“Hoax”

Samsudin Berlian* (Kompas, 2 Des 2017)

Ternyata bukan hanya penyebar-pertama atau sumber hoax yang sulit dicari. Kata hoax itu sendiri susah ditemukan siapa bidannya. Para pakar pun tidak tahu. Hipotesis: hoax kependekan hocus, bagian pertama dari hocus-pocus. Hocus Pocus adalah nama panggung pesulap ternama di Inggris pada abad ke-17. Menurut Oxford English Dictionary, ketika pentas, si pesulap suka berucap ”Hocus pocus, tontus talontus, vade celeriter iubeo”. Artinya? Kira-kira sama dengan sim-salabim atau abrakadabra, alias celoteh tanpa arti. Bunyinya dimirip-miripkan dengan bahasa Latin supaya terdengar rahasia dan sihiria, bikin orang terpesona. Oxford Advanced Learner’s Dictionary punya varian penjelasan, bahwa asal hocus-pocus itu adalah ”hax pax max Deus adimax”, maknanya sama saja, omong kosong.

Baca lebih lanjut

Iklan

Bahasa Media Bahasa Kita

Bagja Hidayat*, Majalah Tempo, 7 Des 2015

Ilustrasi: MarionSpeaks

Pada akhirnya bahasa Indonesia adalah himpunan berbagai bahasa daerah, bukan hanya bahasa Melayu yang menjadi akarnya ketika ditetapkan sebagai bahasa persatuan 87 tahun lalu. Jika dilihat dari jumlah penuturnya, bahasa Jawa dan Sunda paling banyak mempengaruhi bahasa Indonesia. Dari 6.000 lebih bahasa di dunia, jumlah penutur bahasa Jawa menempati urutan ke-11.

Baca lebih lanjut

Mafia

Ni Nyoman Dwi Astarini*, Media Indonesia, 4 Okt 2015

Ilustrasi: Clipart Panda

Penyiksaan dua warga Desa Selok Awar Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Sabtu (26/9) membuka mata kita bahwa intimidasi dan kekerasan nyata ada di Indonesia. Salim Kancil, 52, meninggal setelah dianiaya sekelompok orang yang menyebut diri Tim 12. Warga lainnya, Tosan, 51, dirawat di rumah sakit, juga akibat penganiayaan. Penganiayaan tersebut diduga terkait dengan penambangan pasir yang marak mencaplok lahan persawahan di desa itu. Kedua warga desa itu memang dikenal lantang bersuara dalam menolak penambangan pasir di desa mereka.

Baca lebih lanjut

“Outbound”

F. Rahardi*, KOMPAS, 12 Sep 2015

Sumber gambar: Outbound Bogor Place

Diam-diam kata outbound—kadang-kadang ditulis outbond—telah masuk ke ranah publik. Di Taman Impian Jaya Ancol (DKI Jakarta), Taman Buah Mekarsari, dan Taman Safari (Jawa Barat) tersua baliho berisi informasi tentang keberadaan fasilitas outbound. Hampir semua fasilitas outbound itu berupa sarana permainan tali tinggi—dan yang paling terkenal flying fox—hingga kata outbound menjadi identik dengan flying fox, atau permainan tali tinggi, dan paling jauh hanya terkait dengan aktivitas rekreasi luar ruang.

Baca lebih lanjut

Merdika, Merdeheka, Merdeka

Bandung Mawardi*, Majalah Tempo, 10 Agu 2015

Ilustrasi: Michael S. Nugraha

Buku itu berukuran besar, berjudul Merdeka. Di atas judul, ada gambar tangan mengepal dalam kobaran api berwarna merah. Di sisi belakang, terdapat peta Indonesia dalam lingkaran. Buku itu diterbitkan surat kabar Merdeka, Jakarta. Buku disajikan ke pembaca sebagai “Nomor Peringatan 6 Boelan Repoeblik Indonesia”. Barangkali peringatan terasa dini, tak bersabar menanti sampai 12 bulan alias satu tahun. Buku itu mungkin sengaja diterbitkan agar api kemerdekaan terus membara.

