Makam di Tanah Suci

Samsudin Adlawi*, Majalah Tempo, 12 Okt 2015

Ilustrasi: The Telegraph

Setahun lalu, saya ke Tanah Suci melaksanakan ibadah haji. Selain mendapat pengalaman spiritual, saya membawa pulang pengalaman kebahasaan. Pengalaman spiritual berhaji tidak perlu saya jabarkan dalam tulisan ini. Sebab, apa yang saya alami selama 38 hari di Tanah Suci—Madinah dan Mekah—kurang-lebih sama dengan yang dialami jemaah haji pada umumnya. Tidak demikian dengan pengalaman kebahasaan. Mungkin hanya beberapa orang yang tertarik memperhatikannya, termasuk saya.

Baca lebih lanjut

Mudik

Rohman Budijanto*, Majalah Tempo, 6 Jul 2015

Ilustrasi: Dakwatuna

Mudik adalah kata yang mengalami peningkatan martabat. Sejak menjadi sebutan untuk tradisi eksodus tahunan menyambut Lebaran, kata ini makin jauh dari makna asalinya, yakni “mengudik” atau menuju udik. Kata “udik” ini pernah menjadi ejekan untuk orang yang tertinggal kemajuan. Sergahan “dasar udik” atau “maklum, dari udik” atau “udik banget” menjadi ekspresi merendahkan. Keadaan menjadi berubah setelah berjuta-juta orang, bahkan mayoritas orang kota, ternyata berasal dari “udik” dan mengikuti tradisi “mudik”. Kata “udik” pun kian jarang disebut untuk menghina.

Baca lebih lanjut

Rutuk Radang Tentang Kata Tuhan

Tuhan-membusuk

T.G. Haji Syafruddin*, Riau Pos, 28 Sep 2014

Satu spanduk bertulisan “Tuhan Membusuk, Rekonstruksi Fundamentalisme Menuju Islam Kosmopolitan” terpampang di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel, Surabaya, pada 28—30 Agustus 2014. Tulisan itu menjadi tema Orientasi Cinta Almamater (Oscaar) yang dilaksanakan Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema). Tak dinyana, isi spanduk itu berakibat rutuk radang dan kutuk amuk dan hamun buruk bagi mereka. Berbagai pihak bereaksi mengkritik dan mengecamnya sebagai tindakan yang tidak layak. Front Pembela Islam (FPI) Daerah Jawa Timur pun melaporkan pihak UIN Sunan Ampel kepada kepolisian.

Baca lebih lanjut

Ramadan dan Idulfitri

André Möller*, KOMPAS, 5 Jul 2014

TAMU tahunan nan agung yang selalu dinantikan umat Islam kini mengetuk hati nurani kita lagi. Dari pagi sampai malam, orang saleh dan saleh-salehan akan menghindari makanan lezat, minuman menyegarkan, pengucapan kata-kata tak tak terpuji, perbuatan keji, dan bahasa Indonesia yang tidak atau kurang benar. Spamduk (lihat kolom ”Bahasa” terbitan 18 Januari tahun ini) akan mengotori ruang publik dengan sejumlah ucapan dan pesan moril, dan barangkali tingkat korupsi akan menurun sedikit untuk waktu terbatas. Masjid-masjid akan dipenuhi oleh orang-orang yang ingin menunaikan salat sunah walaupun sehari-hari mereka jarang melangsungkan salat wajib. Ya, bulan puasa datang lagi.

Semestinya bulan kesembilan dalam penanggalan Hijriah ini kita sebut bagaimana? Ramadhan? Ramadhon? Ramadlan? Ramazan? Romadlon? Romadhan? Ada peribahasa Swedia yang kira-kira berbunyi: ”anak yang disayang memiliki banyak panggilan”, tapi kita tidak bisa sembunyi di belakang kata-kata yang sok bijak dari benua lain. Mungkin kita ingin mengikuti ormas kesukaan kita dalam masalah penyebutan bulan puasa, sebagaimana kita ingin mengikuti cara-cara mereka menentukan awal dan akhir bulan. Hanya saya, ormas-ormas tidak konsisten dalam penggunaan kata. Begitu pula dengan koran dan stasiun televisi. Kiai, dai, dan khatib juga tidak konsisten. Bisa saja mereka semua tidak konsisten karena mereka tahu bahwa intisari bulan puasa tidak terletak pada cara penulisannya. Bisa saja mereka menyadari bahwa penyalahketikan tidak akan jadi rintangan bagi kaum yang ingin kembali ke fitrahnya. Bisa saja mereka menginsafi bahwa masalah ejaan tidak dibahas secara panjang lebar oleh Bukhari ataupun Muslim.

Baca lebih lanjut