Zonasi atau Rayonisasi?

Bambang Kaswanti Purwo (Kompas, 16 Jul 2016)

Harian ini dalam terbitan 24 Juni lalu menampilkan tulisan ”Jalur Zonasi Jadi Tumpuan Calon Siswa”. Di dalamnya diuraikan kebijakan zonasi dalam kaitan dengan usaha supaya anak disekolahkan di wilayah yang dekat tempat tinggal. Dengan demikian, terkurangi biaya transportasi dan kemacetan lalu lintas dan terhilangkan label sekolah unggulan atau favorit.

Baca lebih lanjut

“Aku” dan “Saya”

Indra Tranggono*, Kompas, 16 Apr 2016

Seperti manusia, bahasa Indonesia juga punya jiwa. Kita menjadi kenal jiwa bahasa ketika menggunakannya. Kita harus tepat memilih kata karena di dalam komunikasi lisan dan tulis ada etiket yang harus ditaati agar kita dianggap tidak sombong atau tidak santun. Contohnya tersua di dalam penggunaan kata “aku” dan “saya”.

Baca lebih lanjut

Menapis Filter

Dony Tjiptonugroho*, Media Indonesia, 11 Okt 2015

Ilustrasi: Uniflux

Ilustrasi: Uniflux

Saat memakai sepatu di masjid sehabis salat, saya membuka pembicaraan dengan orang di sebelah saya yang ternyata seorang montir sepeda motor. Jarang-jarang saya dapat bicara dengan montir di luar bengkel. Saya otomatis bertanya-tanya kepadanya perihal mesin dan perawatan motor. Satu hal yang menurut dia penting, tetapi kerap dilupakan orang ialah filter udara.

Baca lebih lanjut

Negeri Vs Negara

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 26 Sep 2015

Ilustrasi: Revlogs

Sudah waktunya negara sedang berkembang disingkirkan. Oh, bukan dengan diserbu, diboikot, atau dibokong. Negara saja yang disikat. Negeri dan rakyatnya, sih, perlu terus disokong dan disorong.

Negara berkaitan dengan kelembagaan, pengorganisasian, pemerintahan, kekuasaan, sistem perpolitikan. Negeri berhubungan dengan tanah air, keluarga besar, kehidupan dan penghidupan rakyat, leluhur, budaya.

Mendengar negeri tumpah darah terbayanglah kampung halaman elok penuh damai cinta tempat lahir beta dibuai dibesarkan bunda dan masa bahagia belajar mencuri mangga muda tetangga. Membaca negara tumpah darah tertayanglah saling bacok baku bunuh tanah mengamis darah merah sungai menggembung mayat putih.

Baca lebih lanjut

Uji Kejujuran

Gunawan Tri Atmodjo*, Media Indonesia, 24 Mei 2015

Frasa uji kebohongan kerap menghiasi media massa. Uji kebohongan pada galibnya dilakukan pihak kepolisian terhadap tersangka yang berpotensi tidak jujur. Sebagai ilustrasi, Fulan diinterogasi polisi dengan menyandang detektor kebohongan. Asumsi awalnya semua keterangan Fulan jujur. Detektor kebohongan akan memindai tiap jawaban Fulan sesuai dengan prosedurnya. Rangkaian kegiatan untuk menemukan kebenaran itulah yang disebut uji kebohongan. Sebenarnya, kebohongan (atau kejujuran) apa yang diuji (dicari) dengan alat itu? Jika dipakai frasa uji kebohongan, untuk apakah kebohongan seseorang diuji?

Baca lebih lanjut

Kelas

Uu Suhardi*, Majalah Tempo, 4 Mei 2015

Ilustrasi: Ivan Lanin

Ilustrasi: Ivan Lanin

Kecermatan berbahasa berkaitan dengan ketepatan mengenali kelas kata. Kerap di media massa kita dapati kalimat semacam ini: “Hingga kini korban masih trauma”, “Dia alergi asap rokok”, “Semua pemain harus fokus pada pertandingan”, “Ratusan nelayan protes kebijakan menteri”, dan “Anaknya sekolah di Bandung”. Trauma, alergi, fokus, protes, dan sekolah merupakan nomina atau kata benda, sehingga tak tepat menjadi predikat pada kalimat-kalimat tersebut.

Baca lebih lanjut

Gesekan

F. Rahardi*, KOMPAS, 18 Apr 2015

“Saya meminta agar (antar)institusi Polri-KPK tidak terjadi gesekan dalam menjalankan tugas masing-masing,” itulah pernyataan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor, Jumat 23 Januari 2015. Pernyataan itu dikeluarkan terkait penangkapan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Bambang Widjojanto oleh Badan Reserse Kriminal Kepolisian Negara RI pada hari yang sama. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi IV, gesek ‘sentuh’ dan ‘geser’; menggesek ‘menyentuh dengan gesekan’; gesekan ‘perbuatan menggesek’, ‘hasil menggesek’.

Baca lebih lanjut

Ikan Paus dan Iwak Pitik

Qaris Tajudin*, Majalah Tempo, 23 Mar 2015

Ilustrasi: Cecilia Hidayat

Ada diskusi abadi antara saya dan istri saya: apakah kita boleh menyebut paus sebagai “ikan paus”? Obrolan dengan topik ini tak pernah tuntas dan selalu muncul kembali saat ada pemicunya. Hal terakhir yang membuat kami mendiskusikannya adalah kehadiran buku cerita anak-anak yang ditulis sastrawan Clara Ng.

Baca lebih lanjut

Kata (KEM)AYU

Eko Endarmoko*, Majalah Tempo, 29 Des 2014

Ilustrasi: AyuUtami.com

Tiap kali membaca karya sastra, orang mesti bersiap menghadapi banyak hal tak terduga. Boleh dia kecewa, barangkali karena jalan cerita berputar-putar, atau ia mendapati banyak kata yang tidak ia mengerti atau tidak menuruti kaidah berbahasa yang jamak, atau ia menjumpai sejumlah fakta yang berbeda dengan kenyataan sebenarnya, atau tokoh idamannya ternyata tidak punya etika. Boleh juga ia kecewa, sebab petualangan sang tokoh yang sudah memikatnya sejak awal, di ujung cerita semua itu cuma lamunan atau fantasi si tokoh itu belaka. Umumnya pangkal kecewa pembaca terletak pada jurang lebar antara harapan dan “kenyataan” yang ia hadapi dalam fiksi yang ia baca.

Baca lebih lanjut

Mengomunikasikan atau Menyampaikan

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 6 Des 2014

Ada bolong, atau objek yang absen, dalam takrif lema mengomunikasikan (lebih banyak orang menulisnya mengkomunikasikan) dalam kamus bahasa Indonesia. Begini kamus kita itu memerikannya: “mengirim lewat saluran komunikasi; menyebarkan melalui saluran komunikasi”. Mengirim atau menyebarkan apa? Untungnya, benak kita sebagai penutur bahasa Indonesia menyimpan, dan kemudian menyodorkan, “informasi” untuk diisikan-satu hal yang niscaya-ke dalam bolong itu. Tanpa informasi sebagai objek kalimat, rumusan arti lema mengomunikasikan tadi tidaklah lengkap. Namun, jangan tanya mengapa banyak orang, terutama kalangan “elite”-media massa lalu tanpa pikir panjang menggemakannya-lebih menyukai kata mengomunikasikan daripada menyampaikan, sebuah kata yang sudah lebih lama kita kenal.

Baca lebih lanjut