Biaya Komitmen

Adang Iskandar* (Media Indonesia, 2 Jul 2017)

BARANG BUKTI OTT BENGKULU

Operasi tangkap tangan yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi terhadap beberapa pejabat di daerah pada bulan suci Ramadan lalu menuai keprihatinan publik, terutama warga muslim. Ramadan yang sejatinya merupakan bulan penuh berkah, rahmat, dan ampunan justru dinodai dengan perilaku kotor para pejabat itu. Penangkapan pejabat daerah oleh KPK itu antara lain terjadi di Bengkulu.

Baca lebih lanjut

Iklan

Deparpolisasi

Qaris Tajudin*, Majalah Tempo, 25 Apr 2016

Ketika Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama memutuskan untuk maju dalam pemilihan kepala daerah sebagai calon independen, dunia politik geger. Sejumlah partai politik melakukan manuver agar Ahok-panggilan Basuki-gagal maju dalam pemilihan gubernur pada 2017.

Kegerahan partai politik ini dapat dimengerti karena sampai saat ini popularitas Ahok masih tinggi, bahkan jauh lebih tinggi daripada calon-calon gubernur Jakarta lainnya yang sudah mengumumkan diri. Jika Ahok berhasil maju dan bahkan menang, partai politik tak diperlukan lagi dalam percaturan politik. Toh, tanpa partai pun seseorang bisa maju menjadi kepala daerah.

Baca lebih lanjut

Deparpolisasi?

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 26 Mar 2016

Deparpolisasi bukan departemen polis asuransi yang kerjanya mengirim pasukan jurujual yang ditakuti semua orang di acara temu alumni, melainkan proses partai politik mengalami de-, awalan Latin yang menidakkan atau memutarbalikkan makna kata yang ditempelinya. Jadi, deparpolisasi bisa berarti pengurangan, penurunan, peremehan, pengikisan, penghancuran partai politik dan/atau penolakan, penyangkalan, pengabaian, pelecehan terhadap fungsi partai politik.

Baca lebih lanjut

Catut-catutan

Suprianto Annaf*, Media Indonesia, 29 Nov 2015

Ilustrasi: Beritagar.id

Sadar atau tidak, catut-mencatut bukanlah hal asing. Namun, terkadang hal itu dianggap biasa karena ada di tengah kebiasaan. Sering pula diabaikan karena ketidaktahuan. Singkatnya, catut-mencatut pernah terjadi atau justru dialami oleh siapa pun: saya dan Anda!

Baca lebih lanjut

Negarawan dan Penyelenggara Negara

Indra Tranggono*, KOMPAS, 10 Okt 2015

Ilustrasi: Viva.co.id

Kini sebutan negarawan semakin langka digunakan di dalam praktik kehidupan berbahasa Indonesia terkait dengan jagat politik nasional. Sebutan atau istilah yang lebih sering digunakan adalah penyelenggara negara. Tampak mirip secara maknawi, tetapi negarawan dan penyelenggara negara berbeda arti.

Baca lebih lanjut

Kata-kata Bersayap

Seno Gumira Ajidarma*, Majalah Tempo, 31 Agu 2015

Ilustrasi: Digital Attitude

Kalau Anda sulit berterus terang, padahal harus menyampaikan sesuatu, bahasa menyediakan kata-kata bersayap. Adapun yang dimaksud dengan kata-kata bersayap, seperti judul buku Sapardi Djoko Damono tentang puisi, adalah “bilang begini, maksudnya begitu”. Ya, kira-kira seperti sindiran, tapi yang sangat mungkin tanpa nada sindiran sama sekali.

Baca lebih lanjut

Baru

Bandung Mawardi*, Majalah Tempo, 13 Jul 2015

Ilustrasi: Pencanangan gerakan Ini Baru Indonesia (MetroTVNews.com)

Di Blitar, Jawa Timur, Majelis Permusyawaratan Rakyat mengumumkan gerakan Ini Baru Indonesia berbarengan dengan peringatan 70 tahun kelahiran Pancasila. Gerakan itu disahkan dengan pameran spanduk berisi ajakan mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Penamaan gerakan itu mirip iklan, tapi menguak sejarah Indonesia, sejak 1930-an. W.J.S. Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952) mengartikan “baru” sebagai “masih dalam keadaan baik, segar, habis selesai dibuat”. Barangkali Zulkifli Hasan atau para penggagas gerakan Ini Baru Indonesia mengacu ke Tesaurus Bahasa Indonesia (2006) susunan Eko Endarmoko. “Baru” juga berarti “gres, hangat, segar, kontemporer, modern, modis, mutakhir, dan trendi”. Gerakan itu diselenggarakan demi memenuhi tugas-tugas MPR. Penamaan gerakan pasti sudah dipertimbangkan serius.

Baca lebih lanjut

Boedi Oetomo: Sejarah Dan Bahasa

Bandung Mawardi*, Majalah Tempo, 25 Mei 2015

Pendiri STOVIA. Ilustrasi: Historia.

Bermula dari percakapan, terpilihlah nama untuk perkumpulan modern di Hindia Belanda. Soetomo menanggapi penjelasan Wahidin Soedirohoesodo: “Punika satunggaling pedamelan sae sarta nelakaken budi utami.” Petikan kalimat berbahasa Jawa ini dimuat di buku berjudul Dr Soetomo: Riwajat Hidup dan Perdjuangannja (1951) garapan Imam Supardi. Wahidin Soedirohoesodo dan Soetomo adalah kaum terpelajar, tapi masih mengukuhkan diri sebagai manusia Jawa. Ilmu diperoleh bermodal bahasa Belanda, tapi identitas bertumpu ke bahasa Jawa. Kita mulai memiliki dugaan bahwa bahasa turut memengaruhi kemunculan perkumpulan modern di saat dibentuk di Betawi.

Baca lebih lanjut

Memaknai Buruh

Inda Suhendra*, Media Indonesia, 3 Mei 2015

Tanggal 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh Internasional atau kerap disebut May Day. Peringatan Hari Buruh selalu dirayakan besar-besaran di seluruh dunia melalui beragam cara. Di Indonesia (melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2013), 1 Mei dinyatakan sebagai hari libur. Peringatan Hari Buruh tak semata seremoni tahunan. Hari Buruh sering dijadikan momentum untuk mengekspresikan aspirasi atas kondisi perburuhan yang kerap dirasakan kurang memenuhi rasa keadilan. Hal itu dapat dimaklumi karena buruh kerap menjadi korban dalam sebuah hubungan industrial. Lebih jauh lagi, bahkan dalam mandala linguistik pun, buruh ternyata mengalami diskriminasi bahasa.

Baca lebih lanjut

Pemilih ‘Mengambang’

Ahmad Sahidah*, Majalah Tempo, 13 Apr 2015

Ilustrasi: Turosoft

Mengapa banyak pemerhati dan media massa enggan menerjemahkan istilah swing voters? Hakikatnya, kita bisa menerjemahkan secara harfiah kata majemuk ini menjadi “pemilih berayun”. Seperti bandul jam yang berayun ke kanan dan kiri, pemilih akan menentukan pilihan sesuai dengan suasana hati di akhir-akhir menjelang hari pemilihan. Kadang ada orang yang mengalihbahasakannya dengan “pemilih mengambang”, dengan andaian bahwa pemilih itu berada dalam kedudukan antara muncul ke permukaan dan tenggelam di dasar air.

Baca lebih lanjut