Gelontor, Kucur, ”Netes”

Kasijanto Sastrodinomo (Kompas, 15 Des 2020)

Berapakah dana atau uang yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk menangkal wabah yang berkecamuk? Pada awal pandemi diberitakan bahwa pemerintah telah menggelontorkan anggaran untuk mengatasi Covid-19 melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebesar Rp405 triliun lebih (Kompas.com, 31-3-2020). Selain dinyatakan dengan angka, isyarat tentang seberapa besar jumlah dana itu diperkuat kata menggelontorkan. Tak masalah jika kata itu tergolong kasar (lihat KBBI) karena sangat efektif untuk membahasakan hal-hal penting, dan mungkin rumit, bagi khalayak luas.

Baca lebih lanjut

Nakal

Nur Hadi (Majalah Tempo, 12 Des 2020)

Sebut saja namanya Arif. Lantaran sering pulang diam-diam ke rumah tanpa sepengetahuan pengurus pesantren, akhirnya Arif mendapat peringatan keras dan berujung pada skors. Arif masuk deretan anak nakal. Namun, setelah diselisik lebih jauh, ternyata Arif sering mengalami perundungan yang dilakukan oleh teman sekamar.

Baca lebih lanjut

Diaspora Nasi Kuning

Kasijanto Sastrodinomo*, Majalah Tempo, 11 Jan 2016

Empat hotel berbintang yang sempat saya singgahi di empat kota di Sulawesi—Manado, Gorontalo, Palu, dan Kendari—menyuguhkan pilihan menu sarapan yang sama: nasi kuning. Mungkin kebetulan saja. Kabarnya, nasi tersebut jadi sarapan sehari-hari masyarakat di kota-kota itu. Pertanyaannya, bagaimana cara nasi kuning itu, yang selama ini “hidup” dalam budaya Jawa, tiba di Tanah Sulawesi. Menurut beberapa teman di sana, nasi kuning itu diduga datang bersama orang Jawa yang berdiaspora ke berbagai wilayah di Sulawesi pada masa lalu. Masuk akal meski perlu diteliti lebih cermat.

Baca lebih lanjut

Aman dan Merdeka

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 29 Agu 2015

Aman dan terkendali, begitulah sudah berpuluh tahun laporan paling ideal dari lapangan yang bisa disampaikan seorang komandan atau pejabat daerah kepada atasan di Jakarta. Aman tentu mahapenting bukan hanya demi keamanan itu sendiri, melainkan demi segala sesuatu yang hanya bisa hidup dan berkembang di atas keamanan yang langgeng. Suatu negeri yang gagal memelihara keamanan umum, misalnya, tak akan berhasil dalam hal lain apa pun. Hanya orang kuat bersenjata dan kelompok preman yang hidup subur makmur di tengah darah dan maut. Pun cita-cita negeri demokratis dewasa—kebebasan, ketenteraman, kesejahteraan, dst—hanya akan terwujud bila keamanan jangka panjang terjamin. Mengapa terkendali? Apa yang harus dikendalikan? Bagaimana mengendalikan? Pemahaman tentang makna ideal terkendali telah dan akan menentukan sistem kekuasaan publik yang berlaku di negeri ini.

Baca lebih lanjut

Selamat Pagi

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 27 Jun 2015

Anka berlenggang-lenggok di depan TV. “Selamat pagi,” katanya sambil senyum manis. Delikan ibunya diabaikannya. “Tegur anak itu! Masa lewat tengah malam belum juga tidur.” Mata bapaknya melotot. “Sini kau. Masih gelap. Siapa bilang sekarang pagi?” “Itu, tivi,” jawab Anka. Ibunya tersenyum. Sekali-sekali biar tahu rasa repot beradu mulut dengan anak, pikirnya. Bapak pun menerangkan, “Pagi yang dikenal nenek moyang kita dirumuskan KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai waktu setelah matahari terbit hingga jelang siang hari. Matahari belum terbit.” Anka cemberut. “Baru saja penyiar itu bilang sudah pagi. Siapa yang tolol?” “Tidak ada yang tolol. Bukan itu perkaranya. Sini baring di pangkuan. Dengarkan Bapak berkisah.” Ibu berpaling, lalu menguap.

