Takut Dosa

Holy Adib* (Pikiran Rakyat, 13 Nov 2016)

Masih banyak masyarakat Indonesia, terutama yang muslim, bingung menggunakan kata serapan bahasa Arab. Mereka takut berdosa bila menulis kata serapan bahasa Arab tidak sesuai dengan makhraj dalam bahasa asalnya. Sebagai contoh, mereka menulis salat dengan shalat, kalbu dengan qalbu, ustaz dengan ustadz, dan Ramadan dengan Ramadhan.

Baca lebih lanjut

Iklan

Keamanan Bahasa

Ibnu Burdah*, KOMPAS, 5 Des 2015

Dahulu pembicaraan tentang pertahanan keamanan pasti terkait dengan militer. Isu keamanan dalam perkembangannya kemudian meluas mencakup pangan, air, lingkungan, dan seterusnya. Abdussalam Masdiy, Guru Besar Linguistik Universitas Tunis, menambahkan satu lagi isu: keamanan bahasa nasional. Dalam buku Huwiyyah al-Arabiyyah wal Amni al-Lughawiy atau Identitas Arab dan Keamanan Bahasa, ia menegaskan, persoalan yang sedang dihadapi bahasa-bahasa nasional adalah persoalan politik, kesadaran para pengambil keputusan dan masyarakat pada umumnya tentang pentingnya menjaga bahasa nasional.

Baca lebih lanjut

Arabisme dan Keindonesiaan

Ahmad Sahidah*, Majalah Tempo, 22 Sep 2014

Dalam rubrik “Memoar” majalah Tempo edisi 25-31 Agustus 2014, Ali Audah dianggap sebagai pekerja bahasa yang piawai karena berhasil menerjemahkan buku Arab ke dalam bahasa Indonesia yang baik. Menariknya, betapapun penerjemah ini berketurunan Arab, lelaki kelahiran Bondowoso tersebut berusaha untuk tidak kearab-araban. Sepertinya ia sadar bahwa bahasa itu hanya alat berkomunikasi, sehingga terjemahan dalam bahasa setempat itu mungkin. Betapapun bahasa Indonesia banyak menyerap kata dari bahasa rumpun Semitik ini, bahasa Melayu sejatinya mengandaikan asal-muasal Sanskerta yang kental.

Baca lebih lanjut

Pahlawan: Syahadah atau Martir?

Husein Ja’far Al-Hadar* (Majalah Tempo, 2 Des 2013)

Dalam doktrin dan tradisi Islam, siapa saja yang gugur di jalan kebenaran, kemerdekaan, pembebasan, dan keadilan disebut sebagai “syahid” atau “martir”, baik pejuang agama, bangsa, maupun nilai-nilai luhur. Sepintas lalu, kedua kata itu seolah-olah sama, hanya berbeda bahasa. Namun, menurut Ali Syariati, filsuf dan sosiolog dari Iran, dalam Martyrdom: Arise and Bear Witness (terjemahan: Kemuliaan Mati Syahid, 2003), pada dasarnya, jika dirujuk pada asal kata masing-masing, kedua kata itu “syahid” (berasal dari bahasa Arab: syahida-yasyhadu-syahadatan) dan “martir” (berasal dari bahasa Inggris: martyr) memiliki dua makna yang tidak hanya berbeda, tapi juga bertentangan.

Dalam tradisi kebahasaan Barat dan Eropa, martyr berarti orang yang memilih mati dalam membela keyakinan melawan musuh-musuhnya (jalan satu-satunya yang harus ditempuh adalah mati). Sedangkan syahadah dalam kultur Arab-Islam berarti “bangkit, bersaksi” (untuk kebenaran, keadilan, kemerdekaan, kemanusiaan, dan lain-lain), meskipun digunakan juga untuk menamai seseorang yang telah menetapkan kematian sebagai pilihan (Kemuliaan Mati Syahid, halaman 33-34). Maka kata martyrdom (martyr dari kata mortal) yang bermakna “maut” atau “mati” justru bertentangan dengan syahadah yang bermakna “hidup, bangkit, dan kesaksian”.

