Randedhit

Sapardi Djoko Damono*, Majalah Tempo, 14 Mar 2016

Pada suatu hari beberapa puluh tahun yang lalu, tiga orang Jawa ngobrol di sebuah kampus. Saya salah seorang di antaranya. Meskipun menetap di Jakarta, kami lebih sering menggunakan bahasa Jawa. Obrolan lancar-lancar saja sampai ketika saya mengucapkan kata randedhit. Salah seorang, yang berasal dari Solo, memahami arti kata itu, tapi orang Jawa yang lain, yang dibesarkan di Kediri, bertanya (dalam bahasa Jawa) apa arti kata itu. Rekan saya yang dari Solo menjelaskan, kata itu berarti “tidak punya uang”, kependekan dari ora duwe dhuwit. Seandainya kami mencari kata itu di kamus bahasa Jawa, tentu sia-sia saja usaha itu. Tentu kita berhak bertanya, mengapa demikian. Letak masalahnya tidak pada perbedaan asal kami, atau pada beragamnya bahasa Jawa, tapi pada perbedaan antara bahasa lisan dan tulis.

Baca lebih lanjut

Tokoh Perkamusan Indonesia

Bandung Mawardi*, Majalah Tempo, 20 Apr 2015

Ilustrasi: Kios ENGKONG

Sejak 1998, saya berikhtiar memiliki pelbagai kamus Indonesia. Semula, saya hanya bisa membaca kamus-kamus di pelbagai perpustakaan di Solo. Pada masa itu, saya masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Tahun demi tahun berlalu. Dan kamus yang saya peroleh adalah yang dijual di pasar buku loakan. Meski koleksi kamus saya terus bertambah, itu bukan berarti saya berani berlagak sebagai ahli kamus. Peran paling pantas bagi saya adalah pembaca atau pengguna kamus. Perayaan memiliki puluhan kamus ini pernah diwujudkan dengan Pameran Kamus di Bilik Literasi Solo, 19-24 Desember 2014. Pameran itu merangsang saya membuat catatan-catatan kecil mengenai tokoh dan perkembangan garapan kamus di Indonesia.

Baca lebih lanjut

Bahasa Baku: Catatan Ala Kadarnya

Eko Endarmoko*, Majalah Tempo, 4 Apr 2015

Ilustrasi: Fast Company

Dari mana asal kata-kata yang berdiam dalam kamus? Sebagian besar darinya adalah hasil kerja mencari dan menimbang kata dari sejumlah teks terpilih, selain dari khazanah lisan. Tentang lika-liku kerja besar itu kita baca dalam buku Simon Winchester yang memukau, The Professor and the Madman, yang edisi bahasa Indonesianya diberi anak judul “Sebuah Dongeng tentang Pembunuhan, Kegilaan, dan Pembuatan Oxford English Dictionary”. Terjemahan ini diterbitkan Serambi sekitar delapan tahun silam.

Baca lebih lanjut

Pesona Bicara Canggih

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 10 Jan 2015

Kata memesona, kita sama tahu, bersaudara kandung dengan memukau. Keduanya punya daya yang bikin orang senang, jatuh cinta, kagum, takjub, tergila-gila pada sesuatu. Bagi saya, dan bagi penutur bahasa Indonesia zaman sekarang umumnya saya kira, dua kata ini pertama-tama mengantarkan makna mencuri hati. Namun, siapa nyana bahwa pada satu saat dalam satu kurun di masa lampau pengertian seperti itu adalah makna yang ditambahkan kemudian. Artinya, mencuri hati bukan arti yang pertama, mengingat keduanya punya lebih dari satu arti. Penjejeran arti inilah yang masih kita lihat pada pemerian oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia hingga edisi IV (2008, seterusnya disebut KBBI)—jika kita periksa dalam hubungannya dengan kata dasar keduanya.

Baca lebih lanjut

Sutan Mohammad Zain

Bandung Mawardi* (Majalah Tempo, 25 Nov 2013)

Sejarah perkamusan Indonesia mendapat kejutan dengan penerbitan Kamus Umum Bahasa Indonesia (1994) susunan J.S. Badudu dan Sutan Mohammad Zain. Puluhan tahun kita mengenal dan menggunakan Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S. Poerwadarminta dan Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan pemerintah. Dua kamus itu terkenal, diedarkan, dan digunakan di pelbagai institusi pendidikan. Kamus susunan J.S. Badudu dan Sutan Mohammad Zain perlahan menjadi “pesaing”, mengurangi dominasi kamus susunan W.J.S. Poerwadarminta dan pemerintah.

J.S. Badudu adalah pakar bahasa. Ia menulis buku-buku kebahasaan, antara lain Pelik-pelik Bahasa Indonesia, Bahasa Indonesia dalam Pembinaan di TVRI, Inilah Bahasa Indonesia yang Benar, dan Cakrawala Bahasa Indonesia. Guru, murid, dosen, dan mahasiswa sudah akrab dengan tulisan-tulisan Badudu. Sejak 1957, buku-buku Badudu menjadi sumber belajar bahasa Indonesia. Kontribusi Badudu telah membuat bahasa Indonesia bisa bergerak di arus perubahan zaman.

Baca lebih lanjut

Menguji Makna Kata Baru

Majalah Tempo, 12 Nov 2012. Ahmad Sahidah, Dosen Filsafat dan Etika Universitas Utara Malaysia

Sumber gambar: Twitter

Sumber gambar: @OvertDictionary

Dalam kamus, para ahli bahasa menerakan makna pada sebuah lema atau leksem, yaitu satuan terkecil dari bahasa. Mereka mengurutkan sebuah kata beserta turunannya yang mempunyai makna tertentu menurut abjad, dari A sampai Z. Meskipun tidak sepenuhnya dijadikan sebagai pegangan yang umum dalam bahasa tulisan dan lisan, kamus dianggap penentu otoritatif terhadap makna kata. Tidak aneh, Kamus Cambridge menyertakan penjelasan di sampul berwarna oranye dengan Guides you to the meaning. Malah Oxford Dictionaries versi online menyelipkan slogan the world’s most trusted dictionary.

Baca lebih lanjut

Arogan

KOMPAS, 20 Apr 2012. Alfons Taryadi, Penerjemah

Sumber gambar: Goodreads

Enak betul membaca buku Lie Charlie, Bahasa Indonesia Yang Baik dan Gimana Gitu… keluaran Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta (1999). Selain kocak, uraiannya menampilkan kearifan terhadap bahasa Indonesia dan upaya pengembangannya. Dalam ”Kata Pengantar”, misalnya, Lie antara lain menulis bahwa bukunya tidak ingin tampil arogan sebagai polisi yang mau mengatur begini-begitu, melainkan hendak hadir sebagai kawan berbincang-bincang ringan, dan syukur kalau pada akhirnya menciptakan terang pencerahan.

Menarik juga cerita Lie tentang dialognya dengan Slamet Djabarudi dalam suatu seminar. [Keduanya kini berada di alam baka. Lie sarjana tata bahasa lulusan Universitas Padjadjaran, Bandung. Slamet redaktur bahasa majalah Tempo.]. Saat itu ia mengutip seorang asing, yang adalah muridnya, yang berucap, ”Kok tak beres-beresnya orang memperkarakan mana bentuk yang baku, telur atau telor. Kan cukup dilihat di kamus?” Oleh Slamet Djabarudi, pertanyaan itu dijawab, ”Masalahnya ada orang yang mau melihat kamus, ada yang tidak.”

Baca lebih lanjut