Baca lebih lanjut

Austerity

Arianto A. Patunru*, Majalah Tempo, 27 Jul 2015

Ilustrasi: André Reichel

Menurut kamus, istilah austerity berakar pada sebuah kata sifat dari Yunani Kuno: austçrós. Secara harfiah ia mewakili kering, keras, pahit, atau susah—mungkin dalam bahasa Inggris padanannya adalah dry, harsh, bitter, atau severe. Maka kata bendanya, austçrótis, merujuk pada kehidupan yang keras. Dalam bahasa Inggris, ia menjadi austerity. Kata yang paling mendekati dalam bahasa Indonesia adalah “kesederhanaan”. Namun ia tidak sekadar “sederhana”; ia sederhana yang keras, dengan nuansa penderitaan. Bahkan ia punya konotasi religius: asketik dalam Kristen atau puasa dalam Islam, keduanya berarti menahan diri.

Baca lebih lanjut

Preman

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 25 Jul 2015

Tentu semua tahu preman berasal dari vrijman (Belanda) atau freeman (Inggris). Free ’bebas’. Man ’manusia’. Ada juga yang mengatakan bahwa preman dari pre-man, pra-manusia. Disebut demikian karena tampang dan kelakuan seperti primata sebelum manusia. Kasarnya, manusia macam monyet atau kera. Rasanya ini terlalu dibuat-buat dan tak perlu dipertimbangkan kecuali bukti kuat tertulis bisa ditunjukkan.

Baca lebih lanjut

Selamat Pagi

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 27 Jun 2015

Anka berlenggang-lenggok di depan TV. “Selamat pagi,” katanya sambil senyum manis. Delikan ibunya diabaikannya. “Tegur anak itu! Masa lewat tengah malam belum juga tidur.” Mata bapaknya melotot. “Sini kau. Masih gelap. Siapa bilang sekarang pagi?” “Itu, tivi,” jawab Anka. Ibunya tersenyum. Sekali-sekali biar tahu rasa repot beradu mulut dengan anak, pikirnya. Bapak pun menerangkan, “Pagi yang dikenal nenek moyang kita dirumuskan KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai waktu setelah matahari terbit hingga jelang siang hari. Matahari belum terbit.” Anka cemberut. “Baru saja penyiar itu bilang sudah pagi. Siapa yang tolol?” “Tidak ada yang tolol. Bukan itu perkaranya. Sini baring di pangkuan. Dengarkan Bapak berkisah.” Ibu berpaling, lalu menguap.

Baca lebih lanjut

Korupsi

Samsudin Berlian, KOMPAS, 25 Apr 2015

Korupsi perlu diinterupsi agar negara tidak bangkrupsi. Ya, ya, bangkrut. Alah, begitu saja ribut. Sana beli KIS yang laris manis di media sosial: Kartu Indonesia Sabar. Sila sambil minum kopi. Lepat masih hangat. Lanjut! Korupsi dalam pemakaian umum hanya punya arti sempit, seperti kata KBBI: penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dsb) untuk untung pribadi atau orang lain. Walaupun korup diberi arti pertama lebih luas ’buruk; rusak; busuk’, ia jarang ditemukan dalam arti ini. Sekarang dengar baik-baik sebelum pulsa sabar di kartumu habis, korupsi bermakna jauh lebih luas dan mengerikan daripada itu.

Baca lebih lanjut

Ihwal Meninggal

Bagja Hidayat*, Majalah Tempo, 2 Mar 2015

Ilustrasi: Macleans

Bahasa Indonesia punya banyak padanan untuk kata mati: meninggal, wafat, mangkat, koit, modar, kojor, mampus, berpulang. Dari sekian banyak sinonim itu, kata “meninggal” paling problematik.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “meninggal” dibentuk dari kata “tinggal”, yang artinya berdiam. Di sinilah masalahnya. Sebab, “meninggal” dalam arti mati tak merujuk pada jasadnya yang berdiam, kaku, tak bernyawa. Malah sebaliknya: “meninggal” merujuk pada roh yang pergi dari tubuh, ke alam lain yang bukan dunia–jika merujuk pada kepercayaan dan agama.

Baca lebih lanjut