Lafal

Sori Siregar* (Kompas, 9 Jul 2016)

Menurut pakar bahasa J.S. Badudu, dalam salah satu tulisannya, orang di Indonesia bagian timur melafalkan kata mentereng (dengan tanda aksen atau tanda diakritik pada aksara ”e” di suku kata kedua dan ketiga) dengan mentereng (dengan tanda aksen pada aksara ”e” di suku kata pertama dan ketiga).

Baca lebih lanjut

Iklan

Ben Anderson dan Perkara Ejaan

Joss Wibisono*, Majalah Tempo, 28 Des 2015

Benedict Anderson (Sumber: LA Times)

Pada obituari Benedict Anderson, yang wafat di Indonesia, Tempo menyinggung berulang kali bahwa, dalam menulis, Indonesianis terkemuka ini selalu menggunakan Edjaan Suwandi (1947-1972). Oleh majalah ini, ejaan yang digunakan Ben Anderson tersebut dianggap ciri khas Ben, dan sayang tidak dikupas lebih jauh. Sesungguhnya Tempo edisi akhir tahun 2001 (halaman 82-83) telah memuat kolomnya yang ditulis dalam ejaan pra-Orba, berjudul “Beberapa Usul demi Pembebasan Bahasa Indonesia”. Bahkan bisa dikatakan, bagi Ben, EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) itu tidak ada, sampai saat-saat terakhir ia tetap menggunakan Edjaan Suwandi.

Baca lebih lanjut

Pentil

André Möller, KOMPAS, 9 Mei 2015

Asyiknya menggunakan dan mempelajari bahasa memuncak ketika kita menyadari bahwa bahasa itu sesekali membingungkan dan tidak selalu menari menurut kaidah-kaidah yang kita duga berlaku. Salah satu kata yang bisa membuat kita mengangkat alis terheran-heran adalah pentil. Kata itu sendiri tidak garib, dan memiliki arti berikut menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat: alat terbuat dari karet tempat memasukkan udara (gas) ke dalam ban (bola dsb) dan menahan udara (gas) yang sudah masuk.

Baca lebih lanjut

Sundal Bolong

Eko Endarmoko* (Majalah Tempo, 13 Jan 2014)

Sudah lumayan lama bahasa Indonesia, rumah bersama bagi segenap bangsa Indonesia, hidup berdampingan dengan beragam bahasa daerah. Tapi bahasa Indonesia-apalagi setelah sekian lama berkembang dan menempuh jalan sendiri-sulit kita katakan merupakan penjumlahan dari bahasa daerah yang mencapai angka ratusan itu. Dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia tentu saja superior, dan tiap-tiap bahasa daerah menjadi subordinat.

Selain kata-kata dari laras bahasa lisan, terutama bahasa lisan di kota metropolitan, banyak kata serapan dari khazanah bahasa daerah yang masuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Label cak (cakapan) pada banyak sekali kata serapan itu bolehlah kita pandang sebagai penegasan atau tanda bahwa mereka bukan bagian dari laras bahasa baku. Namun akan kita lihat betapa tidak sederhana hubungan di antara keduanya, antara bahasa negara dan bahasa daerah-di sini saya mengambil kasus dialek Jakarta.

Misalnya, mana yang lebih kuat, pengaruh bahasa Indonesia terhadap bahasa daerah atau sebaliknya?

Baca lebih lanjut

Teks Suroboyoan

KOMPAS, 9 Nov 2012. Beni Setia, Pengarang

Sumber gambar: Loker Direktori

Catatan Rainy MP Hutabarat, ”Koaya Roaya” (Kompas, 7/9/2012), jernih menandai dua gejala berbahasa. Pertama, masuknya sisipan u di suku kata awal satu kata, yang secara lisan menandakan ada peningkatan level kuantitas serta kualitas makna (kata) awal.

Setahu saya, cara itu dipinjam dari tradisi berbahasa lisan di Surabaya, subdialek bahasa Jawa. Secara teknis, peningkatan makna (kata) enak dilakukan dengan menyisipkan partikel u ke suku kata pertama (vokal e) dan bukan suku kata berikutnya (nak). Hingga secara tekstual tertulis uenak, meski orang sering memakai versi transliterasi lisan uee-nak.

Pilihan meletakkan sisipan u sebelum vokal menyebabkan ba-nyak jadi bua-nyak, can-tik jadi cuan-tik, ka-ya jadi kua-ya. Sekaligus lu-ar (biasa) seharusnya tertulis luu-ar (biasa), meski pelafalan meleburkan u tambahan dan l jadi panjang.

Baca lebih lanjut