Bahasa Waria

Holy Adib* (Pikiran Rakyat, 7 Agu 2016)

Dalam kehidupan sosial terdapat banyak komunitas atau kelompok, baik resmi maupun tidak resmi. Beberapa komunitas memiliki bahasa tersendiri untuk berkomunikasi antaranggota komunitas. Bahasa tersebut untuk memperkuat keakraban antaranggota atau sebagai bahasa sandi komunitas agar isi pembicaraan atau informasi yang dibincangkan dalam internal komunitas tidak diketahui oleh pihak di luar komunitas.

Baca lebih lanjut

Cuma Bahasa Slang, Jangan “Baper”

Sarie Febriane & M. Hilmi Faiq, Kompas, 25 Okt 2015

Ilustrasi: KOMPAS/Riza Fathoni

Ilustrasi: KOMPAS/Riza Fathoni

Apakah Anda cukup akrab dengan istilah seperti LOL, LMAO, kthxbye, XOXO, BRB, YOLO, ROTFL, FTW, FYI, OMG, atau ZOMG? Dapatkah Anda mengira arti kata-kata berikut, seperti warbiyasak, gaes, gosah, ciyus, mager, baper, woles, gegara, tetiba, atau KZL? Bukan bahasa, melainkan itulah slang di jagat virtual.

Baca lebih lanjut

Asoi Ada Alai Lebai

Tendy K Somantri*, KOMPAS, 5 Mei 2014

PADA suatu pagi, ketika saya berdesakan dalam keramaian lalu lintas di Bandung, mata saya terpaku pada pelat nomor kendaraan sebuah mobil tahun keluaran lumayan baru. Di pelat nomor itu tertera ”D 4500 OOY”, yang sekilas terbaca ”D ASOOOOY”. Nomor kendaraan berbau alay itu membuat mata saya mengirimkan sinyal ke sel-sel kelabu di otak, membuka pemangkal data kosakata lama. Ah, apakah ”asoy” masih merupakan kata yang dikenal saat ini?

Asoy—sebuah bentuk slang (sekarang dikenal dengan gaya selingkung) yang populer pada 1970-an—masih terekam dalam otak saya.

Asoy biasanya digunakan oleh remaja sebagai pemelesetan dari kata asyik. Ada juga yang menyebutkan asoy sebagai akronim dari asyik indehoy, ’asyik berpacaran’.

Biasanya asoy digunakan sebagai interjeksi atau kata seru untuk menggambarkan suatu kejadian yang mengasyikkan atau lebih dari sekadar asyik. Tidak jelas kelompok masyarakat mana yang kali pertama menggunakan kata asoy itu. Yang jelas, saat itu asoy begitu mewabah hampir ke seluruh lapisan masyarakat.

Baca lebih lanjut

Bling-bling

Kasijanto Sastrodinomo*, KOMPAS, 7 Des 2013

Maka berkatalah Sandra Dewi tentang klangenannya. ”Saya suka yang serba-bling-bling begitu sejak kecil,” ujarnya seperti dikutip Kompas, 8 September 2013. Ia tampak bercahaya. Lalu, apa arti kata bling-bling itu, Sang Dewi? ”Princess-princess-an, gitu,” tuturnya lagi. Ucapan yang ini bukanlah jawaban langsung atas pertanyaan itu, tetapi ada pertaliannya. Princess, sang putri, dalam kenyataan ataupun dongeng, biasanya digambarkan tampil gemerlapan. Begitu pula arti bling-bling seperti tercantum dalam Hip Hoptionary (2002), yaitu jewelry ’perhiasan’; material showoff ’benda untuk bergaya’; dan the glitter of diamonds ’kerlap-kerlip berlian’.

Baca lebih lanjut