Motor Wanita

Dony Tjiptonugroho*, Media Indonesia, 13 Sep 2015

Sumber gambar: Antara News

Di tempat parkir tak jauh dari tempat saya beraktivitas diberi pengumuman bertuliskan`Parkir Khusus Motor Wanita’. Dengan tanda itu, seharusnya sudah jelas peruntukannya. Pasti tempat itu diperuntukkan khusus motor yang dikendarai perempuan. Begitu, bukan?

Baca lebih lanjut

Konteks Kalimat

Bagja Hidayat*, Majalah Tempo, 22 Jun 2015

Ilustrasi: Ketaksaan. Sumber: WPDownUnder

Di sebuah grup WhatsApp, kelompok bincang dalam telepon seluler, ada percakapan seperti ini:

– Halloo, teman, tanggal berapakah Lebaran?
+ Hallooo, Insyaallah tanggal 1 Syawal
– Yeee, tanggal Masehi dooong
+ Ah, Masehi mah enggak Islami….

Baca lebih lanjut

Merenungkan Makna (PDIP)

Berthold Damshauser* (Majalah Tempo, 14 Jul 2014)

Lapor! Sudah saatnya saya kembali melaporkan diskusi yang terjadi pada jam mata kuliah bahasa Indonesia di Universitas Bonn, Jerman.

“Pak,” tanya seorang mahasiswa, “kami sempat membaca tulisan Bapak di kolom Bahasa majalah Tempo edisi 24-30 Juni 2013, yang berjudul ‘Evolusi Bahasa dan Manusia Indonesia’. Lepas dari kenyataan bahwa tulisan sok filosofis itu tidak lebih dari sebuah laporan biasa, kami kurang memahaminya, dimulai dari judulnya.”

“Lho,” pikir saya, “bukannya bangga tulisan guru mereka dimuat di majalah terpandang, mahasiswa saya malah mengkritik.” Tapi, ya, tak apa, daripada kesal, lebih baik memasang wajah ilmiah dan bereaksi dengan sabar: “Barangkali konsep ‘manusia Indonesia’ yang kurang jelas. Mari saya terangkan.”

Baca lebih lanjut

Hukum DM: Apa dan Siapa yang Palsu?

Bambang Bujono* (Majalah Tempo, 16 Jun 2013)

KONON, para kolektor lukisan heboh; seorang kolektor penting memajang lukisan Sudjojono palsu di galerinya. Bukan, kata yang membantah; kolektor itu memajang lukisan palsu Sudjojono.

Gawat! “Memajang lukisan Sudjojono palsu”; jadi ada Su­djojono yang bukan sebenarnya, dan juga melukis seperti halnya Bapak Seni Lukis Modern Indonesia yang kita ketahui itu. Lalu seperti apa lukisan Sudjojono palsu itu? Tentu mirip lukisan Sudjojono sebenarnya; kalau tidak, para kolektor tidak akan heboh.

Kalimat bahasa Indonesia mengikuti hukum DM (diterangkan-menerangkan). Jadi “lukisan” menerangkan “memajang” (memajang apa?); “Sudjojono” menerangkan “memajang lukisan” (memajang lukisan apa/siapa?); “palsu” menerangkan “memajang lukisan Sudjojono (memajang lukisan Sudjojono yang mana?).

Baca lebih lanjut