Batas-Batas Makna

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 28 Nov 2015

Ilustrasi batas (Sumber: Colette Baron-Reid)

Bagi manusia, tiada kenyataan di luar makna. Kenyataan alam semesta sebagai keseluruhan dan serpihan kenyataan sebagai unsur penyusun dan perekat bangunan alam adalah potensi makna. Realitas dunia menyata di luar kita hanya ketika makna mewujud di dalam pikiran kita. Kalau ada kenyataan di luar makna, kita—per definisi—tak mungkin mengetahuinya. Pun kemampuan pemaknaan manusiawi kita bercacat. Itulah keterbatasan kita.

Baca lebih lanjut

Iklan

Isotopi Sumpah Pemuda

Suprianto Annaf*, Media Indonesia, 1 Nov 2015

Ilustrasi Sumpah Pemuda (iBerita.com)

Memperingati Sumpah Pemuda akan menghadirkan kembali semangat yang heroik. Semangat yang mestinya memecah kesukuan, tetapi meneguhkan rasa persatuan. Semangat berbangsa yang tidak boleh dibiarkan luntur, yang tidak boleh ditukar dengan apa pun, termasuk kemewahan.

Baca lebih lanjut

Ihwal Meninggalkan Dunia

Zen Hae*, Majalah Tempo, 9 Jul 2015

Ilustrasi: Majalah Holiday

Di majalah ini edisi 2-8 Maret 2015, Bagja Hidayat menulis “Ihwal Meninggal” yang memerinci kekacauan makna terkait dengan kata tinggal dan meninggal dalam kamus kita, terutama Kamus Besar Bahasa Indonesia. Menurut dia, meninggal tidak bermakna sebagaimana yang dikandung kata induknya: tinggal. Ia tidak melukiskan sesuatu yang menetap; sebaliknya, menjauh atau meninggalkan sesuatu.

Baca lebih lanjut

Satu Bahasa, Tiga Dimensi

Hermien Y. Kleden*, Majalah Tempo, 30 Mar 2015

Ilustrasi: Tempo

Leiden, akhir Maret 2014.

Tepuk tangan memecahkan ruangan Universitas Leiden, Belanda, begitu Boediono–Wakil Presiden Indonesia ketika itu–menutup kuliah umumnya. Rektor, para dekan, ahli-ahli Asia dan Indonesia, serta mahasiswa terus bertepuk tangan sembari mendekati sang dosen tamu untuk bersalaman pada siang musim semi itu.

Baca lebih lanjut

Konteks

Uu Suhardi*, Majalah Tempo, 22 Des 2014

Seorang teman merasa perlu mengusulkan kata baru: tau. Kata itu dibuat sebagai pengganti tahu dalam arti “mengerti”, agar berbeda dengan tahu sebagai “makanan dari kedelai putih yang digiling halus-halus, direbus, dan dicetak”. Menurut dia, pemakaian tau sudah meluas dan mengikuti pelafalan (Bagja Hidayat, #kelaSelasa, 2014).

Baca lebih lanjut

Merenungkan Makna (PDIP)

Berthold Damshauser* (Majalah Tempo, 14 Jul 2014)

Lapor! Sudah saatnya saya kembali melaporkan diskusi yang terjadi pada jam mata kuliah bahasa Indonesia di Universitas Bonn, Jerman.

“Pak,” tanya seorang mahasiswa, “kami sempat membaca tulisan Bapak di kolom Bahasa majalah Tempo edisi 24-30 Juni 2013, yang berjudul ‘Evolusi Bahasa dan Manusia Indonesia’. Lepas dari kenyataan bahwa tulisan sok filosofis itu tidak lebih dari sebuah laporan biasa, kami kurang memahaminya, dimulai dari judulnya.”

“Lho,” pikir saya, “bukannya bangga tulisan guru mereka dimuat di majalah terpandang, mahasiswa saya malah mengkritik.” Tapi, ya, tak apa, daripada kesal, lebih baik memasang wajah ilmiah dan bereaksi dengan sabar: “Barangkali konsep ‘manusia Indonesia’ yang kurang jelas. Mari saya terangkan.”

Baca lebih lanjut

Bakal Calon

Mulyo Sunyoto*, KOMPAS, 24 Mei 2014

MEGAWATI Soekarnoputri dan Fadli Zon—jika keduanya cermat memaknai bahasa—boleh jadi merasa gerah membaca berita di koran-koran mengenai figur yang mereka gadang-gadang menempati kursi kekuasaan nomor wahid negeri ini. Jokowi (yang dijagokan Mega) dan Prabowo (yang dilambungkan Fadli), sebelum deklarasi masing-masing selaku calon presiden awal pekan ini, oleh media massa ditulis secara berubah-ubah sebagai calon presiden di satu ruang dan waktu, serta bakal calon presiden di rubrik dan kesempatan yang lain.

Ada media yang ajek menyebut orang-orang yang diusulkan—siapa pun pengusulnya, entah parpol entah perseorangan—sebagai penghuni prima Istana Negara 2014-2019 itu sebagai bakal calon, bukan calon. Argumen tohornya: sebelum Komisi Pemilihan Umum (KPU) resmi menetapkan Jokowi dan Prabowo atau siapa pun sebagai calon presiden, predikat yang layak untuk mereka adalah bakal calon.

Baca lebih lanjut

Isu

Kasijanto Sastrodinomo*, KOMPAS, 13 Jul 2013

Judul liputan tentang reformasi kesehatan di harian ini, ”Isu Kesehatan Hanya Menjadi Isu Politik” (Kompas, 21 Mei), menarik dicermati lebih lanjut. Dua nomina yang sama, isu, berjajar dalam satu napas judul itu. Tak diragukan, isu diserap dari kata Inggris issue yang memiliki cukup banyak arti. Yang relevan untuk keperluan bahasan kolom ini adalah arti ’point in question, important topic for discussion’ (The Concise Oxford Dictionary, 1987). Intinya, isu adalah pokok persoalan yang penting—mungkin pula mendesak—untuk dibahas, semisal isu terorisme yang berbahaya.

Demikian pula isu kesehatan berarti tentang hal-hal penting terkait masalah kesehatan yang perlu dibicarakan bersama. Dalam liputan tersebut, isu yang dimaksud adalah rendahnya mutu layanan masyarakat seperti tecermin dari rendahnya angka harapan hidup, masih tingginya angka kematian ibu saat melahirkan dan angka kematian bayi, kasus gizi buruk, hingga tingginya jumlah kematian akibat penyakit degeneratif. Jelaslah bahwa hal-hal itu merupakan masalah serius yang penting dibahas bersama untuk dicarikan pemecahannya. Tugas itu, seturut liputan, berada di pundak para pemimpin politik.

Baca lebih lanjut