Sembilan Kasus Salah Nalar (Bagian 1)

Agus Sri Danardana*, Riau Pos, 7 Sep 2014

Berbahasa dan bernalar (berlogika) adalah dua hal yang dapat dibedakan. Tidak semua orang yang mahir berbahasa menampakkan logikanya dalam bahasa yang digunakan. Padahal, konon, bahasa berpotensi sebagai pembangun logika.

Bernalar adalah berpikir tentang sesuatu, misalnya sebuah kenyataan, dengan berhati-hati dan teliti kemudian disusul dengan pemberian penilaian dan alasan (Purbo-Hadiwidjoyo, 1993:161). Dalam sebuah tulisan, misalnya, nalar penulis terlihat pada cara mengembangkan gagasan dalam sebuah paragraf. Nalar merupakan jiwa atau ruh paragraf, sedangkan kalimat-kalimat yang membentuk paragraf (beserta dengan ciri pola ataupun fungsi sistematikanya) hanyalah badan penampung jiwa itu. “Mens sana in corpore sano ‘dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula’,” kata pepatah.

Baca lebih lanjut

Pernalaran

Agus Sri Danardana, Riau Pos, 17 Agu 2014

Pernalaran dapat diartikan sebagai proses bernalar, yakni kegiatan berpikir secara teratur berdasarkan aturan logika. Dalam keseharian, proses bernalar yang mengikuti aturan logika itu sering disebut (kegiatan) analisis.

Menurut para ahli, kemampuan bernalar tidak semata-mata ditentukan oleh tingkat kecerdasan seseorang. Orang yang ber-IQ tinggi belum tentu mampu bernalar jernih jika tidak terlatih. Sebaliknya, orang yang ber-IQ sedang-sedang saja dapat bernalar jernih jika rajin berlatih. Jadi, kuncinya adalah berlatih, berlatih, dan berlatih.

Baca lebih lanjut