Dari Kita ke Kalian

Seno Gumira Ajidarma* (Majalah Tempo, 9 Mei 2016)

screen-shot-2015-04-06-at-10-35-16-am

Jika saya (aku, daku) telah kehilangan kepribadian di dalam kami, karena diri telah melebur dalam anonimitas, meski kami diperlukan dalam politik identitas bersama seperti dalam momen historis Soempah Pemoeda (1928) dan Proklamasi (1945), adalah dalam kita maka saya dan Anda (kamu, dikau) hadir bersama dalam pernyataan subjektivitas. Dengan kata lain, suatu modus dialogis untuk mengada bersama dengan orang lain, meskipun tetap menjadi diri sendiri, karena reduksi-diri bukanlah prasyarat guna mempertahankan kita sebagai dunia tempat saya dan Anda berbagi.

Baca lebih lanjut

Gender

Hendri Yulius*, Majalah Tempo, 18 Apr 2016

Meskipun kata “gender” sudah menjadi bagian dari percakapan dan diskusi sehari-hari, ternyata kata ini sebenarnya tidak pernah terdaftar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dalam aplikasi KBBI Online, yang mengacu pada KBBI Daring Edisi III, yang memiliki hak cipta dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kata “gender” atau “jender” tidak ditemukan sama sekali. Satu-satunya kata yang berhubungan dengan gender dan dapat ditemukan dalam KBBI adalah kata “kelamin”, yang memiliki arti “1 jodoh (laki-laki dan perempuan atau jantan dan betina); sepasang; 2 sifat jasmani atau rohani yg membedakan dua makhluk sbg betina dan jantan atau wanita dan pria”.

Baca lebih lanjut

Keamanan Bahasa

Ibnu Burdah*, KOMPAS, 5 Des 2015

Dahulu pembicaraan tentang pertahanan keamanan pasti terkait dengan militer. Isu keamanan dalam perkembangannya kemudian meluas mencakup pangan, air, lingkungan, dan seterusnya. Abdussalam Masdiy, Guru Besar Linguistik Universitas Tunis, menambahkan satu lagi isu: keamanan bahasa nasional. Dalam buku Huwiyyah al-Arabiyyah wal Amni al-Lughawiy atau Identitas Arab dan Keamanan Bahasa, ia menegaskan, persoalan yang sedang dihadapi bahasa-bahasa nasional adalah persoalan politik, kesadaran para pengambil keputusan dan masyarakat pada umumnya tentang pentingnya menjaga bahasa nasional.

Baca lebih lanjut

Kehadiran Badan Bahasa

Eka Budianta*, KOMPAS, 9 Okt 2015

Ilustrasi: Intisari

Ilustrasi: Intisari

Untuk pertama kali, belasan sastrawan Indonesia yang pernah mendapat penghargaan nasional dan regional diundang diskusi. Itulah gebrakan Kepala Pusat Pembinaan Badan Bahasa Gufran Ali Ibrahim yang baru diangkat awal September 2015.

Sastrawan Taufiq Ismail tampil dengan daftar kebutuhannya. Sebelum 1930-an, lulusan sekolah menengah atas (AMS) minimal baca 25 novel, mengenal puisi, dan menulis 180 karangan dalam tiga tahun, atau lima tugas menulis dalam sebulan. Alhasil, kita mendapat pemimpin bangsa yang hebat, dengan pengetahuan luas dan kemampuan berbahasa yang prima.

Baca lebih lanjut

Kegalauan Bahasa Indonesia

Sudaryanto*, Republika, 5 Okt 2015

Ilustrasi: Sugiyono, Badan Bahasa

Ilustrasi: Sugiyono, Badan Bahasa

Bahasa Indonesia sedang galau? Barangkali pertanyaan awal itu akan muncul di benak pembaca saat membaca judul artikel ini. Ya, bahasa Indonesia tengah mengalami kegalauan yang luar biasa. Apa pasal? Sebab, para penutur asli bahasa tersebut sedang keranjingan berbahasa Inggris ria. Buktinya, kosakata-kosakata bahasa Inggris kini banyak bertaburan di ruang publik kita. Pertanyaannya, bagaimana caranya agar kita bisa menghapus kegalauan tersebut?

