Seng!

Geger Riyanto*, Majalah Tempo, 4 Jan 2016

Ilustrasi “tidak” (Sumber: Healing Insights)

Seumur-umur, saya mengaku, saya bukanlah orang yang mudah mengatakan tidak. Sebelum sampai pada kata “tidak”, saya akan menggelandang perbincangan menyambangi tempat-tempat lain dan terkadang tersasar pula.

Baca lebih lanjut

Iklan

Bahasamu Kastamu

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 7 Nov 2015

Ilustrasi: Agung Zetiadji

Tidak ada yang istimewa benar pada bahasa Indonesia kita dibandingkan dengan bahasa umumnya di mana-mana pun. Bahasa Indonesia adalah cara orang Indonesia terhubung satu sama lain. Antara mereka yang bersekolah tinggi dan yang buta huruf, antara si kaya dan si melarat, antara lelaki dan perempuan, antara kaum Muslim dan mereka yang punya agama berbeda, antara pejabat dan rakyat, antara orang Lamongan dari tanah Jawa dan Patipi dari bumi Papua, antara penegak hukum dan para durjana. Bahasa Indonesia dipakai bukan hanya oleh mereka yang berasal dari golongan, kelamin, derajat, agama, dan ras yang sama. Dan ”Indonesia” dalam frasa ”bahasa Indonesia” jelas menjadi pewatas kita sebagai (sesama) bangsa Indonesia yang bertutur dalam bahasa Indonesia, entah sebagai bahasa ibu atau bahasa kedua.

Baca lebih lanjut

Berbahasa Satu, Bahasa Bingung …

Mohammad Hilmi Faiq & Sarie Febriane, KOMPAS, 25 Okt 2015

Ilustrasi: KOMPAS/Riza Fathoni

Ilustrasi: KOMPAS/Riza Fathoni

Bahasa merupakan hasil konsensus masyarakat dalam menyampaikan pesan secara verbal. Ketika konsensus tersebut dipersempit ke dalam kelompok tertentu, maka kesalahpahaman dan kebingungan pun terjadi. Inilah yang muncul seiring maraknya pemakaian bahasa ”alay”.

Baca lebih lanjut

Cuma Bahasa Slang, Jangan “Baper”

Sarie Febriane & M. Hilmi Faiq, Kompas, 25 Okt 2015

Ilustrasi: KOMPAS/Riza Fathoni

Ilustrasi: KOMPAS/Riza Fathoni

Apakah Anda cukup akrab dengan istilah seperti LOL, LMAO, kthxbye, XOXO, BRB, YOLO, ROTFL, FTW, FYI, OMG, atau ZOMG? Dapatkah Anda mengira arti kata-kata berikut, seperti warbiyasak, gaes, gosah, ciyus, mager, baper, woles, gegara, tetiba, atau KZL? Bukan bahasa, melainkan itulah slang di jagat virtual.

Baca lebih lanjut

Abrogasi

Kasijanto Sastrodinomo*, Majalah Tempo, 17 Agu 2015

Ilustrasi: GoLearnTo

Mbah Bardi, juru kunci makam tua di Desa Ngarengan, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, sempat berkisah banyak kepada saya saat nyadran menjelang bulan puasa yang lalu. Di pesaréan itu, tuturnya, terbaring jasad Pak Sep, Pak Hop, dan Pak Siner, yang meninggal dunia sekian tahun lampau. Simbah, kini 83 tahun, mengenang ketiga almarhum sebagai priyayi alus yang terpandang di desanya. Ia mengaku kenal pribadi dengan mereka. Saya sendiri, lantaran beda generasi, tak pernah tahu siapa yang dikisahkan itu. Cuma, sepengetahuan saya, nama-nama itu terkait dengan sebutan jabatan amtenar tempo dulu.

