“Aku” dan “Saya”

Indra Tranggono*, Kompas, 16 Apr 2016

Seperti manusia, bahasa Indonesia juga punya jiwa. Kita menjadi kenal jiwa bahasa ketika menggunakannya. Kita harus tepat memilih kata karena di dalam komunikasi lisan dan tulis ada etiket yang harus ditaati agar kita dianggap tidak sombong atau tidak santun. Contohnya tersua di dalam penggunaan kata “aku” dan “saya”.

Baca lebih lanjut

Humor Bahasa dan Bahasa Humor

Yanwardi*, KOMPAS, 12 Des 2015

Ilustrasi: Trans 7

Humor dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai sesuatu yang lucu, keadaan yang menggelikan hati, kejenakaan, dan kelucuan. Humor bisa terjadi dalam segala bidang kehidupan manusia, bisa verbal bisa nonverbal. Humor verbal, yakni yang menggunakan bahasa, dengan mudah dijumpai dalam, misalnya, acara lawak. Karena menggunakan bahasa, acara lawak menarik ditelaah dari sisi kebahasaan.

Baca lebih lanjut

Akal-Mulut dalam Ujaran Kebencian

Stanislaus Sandarupa*, KOMPAS, 20 Nov 2015

Ilustrasi: Didie SW/Kompas

Surat Edaran Kepala Polri bernomor SE/06/X/2015 tertanggal 8 Oktober 2015 tentang ”ujaran kebencian” menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Ada yang melihatnya sebagai aturan, peringatan, dan perlindungan—bahkan ancaman terhadap kebebasan berpendapat—dari sudut politik, komunikasi, dan hukum.

Baca lebih lanjut

Emosi Dan Bahasa Ibu

Ahmad Sahidah*, Majalah Tempo, 14 Sep 2015

Ilustrasi: Solutions Magazine

Akhmad Murtajib, teman baik saya, mengungkapkan dalam status Facebook bahwa ia lebih nyaman dengan penggunaan kata pasa (bahasa Jawa untuk puasa) dibandingkan dengan istilah Arab, shiyam, termasuk penyebutan wulan pasa, alih-alih syahru Ramadhan. Jelas, penegasan tersebut terkait dengan latar belakang bersangkutan yang menggunakan bahasa ibunda sebagai ungkapan keseharian sejak kecil hingga dewasa. Secara pragmatik, konteks ungkapan adalah sekaligus penegasan ideologis bahwa penghayatan keagamaan seseorang terkait dengan sisi substantif, bukan normatif.

Baca lebih lanjut

Saya, Aku

Sapardi Djoko Damono*, Majalah Tempo, 7 Sep 2015

Ilustrasi: Rose Law Caribbean

Ketika pertama kali dibawa sopir kantor yang baru saja diangkat sebagai pegawai negeri, saya sempat kaget ketika anak muda itu menggunakan kata “aku” sebagai kata ganti orang pertama. Saya, tentu saja, berharap dia menyebut dirinya “saya” seperti kalau saya menyebut diri saya sendiri. Waktu itu, saya merasa dia tidak sopan, tidak tahu unggah-ungguh. Namun saya sama sekali tidak menyinggung apa-apa tentang hal itu. Nama anak muda itu nama Jawa, tentu tidak begitu aneh kalau muncul perasaan yang tidak begitu mengenakkan dalam diri saya, seorang pegawai senior yang umurnya dua kali lipat darinya. Untuk meredakan sikap itu, saya mencoba menggunakan kata ganti “aku” juga kalau berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, tapi entah mengapa kata ganti itu malah membuat saya merasa lebih tidak enak lagi, merasa kikuk.

Baca lebih lanjut

Konteks Kalimat

Bagja Hidayat*, Majalah Tempo, 22 Jun 2015

Ilustrasi: Ketaksaan. Sumber: WPDownUnder

Di sebuah grup WhatsApp, kelompok bincang dalam telepon seluler, ada percakapan seperti ini:

– Halloo, teman, tanggal berapakah Lebaran?
+ Hallooo, Insyaallah tanggal 1 Syawal
– Yeee, tanggal Masehi dooong
+ Ah, Masehi mah enggak Islami….

Baca lebih lanjut

Bagaimana Mengukur Makna?

Yanwardi*, KOMPAS, 20 Jun 2015

Beberapa waktu yang lalu, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Tedjo Edhy Purdijatno dilaporkan ke Bareskrim Mabes Polri. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama pun demikian: dilaporkan. Entah berapa banyak lagi yang melaporkan atau dilaporkan kepada pihak yang berwajib terkait dengan ucapan atau perkataan. Kata-kata sebagai musabab pelaporan tentu bukan sebagai fisik lambang (penanda) saja, melainkan sebagai tanda yang mencakup pula konsep atau makna yang diembannya (petanda). Bahkan, makna bisa hadir ”di luar” persepsi yang biasa direkam dalam kamus.

Baca lebih lanjut

Tanda

Novi Yulia*, Media Indonesia, 31 Mei 2015

Sebagai penumpang angkutan umum, saya paling sebal bila di dekat saya ada yang merokok. Padahal, sudah lazim di mana-mana di bus, di angkot, atau di keret api ada tanda dilarang merokok. Bau rokok bagi kalangan perempuan sungguh menyesakkan dada. Apalagi mengingat bahaya rokok bagi kesehatan yang bisa mendatangkan penyakit kanker. Namun, para ahli isap itu masih tetap saja merokok meski berbagai bahasa tanda telah ditunjukkan kepada dia, mulai batuk-batuk, mengibas-ngibas tangan mengusir asap rokok, sampai memandang tajam pada si perokok.

Baca lebih lanjut

Revolusi Bahasa dalam Politik Gender

Mariana Amiruddin*, Majalah Tempo, 12 Jan 2015

Ilustrasi: National Communication Association

Sejumlah pemikir perempuan menemukan bahwa hampir semua bahasa dunia ternyata tidak netral gender. Bahasa kemudian perlu menjadi ruang politik gender. Apa yang disemayamkan dalam bahasa ternyata kental dengan bias patriarki. Deborah Cameron, seorang ahli linguistik, mengatakan bahwa “kata” tidak memiliki makna, tapi masyarakat yang memaknainya (words don’t mean, people mean). Kata laki-laki, perempuan, pria, dan wanita telah dimaknai masyarakat patriarki dan tecermin dalam kamus besar bahasa (konvensi bahasa). Karena itulah pemikir dan gerakan emansipasi membongkar, lalu memaknai kembali kata perempuan sebagai bentuk afirmasi, menjadikannya positif, eksis, menjadi empu, yang dibanggakan, menjadi dirinya sendiri.

Baca lebih lanjut

Metamorfosis ‘Kiri’

Majalah Tempo, 6 Jan 2013. Samsudin Adlawi, Wartawan Jawa Pos dan penyair.

Sumber gambar: Fellowship of the Minds

KIRI dan kanan. Antonim dua kata itu tidak terbatas pada arah semata, tapi juga menjalar hingga ke aspek kehidupan lebih luas, dari etika pergaulan sehari-sehari, religi, hingga politik.

Dalam kehidupan sosial-budaya, “kanan” dianalogikan kepada hal-hal baik. Sebaliknya “kiri” dikaitkan dengan yang tidak baik. Ketika anak balita menjulurkan tangan kiri untuk menerima permen pemberian orang, orang tuanya akan segera mencegah dan bilang, “Hayo, tangan kanannya mana?”

Baca lebih lanjut