Ember dalam Kamar Tidur

Eko Endarmoko (KOMPAS, 29 Des 2020)

Si sulung, perempuan, yang waktu itu (pertengahan 1990-an) baru akan masuk sekolah dasar, girang betul dengan permainan kata yang saya reka untuk dia. Keasyikannya ini sengaja saya bangun untuk menumbuhkan kegairahan dia belajar, dan bersekolah beberapa bulan lagi.

Sumber ilustrasi: Unsplash

Baca lebih lanjut

Pewaris versus Ahli Waris

F.X. Sukoto (Kompas.id, 26 Des 2020)

Cara Wood, 28 tahun lalu, bekerja di sebuah restoran di kampung halamannya, Chagrin Falls, Ohio, Amerika Serikat, sekitar 15 mil (28 kilometer) sebelah timur Cleveland. Wood (17) adalah seorang karyawati yang baik, cerdas, ramah, dan suka membantu.

Salah satu pelanggan restoran tersebut, Bill Cruxton, sangat menyukai Wood. Cruxton, seorang duda tanpa anak, hampir setiap hari ke restoran Drin’s Colonial itu untuk makan sehingga mereka menjadi teman dan semakin akrab.

Ilustrasi: KOMPAS

Baca lebih lanjut

Pungut

Bandung Mawardi (Majalah Tempo, 19 Des 2020)

Juliari Peter Batubara menimbulkan kesibukan bagi pembaca koran. Kebiadaban demi duit itu menambah masalah. Kita mulai bermasalah dalam bahasa. Pemberitaan mengenai kasus suap pengadaan bantuan sosial mengajak pembaca rajin membuka kamus-kamus. Di halaman koran, kata-kata mungkin gampang dimengerti, tetapi memicu keraguan. Kita menanggung keraguan bertema sinonim. Kesibukan membaca berita dilanjutkan dengan membuka kamus-kamus atau buku pelajaran bahasa Indonesia.

Ilustrasi: Kompas

Baca lebih lanjut

Gelontor, Kucur, ”Netes”

Kasijanto Sastrodinomo (Kompas, 15 Des 2020)

Berapakah dana atau uang yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk menangkal wabah yang berkecamuk? Pada awal pandemi diberitakan bahwa pemerintah telah menggelontorkan anggaran untuk mengatasi Covid-19 melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebesar Rp405 triliun lebih (Kompas.com, 31-3-2020). Selain dinyatakan dengan angka, isyarat tentang seberapa besar jumlah dana itu diperkuat kata menggelontorkan. Tak masalah jika kata itu tergolong kasar (lihat KBBI) karena sangat efektif untuk membahasakan hal-hal penting, dan mungkin rumit, bagi khalayak luas.

Baca lebih lanjut

Belantara Makna

Eko Endarmoko (Kompas, 8 Des 2020)

Menghidu rupanya tergolong kata yang agak asing bagi sebagian penutur bahasa Indonesia. Seorang teman menemukannya dalam satu klausa di sebuah tulisan, ”menghidu aroma kopi”. Dia mengira itu tipo alias salah tik sebab ungkapan yang lebih tepat menurutnya adalah ”menghirup kopi”, analog dari ”menghirup udara segar”. Benar begitu?

Baca lebih lanjut

Kotak Kosong

Samsudin Adlawi (Majalah Tempo, 5 Des 2020)

Drama selalu mewarnai hajatan pesta demokrasi. Pemilihan kepala daerah serentak 9 Desember 2020 juga tidak luput dari drama. Bahkan, kali ini dramanya bakal lebih seru.

Keseruan itu disebabkan oleh makin banyaknya calon tunggal dibanding beberapa pilkada sebelumnya. Setidaknya ada 28 calon tunggal dalam pilkada serentak 2020. Mereka tersebar di 23 kabupaten dan 5 kota. Total ada 270 daerah yang menggelar pilkada. Perinciannya: 9 provinsi akan memilih gubernur-wakil gubernur, 224 kabupaten memilih bupati-wakil bupati, dan 37 kota memilih wali kota-wakil wali kota.

Baca lebih lanjut

Lonteku, Terima Kasih

Seno Joko Suyono (Majalah Tempo, 21 Nov 2020)

Geladak adalah lantai atau dek kapal. Namun, geladak bisa menjadi metafora bagi sesuatu yang ternistakan. Frasa anjing-anjing geladak, misalnya, bisa berarti anjing-anjing liar atau penjahat di pelabuhan. Geladak diasosiasikan dengan dunia kriminal, bajingan, dan preman. Film Anjing-Anjing Geladak (1972) yang disutradarai Nico Pelamonia berdasarkan naskah Sjuman Djaya, misalnya, berkisah tentang sindikat narkotik. Seluruh bagian cerita mengambil adegan sudut-sudut kota. Akan tetapi, awal film ini dimulai dari penurunan peti-peti bubuk haram di sebuah dermaga.

Sumber Ilustrasi: Tangkapan Layar YouTube

Baca lebih lanjut

Zonasi atau Rayonisasi?

Bambang Kaswanti Purwo (Kompas, 16 Jul 2016)

Harian ini dalam terbitan 24 Juni lalu menampilkan tulisan ”Jalur Zonasi Jadi Tumpuan Calon Siswa”. Di dalamnya diuraikan kebijakan zonasi dalam kaitan dengan usaha supaya anak disekolahkan di wilayah yang dekat tempat tinggal. Dengan demikian, terkurangi biaya transportasi dan kemacetan lalu lintas dan terhilangkan label sekolah unggulan atau favorit.

Baca lebih lanjut

“Aku” dan “Saya”

Indra Tranggono*, Kompas, 16 Apr 2016

Seperti manusia, bahasa Indonesia juga punya jiwa. Kita menjadi kenal jiwa bahasa ketika menggunakannya. Kita harus tepat memilih kata karena di dalam komunikasi lisan dan tulis ada etiket yang harus ditaati agar kita dianggap tidak sombong atau tidak santun. Contohnya tersua di dalam penggunaan kata “aku” dan “saya”.

Baca lebih lanjut

Menapis Filter

Dony Tjiptonugroho*, Media Indonesia, 11 Okt 2015

Ilustrasi: Uniflux

Ilustrasi: Uniflux

Saat memakai sepatu di masjid sehabis salat, saya membuka pembicaraan dengan orang di sebelah saya yang ternyata seorang montir sepeda motor. Jarang-jarang saya dapat bicara dengan montir di luar bengkel. Saya otomatis bertanya-tanya kepadanya perihal mesin dan perawatan motor. Satu hal yang menurut dia penting, tetapi kerap dilupakan orang ialah filter udara.

Baca lebih lanjut