September

Bandung Mawardi*, Majalah Tempo, 28 Sep 2015

Ilustrasi: Artboiled

Sejarah Indonesia memuat polemik singkatan dan akronim untuk menjelaskan kejadian. Kemunculan singkatan dan akronim membuat sejarah menjadi ringkas dalam penulisan atau pengucapan. Singkatan tak selalu berirama. Akronim cenderung bernada-berirama. Di Indonesia, pembuat singkatan dan akronim memiliki pamrih-pamrih ideologi, linguistik, dan sejarah. Mereka turut mendefinisikan kejadian sebelum terpahamkan sebagai sejarah bergelimang makna. Singkatan dan akronim tak cuma mendokumentasikan kejadian berwujud ringkas, tapi juga berperan sebagai alat atau modal pengisahan sejarah.

Baca lebih lanjut

BAPPENAS atau Bappenas?

Agung Y. Achmad*, Majalah Tempo, 26 Jan 2015

Ilustrasi: Tanah Air News

Pernahkah Anda, ketika melewati Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, memperhatikan bangunan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional? Pada wajah depan bangunan tersebut tertulis “Badan Perencanaan Pembangunan Nasional”, sementara pada bagian atas lantai dasar terpampang kata “BAPPENAS”—ukuran huruf B lebih besar ketimbang huruf-huruf di belakangnya—yang merupakan singkatan nama institusi tersebut.

Baca lebih lanjut

Dari VOC ke Bahenol

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 1 Nov 2014

Penduduk Nusantara sudah mengenal bentuk singkat kata setidaknya sejak 1602 ketika VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie, Kongsi Perdagangan Hindia Timur) membuka jalan bagi masuknya imperialisme Belanda di zamrud khatulistiwa. Singkatan memuat satu unit pengertian utuh, maka ia punya perilaku persis kata. Seperti kata, kemunculan singkatan didorong oleh keperluan pengguna bahasa mendapatkan tanda atau lambang yang bisa mewakili idenya guna mengungkapkan sesuatu. Sudah tentu isi tanda atau lambang itu berpaut erat dengan zamannya.

Baca lebih lanjut

Politik dan Akronim

akronim-politik

Rocky Gerung*, Majalah Tempo, 29 Sep 2014

KontraS adalah akronim dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan. Itu resminya. Tapi sebetulnya ada sugesti subversif pada huruf S di ujung akronim: Soeharto. Jadi harus dibaca: Kontra-Soeharto. Memang demikianlah konteksnya.

Di hari pertama Orde Baru menetapkan larangan demonstrasi pada 23 Februari 1998, sejumlah aktivis perempuan Jakarta justru melawannya dengan turun berdemonstrasi di Bundaran Hotel Indonesia membawa bendera Suara Ibu Peduli. Tuntutan mereka: “Turunkan Harga Susu”. Dalam hari-hari rapat persiapan demo itu, yang dimaksud sebetulnya adalah “Turunkan Soeharto”.

Baca lebih lanjut

Pil Pilu Pemilu

Zen Hae* (Majalah Tempo, 24 Feb 2014)

Pemilihan umum (pemilu) bukan hanya pesta demokrasi, tapi juga pesta akronim (dan singkatan). Menjelang dan saat pemilulah kita menyaksikan bangsa kita memproduksi akronim secara besar-besaran. Pemilu itu adalah sebuah akronim, begitu juga tahapan dan perangkatnya: pemilukada atau pilkada, pileg, pilpres, pilwalkot, luber jurdil, parpol, bawaslu/panwaslu, balon, dapil, caleg, capres/cawapres, cagub/cawagub, cabup/cawabup, pantarlih, dan seterusnya.

Tengok juga bagaimana para pasangan (calon) pemimpin menamai diri mereka: WIN-HT (Wiranto-Hary Tanoe), Aman (Annas Maamun-Arsyadjuliandi Rachman), KarSa (Soekarwo-Saifullah Yusuf), sementara pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman Sumawireja berakronim “Berkah”. Adapun Joko Widodo menjadi “Jokowi”, tapi Basuki Tjahaja Purnama malah dipanggil “Ahok”, tidak diakronimkan dengan “Bacapur” atau “Basunama”.

