Randedhit

Sapardi Djoko Damono*, Majalah Tempo, 14 Mar 2016

Pada suatu hari beberapa puluh tahun yang lalu, tiga orang Jawa ngobrol di sebuah kampus. Saya salah seorang di antaranya. Meskipun menetap di Jakarta, kami lebih sering menggunakan bahasa Jawa. Obrolan lancar-lancar saja sampai ketika saya mengucapkan kata randedhit. Salah seorang, yang berasal dari Solo, memahami arti kata itu, tapi orang Jawa yang lain, yang dibesarkan di Kediri, bertanya (dalam bahasa Jawa) apa arti kata itu. Rekan saya yang dari Solo menjelaskan, kata itu berarti “tidak punya uang”, kependekan dari ora duwe dhuwit. Seandainya kami mencari kata itu di kamus bahasa Jawa, tentu sia-sia saja usaha itu. Tentu kita berhak bertanya, mengapa demikian. Letak masalahnya tidak pada perbedaan asal kami, atau pada beragamnya bahasa Jawa, tapi pada perbedaan antara bahasa lisan dan tulis.

Baca lebih lanjut

Iklan

Dèdèl-Duèl

Kasijanto Sastrodinomo* (Majalah Tempo, 30 Sep 2013)

Di ambang siang, Lebaran lalu, saya menyambangi Mbah Waginem, penganyam tikar pandan di kaki Bukit Menoreh, Magelang, Jawa Tengah. Simbah merupakan salah seorang di antara sedikit pelaku sejarah wong cilik yang masih hidup sejak masa akhir Hindia Belanda. Menurut laporan pemerintah kolonial, setidaknya sejak pertengahan abad ke-19, kerajinan anyaman (vlechtwerk), seperti tas tangan dan topi, di kawasan itu berkembang sebagai produk ekspor. Ribuan peti chapeaux topi modis wanita yang berton-ton beratnya dikapalkan melalui Batavia ke rumah-rumah mode di Prancis dan beberapa kota besar di Amerika Serikat, Turki, dan Australia.

Namun kejayaan itu kini memudar. Siang itu, di rumahnya yang sederhana, Simbah tidak sedang menganyam lembaran daun pandan, tapi dondom menjahit secara manual kebayanya yang dia katakan “dèdèl-duèl” semua. Lalu ia menunjukkan, mungkin pula membanggakan, selembar tikar pandan yang tergelar di atas amben tempat tidurnya adalah hasil anyamannya sendiri. Tempat tidur itu cuma beralas galar bambu tanpa kasur. “Lha, kasurnya ya wis dèdèl-duèl kabèh,” ujar Simbah terkekeh. Beringsut ke bagian belakang rumah, sambil menjerang air kopi, dia menunjuk sebagian gedèk dapurnya yang juga dia sebut dèdèl-duèl karena dimangsa waktu.

Baca lebih lanjut

Sejarah Bahasa, Sejarah Pertikaian

Bandung Mawardi* (Majalah Tempo, 1 Agu 2013)

Sejarah penelitian bahasa Jawa Kuno atau Kawi, sejak abad XIX, mengandung pertikaian di kalangan ahli bahasa. Kita bisa mengingat pertikaian mereka sebagai bukti kebermaknaan penguasaan bahasa Jawa Kuno. A. Teeuw (1975) mengingatkan bahwa penguasaan bahasa Jawa Kuno merupakan modal besar dalam penelitian bahasa-bahasa di Indonesia, dari masa lalu sampai abad XX. Kalangan sarjana Eropa bersaing untuk menjadi pakar bahasa Jawa Kuno. Mereka bermisi sama, menguak misteri bahasa Jawa Kuno dan membuat “pembakuan” mengacu pada kepentingan kolonial dan sebaran agama Kristen di Indonesia.

Tarco Roorda, Thomas Stamford Raffles, Wilhelm van Humboldt, H. Kern, dan Herman Neurbronner Van der Tuuk adalah sederet nama dalam pertikaian otoritas penguasaan bahasa Jawa Kuno. Mereka adalah ahli, mengurusi bahasa Jawa Kuno untuk digunakan membaca sejarah, sastra, politik, agama, ekonomi, adab di Jawa dan Indonesia. Tarco Roorda (1801-1874) dan H.N. Van der Tuuk (1824-1894), dua ahli bahasa Jawa Kuno, berseteru sengit demi ilmu dan harga diri. Ikhtiar memahami bahasa Jawa Kuno berimbas ke polemik kontroversial dengan melibatkan gereja, universitas, dan pemerintah kolonial.

Baca lebih lanjut

‘Pinter’ dan ‘Begjå’

Majalah Tempo, 10 Feb 2013. Kasijanto Sastrodinomo, Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

BejoSUPAYA terkesan pintar, hampir saban hari saya minum jamu usir angin seperti yang diiklankan seorang dokter jelita di layar televisi. Barangkali saya cuma kesengsem oleh kata-katanya yang berusaha meyakinkan konsumen. Kata Bu Dokter, untuk menghalau angin dari tubuh, banyak orang pintar minum jamu antiangin yang dia iklankan. Jadi, orang yang menenggak jamu itu pastilah tergolong pintar. Adjektif pintar, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, berarti pandai, cakap, cerdik, dan mahir. Maka pintar dalam iklan jamu itu bisa ditafsirkan, katakanlah, (orang yang) piawai memilih cara mangkus untuk menggusur angin yang bersarang di tubuh.

Belakangan muncul produk jamu sejenis dari produsen lain yang dijajakan aktor pelucu asal Yogyakarta, lalu disusul seorang pengusaha ayam olahan bercelana pendek. Jargon iklannya pun berbunyi lain. Ujar sang aktor, siapa yang minum jamu antiangin yang dia tawarkan termasuk orang-orang begjå atau bejå (atau bejo menurut versi iklan), alias beruntung. Imaji yang hendak dibangun adalah keberuntungan lebih berharga ketimbang kepintaran. Apalah artinya pintar tapi tidak beruntung, begitu kira-kira jalan pikirannya. Diniatkan atau tidak, rupanya telah terjadi perang kata-kata di antara kedua iklan jamu incit angin itu. Iklan yang satu melancarkan provokasi terhadap yang lain layaknya taktik ­tempur.

Baca lebih lanjut

Teks Suroboyoan

KOMPAS, 9 Nov 2012. Beni Setia, Pengarang

Sumber gambar: Loker Direktori

Catatan Rainy MP Hutabarat, ”Koaya Roaya” (Kompas, 7/9/2012), jernih menandai dua gejala berbahasa. Pertama, masuknya sisipan u di suku kata awal satu kata, yang secara lisan menandakan ada peningkatan level kuantitas serta kualitas makna (kata) awal.

Setahu saya, cara itu dipinjam dari tradisi berbahasa lisan di Surabaya, subdialek bahasa Jawa. Secara teknis, peningkatan makna (kata) enak dilakukan dengan menyisipkan partikel u ke suku kata pertama (vokal e) dan bukan suku kata berikutnya (nak). Hingga secara tekstual tertulis uenak, meski orang sering memakai versi transliterasi lisan uee-nak.

Pilihan meletakkan sisipan u sebelum vokal menyebabkan ba-nyak jadi bua-nyak, can-tik jadi cuan-tik, ka-ya jadi kua-ya. Sekaligus lu-ar (biasa) seharusnya tertulis luu-ar (biasa), meski pelafalan meleburkan u tambahan dan l jadi panjang.

Baca lebih lanjut