Zalimis

Samsudin Berlian* (Kompas, 3 Jun 2017)

Telah lahir pada hari ini istilah baru yang sangat perlu dipahami dalam diskursus sosial politik Indonesia kontemporer. Berikut lema dalam “Kamus Besok Bahasa Indonesia” dan satu kutipan pencerah.

za.li.mis

1. n orang atau kelompok yang zalim; pezalim

2. n orang atau kelompok yang (dianggap) sangat melampaui batas perikemanusiaan dalam bertindak zalim

3. n orang atau kelompok yang menganut, mendukung, membela, dan atau mengembangkan ideologi zalimisme dalam politik

Baca lebih lanjut

Iklan

Provokasi dan Kritik

Ahmad Sahidah* (Majalah Tempo, 29 Mei 2017)

Bahasa kita menyerap bahasa asing sebagai salah satu cara untuk memperkaya perbendaharaan kata. Mengingat lema asal mempunyai pandangan dunia sendiri, maknanya tentu tak sepenuhnya hadir dalam pikiran pengguna bahasa sasaran, baik dalam tulisan maupun lisan. Pendek kata, ada pengertian yang tak terangkut dalam kata yang diserap, sehingga secara otomatis turut memengaruhi pemahaman.

Baca lebih lanjut

Akronim Ramadan

Encep Abdullah* (Pikiran Rakyat, 28 Mei 2017)

Ramadan adalah bulan yang penuh berkah. Salah satunya berkah akronim. Akronim yang paling populer di telinga kita, antara lain kultum, sanlat, dan bukber. Barangkali Anda menemukan akronim lain, mohon kabari saya (encepabdullah@rocketmail). Siapa tahu tulisan ini masih bisa saya edit lagi. Bila tak ada, saya lanjutkan saja.

Baca lebih lanjut

Secara Terpisah

André Möller* (Kompas, 27 Mei 2017)

Ketika saya membaca koran berbahasa Indonesia atau menonton TV Indonesia (mengapa RRI masih begitu susah disimak secara daring?), saya sering mendengar istilah secara terpisah. Biasanya si wartawan menghubungi seorang pakar dan setelah itu secara terpisah ia menghubungi seorang pakar lain yang mendukung ataupun membantah pendapat pakar pertama. Bisa juga, pakar pertama menyatakan sesuatu, dan secara terpisah pakar kedua menyatakan hal yang sama ataupun hal terbalik. Menurut saya, istilah secara terpisah ini memiliki dua masalah: secara dan terpisah.

Baca lebih lanjut

Pada Kecepatan Mereka Mengabdi

Hermien Y. Kleden* (Majalah Tempo, 22 Mei 2017)

Pesan WhatsApp ini sering muncul di layar telepon seluler saya, sepintas mirip kode-kode ilmu nujum: “klo mo mkn dtg y, jgn php pls!” Lain hari muncul teks dalam bahasa Inggris: “Hi, w r y? PS: I’ll brb & tty abt dat 2day. Tx!” Di masa awal-awal dulu, teks yang membikin migrain ini saya kira salah ketik atau typo belaka. Seorang reporter muda di kantor redaksi kami menjelaskan kepada saya, huruf-huruf itu bukanlah typo. Dia lantas “menerjemahkan”-nya dengan cepat dan enteng:

Baca lebih lanjut

Sekolah, Bahasa Ibu, Bahasa Indonesia

Encep Abdullah* (Riau Pos, 21 Mei 2017)

Setidaknya, selama lima tahun saya pernah malang melintang menjadi pengajar bahasa Indonesia di beberapa bagian wilayah Banten. Sejak mahasiswa saya sudah mengajar di tempat bimbel. Di tempat bimbel itu saya tidak hanya mengajar di Serang, tetapi juga di Cilegon, Rangkasbitung, Pandeglang, bahkan pernah dikirim ke Tangerang, Indramayu, dan Bekasi. Tentu hal itu menjadi pengalaman tersendiri bagi saya, terutama ihwal perjalanan saya menekuni dunia mengajar dan bahasa. Dari beberapa tempat yang saya datangi itu, tak ada masalah mengenai komunikasi berbahasa Indonesia saya dengan peserta didik meskipun dalam keseharian mereka mungkin terbiasa menggunakan bahasa daerah. Mereka mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, malah mungkin mereka juga lebih pandai berbahasa asing ketimbang saya.

Baca lebih lanjut

Kutemui Ribuan Kontaminasi

Henry Bachtiar*, Media Indonesia, 21 Mei 2017

Kontaminasi adalah gejala bahasa yang dalam bahasa Indonesia diistilahkan dengan keran­cuan (kekacauan). Kerancuan itu muncul karena susunan unsur bahasa yang tidak tepat, seperti morfem dan kata. Menurut J.S. Badudu, kerancuan dalam bahasa Indonesia dibedakan menjadi tiga macam: kontaminasi bentuk kata, bentuk frasa, dan bentuk kalimat.

Baca lebih lanjut

Belajar dari Bahasa Ibrani

Ibnu Burdah*, Kompas, 20 Mei 2017

Dari dalam maupun dari luar, bahasa Indonesia mengalami tekanan yang hebat. Tekanan dari luar berupa penetrasi bahasa-bahasa dominan dunia yang makin intensif dan masif di dunia nyata maupun virtual. Media baru memperdalam penetrasi ini. Bahasa-bahasa kuat itu dahulu adalah Arab dan Belanda, sekarang Inggris, mungkin sebentar lagi Mandarin. Bahasa India dan Korea juga berpotensi untuk itu. Dari dalam, bahasa Indonesia mengalami tekanan sangat besar pula dengan meluasnya penggunaan slang yang makin mendesak ranah bahasa Indonesia baku dan sikap bangsa ini terhadap bahasanya.

Baca lebih lanjut

Korupsi Tanpa Koruptor

Seno Gumira Ajidarma*, Majalah Tempo, 15 Mei 2017

Semenjak Komisi Pemberantasan Korupsi dibentuk pada 2003, kata “korupsi” dan “koruptor” semakin merasuk ke kosakata perbincangan, dengan nada lebih optimistis dibanding komisi-komisi sejenis semasa Orde Baru. Perbedaannya memang jelas, pada masa Orde Baru pembentukan komisi semacam itu hanyalah manuver dari rezim korup, semacam kosmetik kepantasan dalam struktur pemerintahan. Lima tahun setelah Reformasi 1998, pembentukan KPK yang dilengkapi sarana mencukupi untuk kerja investigasi, dengan hasil konkret dari saat ke saat, menghapus sinisme dan skeptisisme yang barangkali sempat muncul.

Baca lebih lanjut

Celoteh

Indra Tranggono*, KOMPAS, 13 Mei 2017

Celoteh atau ocehan kini mendapat istilah baru, yaitu cuitan atau kicauan (versi Twitter) dan status (versi Facebook). Celoteh atau ocehan merupakan istilah khas yang muncul dari praktik berbahasa dalam komunikasi konvensional alias tatap muka. Dalam dunia digital, komunikasi tatap muka sering disebut komunikasi luring, luar jaringan. Yakni, komunikasi langsung, nyata (lawan dari maya), dan autentik (lawan dari semu, palsu). Di sana pihak-pihak yang berkomunikasi hadir secara manusiawi, menyosok secara multidimensional, memiliki gagasan, berperasaan, berekspresi, dan beridentitas (bukan anonim).

Baca lebih lanjut