Di Balik Istilah Polisi Tidur

Teguh Candra (Kompas.id, 2 Jan 2021)

Kala berkendara, saat mengemudi, atau sekadar duduk manis sebagai penumpang, kita sering menikmati sensasi, maaf, pantat sedikit terangkat apabila bersua ”gundukan” panjang melintang di tengah jalan. Polisi tidur, demikian orang menyebut namanya.

Terlahir menjelang akhir era Generasi X dan kebetulan berada dalam pusaran gairah untuk memuaskan rasa ingin tahu, penulis pun mengamini polisi tidur sebatas bentuknya: gundukan (tentunya yang melintang panjang di tengah jalan).

Sumber ilustrasi: Tribun News

Baca lebih lanjut

Mengejar ‘Selfie’

Bagja Hidayat*, Majalah Tempo, 1 Feb 2016

Selfie Jokowi (Sumber: ABC)

Di majalah Tempo edisi 30 November-6 Desember 2015, ada kartun Hariprast tentang peringatan Hari Guru. Hari menggambar seorang guru memakai baju Korpri sedang memegang telepon seluler di depan murid-muridnya, yang juga memegang telepon seluler. Teks kartun itu adalah “Guru ngetweet berdiri, murid selfie berlari”.

Baca lebih lanjut

Gonta-ganti Istilah

Damiri Mahmud*, KOMPAS, 14 Nov 2015

Ilustrasi sekolah (Sumber: Tabung Wakaf Indonesia)

Dalam seluk-beluk bahasa dikenal apa yang disebut dengan istilah. Waktu saya mengaji dulu, dipelajari apa yang disebut dengan makna lughat dan makna isthilah. Makna lughat adalah arti yang tersurat, sedangkan makna isthilah adalah arti khusus atau tersirat. Dicontohkan arti lughat kata shiyam adalah ’menahan’, sedangkan arti isthilah-nya ’menahan diri dari yang membatalkan puasa mulai terbit fajar hingga terbenam matahari’.

Baca lebih lanjut

Getok Tular

Kasijanto Sastrodinomo, KOMPAS, 19 Okt 2013

ENAM penjual bakso yang mangkal di berbagai lokasi di Depok, Jawa Barat, mengaku berasal dari Wonogiri, Jawa Tengah. Sebagian di antara mereka bahkan memasang papan nama ”bakso wonogiri” di warungnya sebagai cap dagang sekaligus menegaskan asal-usulnya. Gejala seperti itu cukup banyak ditemukan di Jakarta dan sekitarnya. Pengakuan serupa juga datang dari tukang urut refleksi di panti pijat langganan saya. Lima ”reflektor” di rumah nyet-nyetan itu mengaku berasal dari Lampung. Tampaknya bukan cuma kebetulan bila para penjaja bakso dan pemijat itu berasal dari suatu daerah yang sama.

Baca lebih lanjut

Rumah Dinas atau Rumah Jabatan Gubernur?

KOMPAS, 23 Nov 2012. Sunaryono Basuki Ks, Pensiunan Guru Besar IKIP Negeri Singaraja

Sumber gambar: Tribun News

Ini peristiwa pertengahan Oktober lalu. Joko Widodo bersih-bersih rumah dinasnya di Solo dan mulai membenahi rumah dinas gubernur di Jakarta. Lalu saya juga mendengar mahasiswa menyerbu rumah dinas Bupati Cirebon di Jalan Kartini.

Saya tidak memahami istilah dalam peraturan perumahan bagi PNS atau pejabat. Demikian juga mengenai rumah dinas dan rumah jabatan. Soalnya, di lembaga pendidikan tinggi tempat dulu saya bekerja, kami tidak mengenal istilah rumah jabatan. Yang kami kenal punya rumah jabatan adalah bupati, yang punya hak menempati rumah tersebut selama dia menjabat, baik untuk ditempati, menerima tamu, singgah sesaat sebelum menuju tempat tujuan, upacara, dan seterusnya. Ketika akan berkunjung di kampus, gubernur yang datang dari Denpasar ke Kota Singaraja singgah di rumah jabatan bupati dan disambut oleh bupati, bahkan rektor kami.

Baca lebih lanjut