Baca lebih lanjut

Relawan

Kasijanto Sastrodinomo*, Majalah Tempo, 9 Mar 2015

Ilustrasi: Núcleo de Ação Dr. Celso

Sekitar setengah abad silam, kata relawan rasanya tak pernah mencuat ke ruang publik. Tapi orang ramai kala itu terpukau pada sukarelawan yang terasa riuh hampir saban hari. Berpidato memperingati hari proklamasi kemerdekaan yang bertajuk “Tahun Kemenangan” (1962), Presiden Sukarno melukiskan bagaimana sukarelawan terbentuk. “Berjuta-juta sukarelawan,” ujarnya, “laki, perempuan, tua, muda, dari kota, dari desa, dari gunung-gunung, mengalirlah untuk mendaftarkan diri—satu bukti bahwa bangsa Indonesia sebagai satu keseluruhan bertekad untuk membebaskan Irian Barat selekas mungkin, dengan jalan apa pun.”

Baca lebih lanjut

Apa Namamu?

Yanwardi*, KOMPAS, 21 Feb 2015

Belum lama ini seorang guru besar linguistik Universitas Indonesia menyatakan kerisauannya terkait dengan penggantian kalimat ”Siapa nama kamu?” menjadi ”Apa nama kamu?” oleh sebagian ahli bahasa di lingkungan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI. Ahli bahasa itu menambahkan bahwa yang menghendaki penggantian siapa dengan apa itu adalah orang Indonesia yang berbahasa ibu bahasa Indonesia pula. Apa sebenarnya yang mendasari kemunculan ujaran masing-masing itu? Dari segi relativitas bahasa Sapir-Whorf yang menyatakan, antara lain, bahasa dan budaya saling memengaruhi, kedua ujaran tersebut menarik dibahas.

Baca lebih lanjut

Mudik, Hilir, dan Balik

Beni Setia*, KOMPAS, 24 Jan 2015

PENGALAMAN 25 tahun hidup di tengah budaya Jawa membuat saya terkadang berpikir, mudik itu akronim menuju ke udik. Sebuah kerangka berpikir biner, yang mengontraskan pedalaman yang ketinggalan dan agraris dengan kota yang modern dan bersifat industrial dengan pekerja formal dan informal yang mengelilingi dan menunjang buruh yang dibayar murah. Saya curiga, narasi ini tak bermula dari riset lapangan dan penjelajahan bacaan, melainkan melulu hasil akrobat kata ala Jawa, uthak-athik gathuk, kutak-kutik (tapi) ngepas.

Baca lebih lanjut

Bahasa Indonesia dan Kelas Menengah

Dodi Ambardi*, Majalah Tempo, 19 Jan 2015

Ilustrasi: City A.M.

Dua puluh lima tahun lalu, Dede Oetomo, sosiolog Surabaya, mengabarkan temuan menarik hasil penelitiannya tentang hubungan antara bahasa dan penggunanya di majalah Prisma edisi Januari 1989. Lebih spesifik, ia bercerita bagaimana kelas menengah Indonesia memilih ekspresi bahasanya.

Baca lebih lanjut

Miskin

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 27 Des 2014

Sebelum dikooptasi pemasar dari dunia limpah-ruah bernama Amerika, Natal adalah tentang kemiskinan, bukan urusan hadiah kinclong berbungkus blingbling. Semua kisah Natal Alkitabiah bertema kemiskinan, tiada pesta, dan jauh dari meriah. Keluarga muda di tengah perjalanan yang tak punya uang cukup untuk menyewa kamar sehingga terpaksa bermalam di kandang. Bayi baru lahir yang ditidurkan di dalam tempat minum lembu sapi. Gembala yang meronda di padang menjaga kambing domba dari maling dan binatang buas. Bahkan, cerita pencarian panjang orang kaya yang berjalan jauh dari timur membawa bingkisan mahal toh berpuncak pada kebingungan dan kekagetannya bahwa Sang Raja baru ternyata tak ditemukan di dalam istana mewah.

Baca lebih lanjut