Baca lebih lanjut

Colenak, Batagor, Misro

Majalah Tempo, 4 Nov 2013. Rainy M.P. Hutabarat, Pekerja media dan penulis

Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa telah mencantumkan banyak akronim baru. Rudal (peluru kendali), berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), sinetron (sinema elektronik), cerpen (cerita pendek), dan sendratari (seni drama dan tari) hanyalah beberapa contoh.

Karena gemar makanan dan penasaran, saya pun menyu­suri akronim nama-nama makanan dalam kamus tersebut. Beberapa nama penganan terekam: dicocol enak disingkat colenak, yakni “penganan, dibuat dari singkong yang dibakar dan dicocolkan ke kinca (cairan dari gula merah)”; bakso tahu goreng (batagor), “makanan khas Bandung yang dibuat dari tahu berisi adonan bakso kemudian digoreng, diberi kuah kacang atau kuah bakso”; aci dicolok (cilok), “bakso yang dibuat dari tepung kanji dan dihidangkan dengan ditusuk seperti satai”; amis di jero (misro), “penganan dibuat dari singkong dan gula merah yang digoreng seperti comro”; dan oncom di jero (comro), “penganan dari singkong yang diparut, dibentuk bulat panjang, di dalamnya diisi oncom yang dibumbui, kemudian digoreng”. Uniknya, semua akronim itu merupakan nama penganan Sunda.

Baca lebih lanjut

Akronim Gaya Mahasiswa

Majalah Tempo, 24 Mar 2013. Kasijanto Sastrodinomo, Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

MahasiswaTak ingin terlambat, Popo bergegas menuju ruang kelasnya. “Kuliah apa, Po?” tanya temannya yang berpapasan di selasar Gedung II kampusnya. “Semprak,” jawab singkat mahasiswa sastra Jerman itu. “Di mana?” tanya temannya lagi. “Geli, eh, gempa,” setengah berlari Popo masih sempat menjawab. Si teman pun berlalu sambil berujar, “Aku (kuliah) di gelap.” Bagi yang bingung menangkap arah pembicaraan itu, inilah penjelasannya: semprak adalah akronim “Semantik dan Pragmatik Bahasa”, nama salah satu mata kuliah program studi linguistik; geli adalah ringkasan “gedung lima” (Gedung V), lokasi ruang kelas; sedangkan gempa adalah “gedung empat”; dan gelap itu “gedung delapan”.

Baca lebih lanjut

Soak

KOMPAS, 18 Jan 2013. Kurnia JR, Pujangga.

Akronim soakKetika membaca sebuah berita di lembaran ”Kabar Jabar” koran Republika terbitan 26 Desember 2012 halaman 26, saya dihentikan oleh sepotong kata: rutilahu. Saya balik ke awal. Ternyata rutilahu itu akronim dari rumah tidak layak huni.

Saya tidak tahu apakah faktor ”Jabar” yang memicu ”kreativitas” penciptaan akronim baru ini. Maklum, saya terkesima melihat suburnya akronim di masyarakat Priangan. Dimulai dari akronim comro dan misro. Comro (oncom di jero atau oncom di dalam) adalah gorengan dari singkong parut berisi oncom, sedangkan misro (amis di jero atau manis di dalam) berisi gula aren.

Baca lebih lanjut

Fonotaktik dalam Akronim

Pikiran Rakyat, 23 Des 2012. Setyadi Setyapranata, dosen Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang.

Sumber gambar: Gillian Adonis

Meskipun masalah fonotaktik dalam akronim ini sudah sering dibicarakan, baik secara “ilmiah” maupun secara populer, masih saja banyak muncul akronim yang sebenarnya menyimpang dari kaidah bahasa Indonesia yang baik.  Sayangnya, di Indonesia pembentukan akronim dilakukan hampir tanpa aturan, meskipun ada pedoman yang mengaturnya, dan juga sudah banyak sekali keluhan dan kritik tentang membanjirnya akronim jelek di masyarakat. Lebih disayangkan lagi, akronim semacam itu justru banyak dicipta oleh instansi resmi, misalnya militer, bahkan Kementerian Pendidikan Nasional yang sebenarnya paling berwenang dalam urusan bahasa nasional.

Baca lebih lanjut