Deparpolisasi

Qaris Tajudin*, Majalah Tempo, 25 Apr 2016

Ketika Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama memutuskan untuk maju dalam pemilihan kepala daerah sebagai calon independen, dunia politik geger. Sejumlah partai politik melakukan manuver agar Ahok-panggilan Basuki-gagal maju dalam pemilihan gubernur pada 2017.

Kegerahan partai politik ini dapat dimengerti karena sampai saat ini popularitas Ahok masih tinggi, bahkan jauh lebih tinggi daripada calon-calon gubernur Jakarta lainnya yang sudah mengumumkan diri. Jika Ahok berhasil maju dan bahkan menang, partai politik tak diperlukan lagi dalam percaturan politik. Toh, tanpa partai pun seseorang bisa maju menjadi kepala daerah.

Baca lebih lanjut

Iklan

Ihwal Profesi dalam Sastra

Zen Hae*, Majalah Tempo, 19 Okt 2015

Ilustrasi: Last Bender

Bahasa Indonesia punya sejumlah cara dalam membentuk nomina yang bermakna “profesi” atau “pelaku”. Dari membubuhkan prefiks pe-, menempelkan aneka sufiks serapan, hingga menambahkan kata “tukang”. Sejumlah profesi dalam dunia kesusastraan mengalami semua itu: penyair, esais, novelis, cerpenis, deklamator, tukang cerita.

Baca lebih lanjut

Ihwal “-isasi”

Tendy K. Somantri*, KOMPAS, 18 Okt 2014

Pada sebuah pertemuan penerbitan pers internasional di Bangkok, Juni 2011, saya berbincang dengan beberapa editor dari Malaysia. Perbincangan kami berkisar pada perbandingan bahasa Indonesia dan bahasa Melayu. Satu hal menarik yang kami perbincangkan saat itu adalah perbandingan penyerapan kata dari bahasa Inggris oleh bahasa Indonesia dan bahasa Melayu (Malaysia).

Baca lebih lanjut

Kisah Akhiran “ir” dan “isasi”

Lampung Post, 29 Des 2010. Oyos Saroso H.N.: Jurnalis.

GARA-GARA Soekarno-Hatta “memproklamirkan” kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, maka akhiran “ir” seolah menjadi salah satu khazanah akhiran dalam bahasa Indonesia. Maka, dalam praktik berbahasa sehari-hari, banyak orang latah dengan sering menyebut kata “koordinir”, “mengakomodir”, “mempolitisir”, dan sebagainya.

Sialnya, pemakaian akhiran “ir” ini sungguh produktif. Mungkin karena masyarakat gemar analogi. “Mengkoordinir” pembentukannya dianalogikan dengan “memproklamirkan”. Padahal, sebenarnya sudah ada padanan akhiran “ir” dalam bahasa Indonesia, yaitu “isasi”. Namun, nah di sinilah lucunya, akhiran “sasi” atau “isasi” itu sendiri sebenarnya juga bukan akhiran asli bahasa Indonesia. Ia merupakan serapan dari akhiran bahasa asing.

Baca lebih lanjut

Di Balik Koranisasi dan Radionisasi

Lampung Post, 14 Jul 2010. Ninawati Syahrul: Pegawai Kantor Bahasa Provinsi Lampung.

Media. Sumber: iStockphotoAPA sesungguhnya yang ada di balik bentuk koranisasi dan radionisasi dari segi kebahasaan? Bentuk koranisasi dan radionisasi sepertinya sama karena sama-sama berakhir dengan ‘isasi’.

Sekalipun kedua bentuk itu sepertinya sama, kenyataannya tidak demikian. Bentuk koranisasi memiliki kata dasar koran, sedangkan radionisasi memiliki kata dasar radio. Karena yang pertama berakhir dengan bunyi konsonan, yakni konsonan (n), bentuk -isasi dapat begitu saja ditempelkan hingga menjadi bentuk koranisasi.

Baca lebih lanjut