Ingat Pesan Ibu

André Möller (KOMPAS, 12 Jan 2021)

Sudah pasti bahwa setiap usaha ikhlas untuk mencegah penyebaran virus korona merupakan usaha terhormat. Dunia rupanya tidak pernah segelap ini sejak wabah flu Spanyol merajalela sekitar seratus tahun yang lalu, dan kita tentu perlu memerangi ancaman baru ini bersama-sama. Meski begitu, ada cara menyampaikan informasi yang bisa dinilai baik, dan ada kebalikannya.

Sumber Ilustrasi: SMP Negeri 1 Plered

Baca lebih lanjut

Antara OK dan BH

Henry Bachtiar* (Media Indonesia, 12 Feb 2017)

Kata oke cukup familier di telinga kita. Kata itu cukup sering dipakai dalam percakapan sehari-hari. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), oke masuk ke dua kelas kata. Pertama, oke sebagai partikel (p), yakni ‘kata untuk menyatakan setuju; ya’. Kedua, oke sebagai verba yang artinya ‘setuju’. Oke berasal dari ragam cakapan (cak) dalam bahasa Inggris, okay atau OK.

Baca lebih lanjut

September

Bandung Mawardi*, Majalah Tempo, 28 Sep 2015

Ilustrasi: Artboiled

Sejarah Indonesia memuat polemik singkatan dan akronim untuk menjelaskan kejadian. Kemunculan singkatan dan akronim membuat sejarah menjadi ringkas dalam penulisan atau pengucapan. Singkatan tak selalu berirama. Akronim cenderung bernada-berirama. Di Indonesia, pembuat singkatan dan akronim memiliki pamrih-pamrih ideologi, linguistik, dan sejarah. Mereka turut mendefinisikan kejadian sebelum terpahamkan sebagai sejarah bergelimang makna. Singkatan dan akronim tak cuma mendokumentasikan kejadian berwujud ringkas, tapi juga berperan sebagai alat atau modal pengisahan sejarah.

Baca lebih lanjut

Dari VOC ke Bahenol

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 1 Nov 2014

Penduduk Nusantara sudah mengenal bentuk singkat kata setidaknya sejak 1602 ketika VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie, Kongsi Perdagangan Hindia Timur) membuka jalan bagi masuknya imperialisme Belanda di zamrud khatulistiwa. Singkatan memuat satu unit pengertian utuh, maka ia punya perilaku persis kata. Seperti kata, kemunculan singkatan didorong oleh keperluan pengguna bahasa mendapatkan tanda atau lambang yang bisa mewakili idenya guna mengungkapkan sesuatu. Sudah tentu isi tanda atau lambang itu berpaut erat dengan zamannya.

Baca lebih lanjut

Singkat Kata

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 4 Okt 2014

Kependekan kata atau lebih lazim disebut singkatan pernah membuat gundah sekelompok pemerhati bahasa Indonesia karena pemakaiannya, terutama di media cetak dan media sosial, dianggap sudah sangat keterlaluan sampai-sampai mengancam bakal merusak bahasa Indonesia. Bagaimana bisa bahasa Indonesia—rumah bersama segenap penduduk Indonesia—menjadi rusak oleh pemakaian singkatan? Namun, apakah yang mendorong orang memendekkan kata?

Baca lebih lanjut

Singkatan

Sori Siregar*, KOMPAS, 19 Apr 20014

SEORANG sopir pengangkut kota (angkot) berteriak, ”Sektor, sektor!” Sambil berteriak ia menunjuk ke arah angkot yang akan pergi ke tempat yang disebutnya ”sektor” itu. Warga setempat di salah satu permukiman yang luasnya seperti kota itu sangat maklum akan maksud si sopir angkot.

Permukiman yang sangat luas itu dibagi atas sembilan sektor. Namun, tanpa bertanya pun warga setempat telah maklum bahwa yang dimaksudkan sopir angkot itu adalah Sektor-9 (sembilan). Mengapa sang sopir tidak menyebut Sektor-9? Jawabannya jelas: untuk menghemat kata. Bahwa penghematan itu membuat orang bingung, bukan soal buat sang sopir dan rekan-rekannya.

Baca lebih lanjut

Pesawat Minum di Depot

Samsudin Adlawi* (Majalah Tempo, 19 Mei 2013)

Mengapa tempat ini disebut stasiun? Pertanyaan itu selalu menggoda setiap kali saya membeli bensin di SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum). Bukankah stasiun identik dengan kereta api dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan urusan bahan bakar?

Pemakaian istilah stasiun untuk tempat pengisian bahan bakar terasa janggal dan menarik jika kita kaji ulang. Ternyata penggunaan kata stasiun untuk menyebut tempat penjualan bahan bakar memang tidak tepat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (edisi keempat), definisi lema stasiun terkait hanya dengan dua hal, kereta api dan meteorologi, yakni “1 tempat menunggu bagi calon penumpang kereta api dsb; tempat perhentian kereta api dsb; 2 Met bangunan yg dilengkapi peralatan secara khusus untuk melaksanakan fungsi tertentu”. Contohnya stasiun aerologi (stasiun udara atas) dan stasiun bumi (tempat menangkap dan menyebarkan siaran secara elektris)”.

Baca lebih lanjut