Tenggak Bir dan Pamer Dengkul

Mulyo Sunyoto* (Kompas, 21 Mei 2016)

Inilah narasi ringkas perkara salah kaprah. Di ranah ujaran. Lisan dan tulisan.

Ada sesosok pewarta foto. Ia bekerja di lembaga pemberitaan milik pemerintah. Rada-rada nyentrik, ia selamanya ke kantor dengan oblong, selamanya warna gulita, dipermegah potongan rambut semode anak tukang kayu dari Nazaret.

Baca lebih lanjut

Political Correctness

Ayu Utami*, Majalah Tempo, 4 Apr 2016

Marah di jalan, karena sepeda motor yang melanggar jalur, atau penyeberang yang tak peduli lampu lalu lintas, saya berteriak, “Buta lu ya!” Segera saya merasa berdosa kepada orang tunanetra.

Jengkel kepada tukang yang salah melulu dalam renovasi rumah, saya membatin, “Budek lu ya? Kan, dari tadi udah dibilangin….” Lagi-lagi saya merasa berdosa, kepada orang tunarungu.

Gemas melihat komentar-komentar penuh kebencian di media sosial, saya menggerutu, “Dasar pikiran kerdil!” Dan segera saya merasa bersalah pula kepada orang kate.

Saya pun sesaat membisu, sebab begitu banyak bias dan ketidakadilan dalam bahasa. Dan bisakah kita berbahasa secara politically correct?

Baca lebih lanjut