahkan perahu, untuk bepergian ke lain tempat. Istilah yang digunakan belum lagi “ojek” atau “taksi”, melainkan “tambang”. Dalam bahasa Indonesia dan Malaysia, tambang adalah nomina bermakna banyak. Terkait dengan transportasi, ia kurang-lebih bermakna “kendaraan yang disewakan untuk mengangkut orang atau barang”, “orang yang menumpang atau barang muatan”, dan “ongkos menumpang”.

Baca lebih lanjut

Salah Ampunan

Adang Iskandar*, Media Indonesia, 7 Mei 2017

PEMERINTAH tengah gencar melakukan pembangunan infrastruktur. Tentu saja diperlukan anggaran yang sangat besar untuk mendukung pembangunan itu. Salah satu yang diandalkan ialah penerimaan negara dari sektor pajak. Pemerintah pun, melalui Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, mengeluarkan kebijakan berupa program pengampunan pajak (tax amnesty) atau sering disebut amnesti pajak.

Baca lebih lanjut

Memanjatkan Doa

Damiri Mahmud*, KOMPAS, 6 Mei 2017

Dalam koran dan majalah sudah jarang sekali kita membaca kontur “memanjatkan doa”, apalagi dalam media cetak di Medan. Frasa itu dihindari dan telah menjadi semacam tabu karena ulah seorang ahli bahasa yang sangat kondang suatu ketika. Logikanya begini: “Apakah doa itu sejenis beruk yang kita suruh memanjat pohon kelapa lalu sampai di atas memetik buahnya dan melemparkannya ke bawah lalu kita memungutnya?” (lihat: Kiliran Jasa Seorang Guru Bahasa, Depdiknas, Pusat Bahasa, Balai Bahasa Sumatera Utara, Medan, 2005, hlm 76). He-he-he, betul juga!

Baca lebih lanjut

(Laki-Laki) Feminis

Hendri Yulius*, Majalah Tempo, 1 Mei 2017

Bila Hari Kartini selalu identik dengan kesetaraan gender untuk perempuan, kini sudah saatnya untuk memulai percakapan tentang isu gender dan laki-laki. Tidak mengherankan bila selama ini isu gender selalu dipersamakan dengan isu “perempuan”. Sebab, beragam wacana gender yang beredar di ruang publik selalu berkisah tentang tuntutan perempuan atas representasi jenis kelaminnya di parlemen atau kebijakan khusus untuk melindungi perempuan dari kekerasan dan pelecehan seksual. Setidaknya itulah yang muncul ke permukaan umum, yang semakin lama memperkuat asumsi bahwa istilah gender sama dengan perempuan.

Baca lebih lanjut

Promo KTP-el

Suprianto Annaf (Media Indonesia, 30 Apr 2017)

Pelabelan yang menyertai kartu tanda penduduk kian semena. Di awal peralihan ke sistem elektronik, pelabelan yang menempeli KTP terkesan keinggris-inggrisan. Masif benda itu disebut E-KTP (electronic KTP). Entah sekadar gengsi-gengsian, semua seperti lupa bahwa kata asing electronic telah lama diserap dan menjadi lema dalam KBBI. Artinya, tidak seharusnya KTP dilabeli E-KTP, tetapi langsung KTP elektronik.

Baca lebih lanjut

Bacalah! Jangan!

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 29 Apr 2017

Sudah waktunya kita saling menasihati untuk jangan membaca terlalu banyak. Oh, ini bukan soal aktivisme. Baca melulu. Kerja kapan? Bukan, bukan itu. Sebagai pemalas besertifikat, penulis merasa bertanggung jawab menjelaskan bahwa sebagian besar, kalau bukan semua, aktivis merasa perlu, dan tampak, bekerja sangat keras superaktif sepanjang waktu karena mereka tidak bisa memikirkan cara mencapai hasil terbaik dengan tenaga dan waktu minimum. Ibaratnya, menulis kolom selama tujuh hari tujuh malam sebulan sebelum tenggat. Penulis yang cerdas akan mulai berpikir satu jam sebelum batas waktu. Hasilnya sama. Masuk koran. Esoknya dilupakan orang. Honor jumlah sama masuk rekening. Begitulah. Kolumnis rajin yang tersinggung sila pergi sana naik sepeda, biar aktif.

Baca lebih lanjut

Menerjemahkan atau Menjinakkan Kartini?

Joss Wibisono*, Majalah Tempo, 24 Apr 2017

Menerjemahkan sebuah naskah adalah mencari padanan kata, kalimat, atau ungkapan bahasa yang digunakan dalam naskah itu ke dalam bahasa lain. Padanan di sini mensyaratkan persamaan yang setaraf, yang berimbang atau berbobot sama. Lebih dari itu, penerjemahan juga mensyaratkan pemahaman nuansa sebuah tulisan; terjemahan yang berhasil akan berhasil pula menerjemahkan nuansa sebuah karya, apalagi kalau karya itu berbobot sastra.

Baca lebih lanjut