Baca lebih lanjut

Sekat Kultural Istilah Agama

Rohman Budijanto* (Majalah Tempo, 21 Jul 2013)

SAAT ujian bahasa Indonesia sekolah menengah atas, saya pernah menemukan soal seperti ini. Dari bahasa apa kata agama, pahala, dosa, surga, dan neraka? Jawabannya pilihan ganda: Arab, Inggris, Belanda, Sanskerta. Ini soal yang cukup menjebak. Lima kata tadi lebih mudah diasosiasikan berasal dari bahasa Arab, karena para pengkhotbah dan dai sering menyebutkannya. Namun, jika dikaji sedikit lebih dalam, mudah diketahui kata-kata itu berasal dari bahasa Sanskerta atau bahasa kultural Hindu.

Kelima kata tersebut juga serumpun dengan kata sembahyang. Kaum muslim puritan mulai meninggalkan kata bentukan yang melibatkan bahasa Sanskerta ini, karena dimaknai berasal dari kata sembah dan hyang. Tuhan dalam Islam tak disebut hyang, tapi ini sebutan untuk umat Hindu. Lagi pula, kalau muslim mau menyesuaikan kata sembahyang dengan sembahallah, misalnya, agak terlalu memaksa. Karena itulah kata sembahyang kerap diganti dengan istilah asli dari bahasa Arab, yakni shalat atau salat atau sholat, sesuai dengan ejaan yang disukai.

Baca lebih lanjut

Di Mana Tu(h)an?

Qaris Tajudin* (Majalah Tempo, 5 Mei 2013)

Bulan lalu saya Jumatan di sebuah masjid dengan nama yang cukup indah, Taman Ibadah. Agak jarang tempat ibadah umat Islam memakai nama dari bahasa Indonesia. Hampir semua masjid memakai nama dari bahasa Arab, seperti At-Taqwa (nama paling banyak dipakai untuk masjid Muhammadiyah), Al-Muhajirin (biasanya di kompleks perumahan, karena berarti orang-orang yang pindah), dan Masjid Al-Qithaar (artinya kereta api, karena terletak di dekat stasiun di Surabaya).

Khatib berkhotbah tentang keimanan dan kepatuhan kepada Tuhan. Tapi, sepanjang ceramah, dia sama sekali tidak menyebut kata Tuhan. Ini bukan pertama kali saya mendengar ceramah dari seorang mubalig yang alergi pada kata Tuhan. Dan alasan yang saya dengar dari mereka yang menolak menyebut Tuhan ini agak aneh: “Seharusnya kita menyebut Allah, bukan Tuhan. Karena Tuhan itu bisa berarti banyak, sedangkan Allah hanya satu.” Agak ganjil. Bukankah, dalam iman tauhid, Tuhan itu hanya satu? Artinya, kita tak perlu khawatir akan tertukar oleh Tuhan lain saat menyebut kata Tuhan.

Baca lebih lanjut

Ustad dan Ulama

Majalah Tempo, 3 Mar 2013. Samsudin Adlawi, Wartawan Jawa Pos dan Penyair

Al-Munawwir“Jika keberatan dengan proses penahanan, kami mempersilakan kuasa hukum Ustad Luthfi mengajukan praperadilan.” Kata ustad dalam pernyataan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham Samad sebagaimana dikutip Jawa Pos (7 Februari 2013) itu menarik untuk ditelisik. Kata ustad adalah serapan dari bahasa Arab yang dalam kalimat tersebut digunakan kurang tepat. Bukan lantaran Luthfi Hasan Ishaaq (mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera) sedang terjerat kasus dugaan korupsi impor daging sapi, melainkan kurang akurat dilihat dengan kacamata bahasa.

Dalam kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia, lema ustad diterjemahkan sebagai “guru” dalam arti yang luas. Guru atau dosen mata pelajaran/mata kuliah apa saja, tidak sebatas guru yang mengajarkan pelajaran agama. Orang yang mengajar bahasa Indonesia, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, dan matematika layak menyandang sebutan ustad.

Baca lebih lanjut