Political Correctness

Ayu Utami*, Majalah Tempo, 4 Apr 2016

Marah di jalan, karena sepeda motor yang melanggar jalur, atau penyeberang yang tak peduli lampu lalu lintas, saya berteriak, “Buta lu ya!” Segera saya merasa berdosa kepada orang tunanetra.

Jengkel kepada tukang yang salah melulu dalam renovasi rumah, saya membatin, “Budek lu ya? Kan, dari tadi udah dibilangin….” Lagi-lagi saya merasa berdosa, kepada orang tunarungu.

Gemas melihat komentar-komentar penuh kebencian di media sosial, saya menggerutu, “Dasar pikiran kerdil!” Dan segera saya merasa bersalah pula kepada orang kate.

Saya pun sesaat membisu, sebab begitu banyak bias dan ketidakadilan dalam bahasa. Dan bisakah kita berbahasa secara politically correct?

Baca lebih lanjut

Iklan

Saya, Aku

Sapardi Djoko Damono*, Majalah Tempo, 7 Sep 2015

Ilustrasi: Rose Law Caribbean

Ketika pertama kali dibawa sopir kantor yang baru saja diangkat sebagai pegawai negeri, saya sempat kaget ketika anak muda itu menggunakan kata “aku” sebagai kata ganti orang pertama. Saya, tentu saja, berharap dia menyebut dirinya “saya” seperti kalau saya menyebut diri saya sendiri. Waktu itu, saya merasa dia tidak sopan, tidak tahu unggah-ungguh. Namun saya sama sekali tidak menyinggung apa-apa tentang hal itu. Nama anak muda itu nama Jawa, tentu tidak begitu aneh kalau muncul perasaan yang tidak begitu mengenakkan dalam diri saya, seorang pegawai senior yang umurnya dua kali lipat darinya. Untuk meredakan sikap itu, saya mencoba menggunakan kata ganti “aku” juga kalau berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, tapi entah mengapa kata ganti itu malah membuat saya merasa lebih tidak enak lagi, merasa kikuk.

Baca lebih lanjut

Sindrom Kabayan

Bagja Hidayat* (Majalah Tempo, 26 Mei 2014)

Ketika ujian nasional pekan lalu, di media sosial beredar lembar soal yang sudah dijawab seorang murid sekolah dasar. Nilai ujiannya nol karena siswa itu hanya menjawab “benar” dan “jujur” untuk setiap pertanyaan mata ajaran pendidikan kewarganegaraan. Guru yang menilainya menganggap dua jawaban tersebut keliru dan kesalahan itu menunjukkan kegagalan siswa memahami petunjuk soal.

Benarkah begitu? Petunjuknya memang berbunyi “Jawablah pertanyaan dengan jujur dan benar”. Apa yang keliru? Anak itu telah melaksanakan petunjuk dengan patuh. Dan ia mendapat nilai nol untuk kepatuhannya itu. Tak ada yang bisa melakukan verifikasi apakah lembar soal dan jawaban itu benar-benar terjadi atau keisengan seseorang untuk menertawai petunjuk soal dalam ujian nasional yang tak jelas dan lebih rumit daripada pertanyaannya.

Baca lebih lanjut