Bunyi pada Teks Kita

Majalah Tempo, 27 Jan 2013. Roy Thaniago, Redaktur majalah Bung!

Simaklah kalimat ini: “Ajaklah dia membicarakan kasus yang mengacak-acak sektor keuangan negara. Maka suasana akan beralih lebih panas dan meriah, mirip musik berirama staccato yang ­mengentak-entak.”

Kalimat itu terdapat pada salah satu tulisan majalah ini halaman 124, edisi 27 Mei 2012, yang menampilkan wawancara dengan Menteri Keuangan Agus Martowardojo. Mungkin sang penulis berupaya bersolek bahasa. Menggunakan metafor bebunyian untuk melukiskan suatu keadaan tentu sah saja. Penggunaan yang pas dan kreatif malah akan menambah daya imajinatif suatu tulisan. Tapi bila penggunaannya tidak pas, apalagi keliru, tentu akan mengaburkan realitas suasana yang sesungguhnya. Bukan hanya itu, praktik tersebut malah akan mencemari istilah atau bahasa teknis suatu disiplin ilmu tertentu.

Baca lebih lanjut