Lafal

Sori Siregar* (Kompas, 9 Jul 2016)

Menurut pakar bahasa J.S. Badudu, dalam salah satu tulisannya, orang di Indonesia bagian timur melafalkan kata mentereng (dengan tanda aksen atau tanda diakritik pada aksara ”e” di suku kata kedua dan ketiga) dengan mentereng (dengan tanda aksen pada aksara ”e” di suku kata pertama dan ketiga).

Baca lebih lanjut

Iklan

Dunia tanpa Huruf ‘F’

Bagja Hidayat*, Majalah Tempo, 8 Des 2014

Ilustrasi: Alumni LBS Tanjungsari

BENAR juga apa yang ditulis seseorang entah siapa pada sebuah meme di Internet: “Siapa bilang orang Sunda tak bisa bilang ‘F’? Pitnah!”

Sebagaimana umumnya mimikri, ia mengandung kelakar. Barangkali yang menulisnya juga orang Sunda, suku di Jawa Barat yang suka banyol hingga melahirkan tokoh dongeng yang cerkas semacam Kabayan. Karena itu, kelakar di sana juga sekaligus pengakuan: meledek cacat diri sendiri secara kocak.

Baca lebih lanjut

Jebred, Jebret, dan Jepret

Beni Setia*, Riau Pos, 10 Agu 2014

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1995) memuat lema nekad dan nekat. Lema nekad (yang tidak dirinci maknanya) dirujuk ke lema nekat (yang memiliki pendadaran makna lebih rinci). Artinya, nekat dianggap sebagai bentuk yang baku, bukan nekad. Sayang, tak diterangkan asal usul kedua lema itu. Apakah nekat itu memang berasal dari bahasa Jawa, seperti biasa terujuk dalam rumusan banda nekat ‘modal nekat’. Padahal, yang sebetulnya banda itu kukuh bergabung dengan donga: banda donga ‘modal doa’.

Mengapa kita (setidaknya penulis) merasa nekad lebih baku daripada nekat? Mungkin, karena nekat bercita rasa lokal, diserap dari bahasa Jawa. Anehnya, justru banyak orang yang menjadikan hal itu sebagai acuan. Contohnya, dalam pemberitaan Final Piala AFF 2013 U-19 di Sidoarjo lalu jebret tidak ditulis dengan /d/, tetapi dengan /t/.

Baca lebih lanjut

Pancasila, Pascasarjana, Coca-Cola

Sapardi Djoko Damono* (Majalah Tempo, 5 Mei 2014)

Proses teknologi kata pun terjadi ketika kita menangkap bunyi dan menguncinya di atas kertas dalam wujud gambar. Aksara adalah gambar yang dirancang untuk menyimpan bunyi agar ada yang tersisa-katakanlah residu-ketika ucapan tidak terdengar lagi. Yang terjadi selanjutnya adalah memanfaatkan rentetan aksara untuk menyimpan pengetahuan, mimpi, harapan, kenangan, dan apa saja agar tidak menguap begitu saja, agar bisa diperiksa ulang oleh yang merentetkan aksara itu sendiri ataupun orang lain yang membacanya.

Demikianlah maka segala hal yang kita tulis tersimpan di luar diri kita (di batu, lontar, kertas, dan dunia maya) sehingga bisa pada gilirannya dimanfaatkan untuk mengembangkan pengetahuan dan pengalaman. Dan sejak bunyi kita teknologikan, ilmu pengetahuan dan pengalaman manusia berkembang dengan sangat cepat dan semakin cepat: dalam waktu beberapa ribu tahun perkembangan pengetahuan tidak sebanding lagi dengan jutaan tahun ketika manusia belum mengenal aksara.

Baca lebih lanjut