Baca lebih lanjut

Bahasa Indonesia Bahasa ASEAN

Didik Sulistyanto*, KOMPAS, 19 Sep 2015

Sumber gambar: FOPDEV

Presiden Joko Widodo meminta agar syarat memiliki kemampuan berbahasa Indonesia untuk pekerja asing dihapus. Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan, permintaan Presiden Jokowi itu untuk menggenjot iklim investasi di Indonesia. “Memang disampaikan secara spesifik oleh Presiden untuk membatalkan persyaratan berbahasa Indonesia bagi pekerja asing di Indonesia,” kata Pramono, Jumat, 21 Agustus 2015.

Baca lebih lanjut

Menapak Rupiah Membenam Bahasa

Suprianto Annaf*, Media Indonesia, 6 Sep 2015

Bagi Jokowi, juga harapan seluruh rakyat Indonesia, rupiah segera bertaji. Bangkit dan berdaya saing tinggi. Apa pun diperjuangkan demi rupiah bernyali lagi. Ya, harusnya usaha itu tetap terkait alasan ekonomi: investasi tinggi atau penggunaan uang dolar dibatasi! Bisa juga dengan perizinan yang selama ini ingin dimudahkan. Langkah penyelamatan rupiah seperti ini tentu masih relevan.

Baca lebih lanjut

Oknum dalam Politik Bahasa

Seno Gumira Ajidarma* (Majalah Tempo, 19 Mei 2014)

Ada yang pernah menulis, kata “oknum” adalah kata yang paling tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Sebelum mengingat kembali apa yang dimaksud, baiklah ditengok dulu artinya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001): 1. penyebut diri Tuhan dalam agama Katolik; 2. orang seorang; perseorangan; 3. orang atau anasir (dengan arti yang kurang baik): “Oknum yang bertindak sewenang-wenang itu sudah ditahan.”

Arti ketiga ini akrab, meski tidak persis begitu. Para pewarta semasa Orde Baru sudah tahu, kalau ada alat negara seperti polisi atau militer menjadi berita karena melakukan tindak kejahatan, tanpa harus disuruh lagi mereka wajib menuliskannya “oknum polisi” atau “oknum ABRI” dan semacam itu.

Baca lebih lanjut

Satu Negeri Tiga Bahasa

Kasijanto Sastrodinomo* (Majalah Tempo, 6 Jan 2014)

Bahasa di Belgia: Belanda (Kuning), Prancis (Merah), dan Jerman (Biru).

SAAT dilantik sebagai penguasa baru Belgia, Juli tahun lalu, Raja Philippe I harus mengucapkan sumpah setia kepada negerinya dalam tiga bahasa: Prancis, Vlaam, dan Jerman. Sang Baginda tentu paham sepenuhnya bahwa monarki yang dibangun oleh moyangnya hampir dua abad silam itu hingga kini tidak memiliki bahasa resmi yang tunggal. Berpenduduk “hanya” sekitar sepuluh juta jiwa pada 2001, Belgia memberlakukan bahasa Belanda dialek Vlaam atau Flemish di wilayah bagian utara (59 persen); bahasa Prancis di kawasan Wallonia karena itu juga disebut bahasa Waal atau Vallon di bagian selatan (33 persen); dan Jerman di Dataran Arden di timur (8 persen) lihat Webster’s International Atlas, 2003.

Jauh sebelum menjadi negara kerajaan seperti sekarang, Belgia telah menampilkan wajah beragam. Orang Romawi yang pernah menduduki wilayah itu pada abad pertama sebelum Masehi memberi julukan Belgae kepada penduduk di lage landen atau “tanah rendah”. Mungkin lage landen adalah kawasan Gaul, area kuno di daratan Eropa yang kini menjadi wilayah negara-negara modern Prancis, Belgia, Belanda, dan sebagian Jerman. Di wilayah itu, migran Celt dari Eropa Barat berdatangan sejak tarikh 900 sebelum Masehi. Menurut penelitian Koentjaraningrat, sebutan Belgae menunjuk pada kumpulan etnis Celtic-German orang Aduatuci, Arduinna, Eburones, Menapii, Morini, Nerviri, Sila, dan Sturii yang bermukim di antara Schelde di barat hingga lembah Meuse di timur (lihat Masalah Kesukubangsaan dan Integrasi Nasional, 1993).

Baca lebih lanjut