Baca lebih lanjut

Bagaimana Mengukur Makna?

Yanwardi*, KOMPAS, 20 Jun 2015

Beberapa waktu yang lalu, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Tedjo Edhy Purdijatno dilaporkan ke Bareskrim Mabes Polri. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama pun demikian: dilaporkan. Entah berapa banyak lagi yang melaporkan atau dilaporkan kepada pihak yang berwajib terkait dengan ucapan atau perkataan. Kata-kata sebagai musabab pelaporan tentu bukan sebagai fisik lambang (penanda) saja, melainkan sebagai tanda yang mencakup pula konsep atau makna yang diembannya (petanda). Bahkan, makna bisa hadir ”di luar” persepsi yang biasa direkam dalam kamus.

Baca lebih lanjut

Berapa Umat?

André Möller*, KOMPAS, 13 Jun 2015

Belum lama ini koran yang Anda pegang sekarang mewartakan bahwa ”20.000 Umat Buddha Hadiri Perayaan Waisak di Candi Borobudur” (1 Juni 2015). Sehari setelah itu diberitakan juga bahwa ”Jokowi Rayakan Waisak Bersama 20.000 Umat Buddha di Borobudur”. Membaca berita ini, saya agak kaget. Memang Borobudur nan ajaib dan menawan itu cukup besar dan luas, tetapi benarkah sebanyak umat itu bisa mengumpul di tempat yang sama? Dan apakah ada sebanyak umat itu?

Baca lebih lanjut

Neoliberalisme

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 30 Mei 2015

Neoliberalisme adalah kata kotor. Sumpah serapah. Sebagaimana makian pada umumnya, maknanya sangat subjektif. Yang dimaksudkan pemaki sering kali tak sesuai dengan makna kata. Pokoknya segala yang buruk. Neoliberalisme, terutama dalam bentuk singkatan neolib, adalah tuyul modern, stenograf yang enak dilabelkan kepada si kaya yang dibenci. Serakah, penghancur hutan, perusak lingkungan hidup, penaik harga, konglomerat pelit, tetangga makmur, dan seterusnya.

Baca lebih lanjut

Kampung Halaman

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 7 Mar 2015

Banyak dari kita, saya kira, pernah punya “kampung halaman”, kampung yang penduduknya rata-rata memiliki rumah dengan halaman yang lapang. Inilah kata yang rujukannya diam-diam melindap, kata benda yang lambat-laun berubah menjadi konsep. Sesuatu yang kini mungkin sudah jadi kenangan-atau terdesak ke dalam film, karya sastra, atau dalam potret berwarna sefia sedikit suram. Sesuatu yang menyiratkan kepemilikan dalam bentuk kata majemuk itu lama-kelamaan menjelma satu kata tunggal “kampung” semata, tanpa lagi embel-embel “halaman”. Kita tahu, ada ungkapan yang sangat populer pada musim liburan: “pulang kampung”.

Baca lebih lanjut

Perhelatan, Dihelat, Menghelat

Kurniawan*, Majalah Tempo, 20 Okt 2014

Akhir-akhir ini, ketika memberitakan acara kesenian hingga politik, media sering menggunakan kata “perhelatan”, “menghelat”, dan “dihelat”. Istilah “perhelatan” pada mulanya lazim digunakan untuk menyebut acara perkawinan, kenduri, atau selamatan. Malah para sastrawan Balai Pustaka lebih lazim menggunakan kata “helat” saja. Nur Sutan Iskandar dalam novel Salah Pilih (1928), misalnya, menulis, “Sekalian helat dan jamu itu dilayani oleh Ibu Liah dan Asnah sekuasa-kuasanya.”

Baca lebih lanjut