Kosakata Tan Malaka

Ahmad Sahidah*, Majalah Tempo, 11 Apr 2016

Perkembangan khazanah lema bahasa Indonesia sangat pesat. Setelah ditetapkan sebagai bahasa kesatuan dalam ikrar Sumpah Pemuda, ia telah mengikat rakyat Negeri Khatulistiwa dalam satu bahasa persatuan. Namun tidak mudah menjadikannya alat komunikasi, baik lisan maupun tulisan, agar bisa menangkap gerak perkembangan zaman. Betapapun bahasa ini luwes, ia juga perlu menimbang sejarah linguistiknya agar tidak dijarah oleh sikap malas pengguna. Dengan membaca kembali karya-karya awal Tan Malaka, kita bisa menjejaki usaha sarjana kiri ini dalam menemukan daya ucap bahasa serapan ke dalam sasaran.

Baca lebih lanjut

Iklan

Komedi Tunggal

Ahmad Sahidah*, Majalah Tempo, 30 Nov 2015

Ilustrasi: MetroTV

Ivan Lanin, pengamat bahasa, menyebutkan bahwa “komedi tunggal (komtung)” acap digunakan untuk persamaan kata majemuk stand-up comedy. Sementara itu, Bagja Hidayat, wartawan majalah ini, menganggap “melawak berdiri” kurang tepat, seraya mengusulkan kata “jenakata” yang dipopulerkan Komunitas Salihara dan Goenawan Mohamad. Betapapun demikian, televisi kita masih menggunakan stand-up comedy untuk nama program tayangannya. Boleh dikatakan, acara lawakan tersebut baru semarak pada tahun-tahun belakangan ini, meskipun dalam sejarahnya telah bermula pada abad ke-18.

Baca lebih lanjut

Dalam Belantara Dwibahasa

Hermien Y. Kleden*, Majalah Tempo, 5 Okt 2015

Ilustrasi: Alboraq Translation Services

Sekali waktu, seorang kawan meminta saya membaca terjemahan pendek laporan feature seni pertunjukan yang dia tulis. Dia agak gugup karena ini pertama kalinya dia menerjemahkan—bukan mereportase dan menuliskannya sendiri. Naskah itu tak sampai dua halaman, tapi saya perlu menghimpun energi untuk menuntaskannya—karena ada banyak kalimat aneh. Salah satunya: “Setiap kali saya mencari pisang ketika melihat penampilan Alex. Dia fantastis.”

Baca lebih lanjut

Mudik

Rohman Budijanto*, Majalah Tempo, 6 Jul 2015

Ilustrasi: Dakwatuna

Mudik adalah kata yang mengalami peningkatan martabat. Sejak menjadi sebutan untuk tradisi eksodus tahunan menyambut Lebaran, kata ini makin jauh dari makna asalinya, yakni “mengudik” atau menuju udik. Kata “udik” ini pernah menjadi ejekan untuk orang yang tertinggal kemajuan. Sergahan “dasar udik” atau “maklum, dari udik” atau “udik banget” menjadi ekspresi merendahkan. Keadaan menjadi berubah setelah berjuta-juta orang, bahkan mayoritas orang kota, ternyata berasal dari “udik” dan mengikuti tradisi “mudik”. Kata “udik” pun kian jarang disebut untuk menghina.

Baca lebih lanjut

Penerjemah

Anton Kurnia*, Majalah Tempo, 17 Nov 2014

Dalam penutup tulisannya, “Terjemahan” (Tempo, 11-17 Agustus 2014), Goenawan Mohamad mengutip Sapardi Djoko Damono: “Tak ada penerjemahan yang salah; yang ada adalah karya (yang disebut ’terjemahan’) yang berhasil atau yang gagal menyentuh kita.”

Kerja penerjemahan memang bukan soal mudah. Menerjemahkan adalah pekerjaan serius yang menuntut kerja keras dan mengandung tanggung jawab berat, yakni kewajiban menepati makna teks asal dan keniscayaan agar teks hasil terjemahan terbaca dengan jelas dalam bahasa sasaran, sekaligus terjaga nuansanya—terutama pada teks sastra.

Baca lebih lanjut

Dari Bistik ke Tayub Eropah

Zen Hae*, Majalah Tempo, 15 Sep 2014

Berdepan-depan dengan bahasa asing, bangsa kita menempuh pelbagai cara. Dari yang paling mudah, yakni menyerap, hingga yang sulit, yaitu menerjemahkan dan memadankan. Menyerap istilah asing sudah terjadi sejak pertama kali nenek moyang kita berhubungan dengan bangsa asing, terutama lewat perdagangan, penyebaran agama, dan penjajahan. Bahasa Indonesia hari ini adalah bahasa Melayu yang diperkaya oleh anasir bahasa Sanskerta, Arab, Persia, Hindi, Tamil, Portugis, Belanda, Cina, Jepang, dan Inggris-di samping anasir bahasa daerah.

Baca lebih lanjut