Ketimpangan

Arianto A. Patunru*, Majalah Tempo, 7 Mar 2016

Ketimpangan sudah masuk kategori lampu kuning, demikian kata Wakil Presiden Jusuf Kalla (Koran Tempo, 14 Januari 2016). Beberapa hari sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengatakan ketimpangan telah menjadi kendala pembangunan (Koran Tempo, 10 Januari 2016). Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di negara-negara lain—sehingga pertemuan World Economic Forum baru-baru ini di Davos “dihantui ketimpangan global” (Koran Tempo, 19 Januari 2016).

Apa itu ketimpangan?

Baca lebih lanjut

Iklan

Kurs

Arianto A. Patunru*, Majalah Tempo, 16 Nov 2015

Ilustrasi: Yexplore

Ketika seseorang dari Indonesia melancong ke luar negeri, misalnya ke Amerika Serikat, kemungkinan besar ia melakukan satu dari dua hal ini: menyiapkan sejumlah dolar selagi di Jakarta atau membelinya di bandar udara Amerika begitu ia sampai. (Tentu ia bisa menggunakan kartu kredit, tapi prinsipnya sama: ada konversi mata uang di dalam transaksinya.) Maka ia mempertimbangkan kurs: harga dari dolar—atau berapa banyak rupiah yang ia butuhkan untuk setiap satu dolar.

Baca lebih lanjut

Austerity

Arianto A. Patunru*, Majalah Tempo, 27 Jul 2015

Ilustrasi: André Reichel

Menurut kamus, istilah austerity berakar pada sebuah kata sifat dari Yunani Kuno: austçrós. Secara harfiah ia mewakili kering, keras, pahit, atau susah—mungkin dalam bahasa Inggris padanannya adalah dry, harsh, bitter, atau severe. Maka kata bendanya, austçrótis, merujuk pada kehidupan yang keras. Dalam bahasa Inggris, ia menjadi austerity. Kata yang paling mendekati dalam bahasa Indonesia adalah “kesederhanaan”. Namun ia tidak sekadar “sederhana”; ia sederhana yang keras, dengan nuansa penderitaan. Bahkan ia punya konotasi religius: asketik dalam Kristen atau puasa dalam Islam, keduanya berarti menahan diri.

Baca lebih lanjut

QE

Arianto A. Patunru*, Majalah Tempo, 18 Mei 2015

Ilustrasi: SimpleClearEasy.com

Washington, DC, 22 Mei 2013.

Di hadapan Kongres Amerika Serikat, Gubernur Bank Sentral Ben Bernanke melaporkan kondisi perekonomian saat itu. Ia memberikan sinyal bahwa karena keadaan berangsur membaik, ada ruang untuk mulai mengurangi quantitative easing. Media pun memberitakan, “Fed will taper off its stimulus program!”—Federal Reserve akan melakukan tapering off atas program pemulihan ekonominya.

Quantitative easing, tapering off. Binatang apa mereka ini?

Baca lebih lanjut

Yang Tersirat dan Tersurat

Arianto A. Patunru*, Majalah Tempo, 9 Feb 2015

Ilustrasi: Iceberg Classes

David Friedman menyelipkan sebuah lelucon di dalam bukunya, Hidden Order. Dua ekonom berjalan beriringan. Saat melintasi sebuah toko mobil, salah seorang menunjuk sebuah Porsche mewah dan berkata, “Saya mau mobil yang itu.” Kawannya menimpali, “Tidak mungkin. Kamu pasti tidak mau.” Mereka berdua tertawa dan melanjutkan perjalanan.

Baca lebih lanjut

Sekali Lagi tentang Bunga dan Riba

K. Bertens* (KOMPAS, 15 Feb 2014)

TULISAN Samsudin Berlian (SB), ”Bunga ’Ya’, Riba ’Jangan’” dalam Kompas, 25 Januari lalu, menarik untuk diperhatikan. Lebih-lebih karena di sini penjelasan tentang bahasa mengantar kita ke penjelasan tentang etika. Etika memang bicara tentang yang boleh dilakukan (ya) dan yang tidak boleh dilakukan (jangan). Salah menggunakan dua istilah itu tidak saja merupakan suatu kesalahan di bidang bahasa, tetapi juga di bidang moral. Kita semua setuju, hal terakhir ini jauh lebih penting.

Menurut SB, bunga adalah uang yang dibayarkan sebagai biaya pemakaian uang yang dipinjamkan. Sementara riba adalah uang sangat tinggi yang diminta untuk meminjamkan uang sehingga tidak dapat dianggap wajar lagi. Penjelasan ini tidak baru. Semua bahasa modern mempunyai dua kata guna menunjukkan dua cara yang berbeda untuk memperoleh uang dengan perbuatan meminjamkan itu. Dalam bahasa Inggris ada kata interest di samping usury. Kalau kita lihat dalam Kamus Inggris-Indonesia oleh John M Echols dan Hassan Shadily, di situ interest diterjemahkan sebagai ”bunga” dan usury sebagai ”riba”.

Dengan demikian, di Indonesia perbedaan arti antara bunga dan riba sudah diterima agak umum. Namun, seperti disinyalir SB juga, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) masih menyamakan riba dengan bunga uang. KBBI ini dianggap norma resmi dalam menentukan arti kata.

Baca lebih lanjut

Bunga ”Ya”, Riba ”Jangan”

Samsudin Berlian* (KOMPAS, 25 Jan 2014)

TULISAN-tulisan suci agama-agama dunia—Hindu, Yahudi, Buddha, Kristen, Islam—mencela bunga. Eit, tunggu dulu. Bukankah yang dikecam riba? Hmm, apa gerangan beda kedua kata?

Bunga, rente, atau anak uang adalah uang yang dibayarkan sebagai biaya pemakaian uang yang dipinjamkan. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Pusat Bahasa memberikan definisi bertele-tele: imbalan jasa untuk penggunaan uang atau modal yang dibayar pada waktu tertentu berdasarkan ketentuan atau kesepakatan, umumnya dinyatakan sebagai persentase dari modal pokok. KBBI menyamakan bunga uang dengan riba (Arab) dan rente (Belanda). Riba punya arti ”lintah darat”, yakni ”orang yang meminjamkan uang dengan bunga sangat tinggi”. Karena itu, rentenir adalah lintah darat, rente sekubang dengan riba.

Jadi, sebetulnya, ada beda antara riba/rente dan bunga, terkualifikasikan dalam frasa ”sangat tinggi” itu. Masalah: apa standar ”sangat tinggi” untuk bunga? Siapa yang menentukan? Toh, bunga setingkat apa pun selalu terlalu tinggi bagi pengutang dan sangat rendah untuk pemiutang.

Baca lebih lanjut