Menapis Filter

Dony Tjiptonugroho*, Media Indonesia, 11 Okt 2015

Ilustrasi: Uniflux

Ilustrasi: Uniflux

Saat memakai sepatu di masjid sehabis salat, saya membuka pembicaraan dengan orang di sebelah saya yang ternyata seorang montir sepeda motor. Jarang-jarang saya dapat bicara dengan montir di luar bengkel. Saya otomatis bertanya-tanya kepadanya perihal mesin dan perawatan motor. Satu hal yang menurut dia penting, tetapi kerap dilupakan orang ialah filter udara.

Baca lebih lanjut

Iklan

E-Dagang Atau Dagang-E?

Zen Hae*, Majalah Tempo, 27 Apr 2015

Ilustrasi: Nationkart

Bahasa Indonesia hari ini tak henti-hentinya ditantang untuk mengatakan pelbagai hal baru dalam dunia modern. Termasuk kata atau istilah terbaru di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkaitan dengan penggunaan teknologi Internet. Sebagian besar kata atau istilah itu kita serap dari bahasa Inggris sebagai bahasa internasional yang paling banyak digunakan saat ini. Bagaimana kita menyerapnya ke dalam bahasa Indonesia, itulah soal utama tulisan ini.

Baca lebih lanjut

Hak atas Kekayaan Intelektual

K. Bertens*, KOMPAS, 13 Des 2014

Maksud tulisan ini tentu saja bukan mempersoalkan hak atas kekayaan intelektual itu sendiri. HKI itu sangat penting. Posisi kita dalam dunia internasional akan terguncang terus bila pengusaha Indonesia menjiplak begitu saja merek dagang negara lain, misalnya. HKI justru harus didukung dan diperkuat. Yang dipertanyakan adalah apakah HKI itu terjemahan tepat untuk intellectual property rights dalam bahasa Inggris. Akan tetapi, meragukan hal itu pun sudah merupakan perbuatan agak berani karena pemakaian istilah HKI (atau HAKI) sudah mantap dalam masyarakat. Sudah ada UU HKI dan sudah ada Direktorat Jenderal HKI di Kementerian Hukum dan HAM. Jadi, yang mau mempersoalkan terjemahan tadi harus mempunyai argumentasi kuat.

Baca lebih lanjut

Terjemahan

Goenawan Mohamad, Majalah Tempo, 11 Agu 2014

Lost in TranslationSaya tak mengerti mengapa film Lost in Translation disebut demikian. Karya Sofia Coppola ini bercerita tentang dua orang Amerika yang semula tak saling kenal di sebuah negeri asing, Jepang, dan akhirnya jadi akrab dan mesra, tapi tetap berpisah.

Mungkin di sini translation telah jadi sebuah kiasan. Terjemahan selalu mengandung momen pertemuan yang intens, bukan sekadar perjumpaan, dan dalam tiap pertemuan ada yang hilang, dilepas, tapi ada hal lain yang didapat. Kalaupun beberapa elemen tak kembali ketika sebuah karya dialihbahasakan ke dalam bahasa lain, selalu ada yang muncul baru.

Baca lebih lanjut

Istilah Ekonomi, Perlukah Diterjemahkan?

Arianto A. Patunru* (Majalah Tempo, 24 Mar 2014)

Ilmu ekonomi, seperti disiplin lain, seharusnya bersifat lintas bahasa. Disampaikan dalam bahasa apa pun seharusnya ia bermakna sama. Namun ternyata ia tak luput dari bias terjemahan. Istilah ekonomi banyak yang mengalami pergeseran makna setelah melalui transformasi bahasa. Contoh yang paling sering muncul adalah opportunity cost dan economies of scale.

Opportunity cost sering diterjemahkan menjadi “biaya kesempatan”. Tentu, secara harfiah, penerjemahan ini sah. Namun banyak orang sulit memahami istilah tersebut dalam konteks ilmu ekonomi. Ketika seseorang membaca kolom ini, ada kesempatan lain yang ia abaikan. Misalnya, ia bisa mengerjakan tugas kantor (atau berenang, atau tidur, tapi katakanlah alternatif terbaiknya adalah mengerjakan tugas kantor). Maka nilai atau manfaat dari mengerjakan tugas adalah opportunity cost dari membaca kolom ini. Sekadar menerjemahkan istilah itu menjadi “biaya peluang” bisa mereduksi maknanya. Orang bisa saja membayangkan harga majalah ini sebagai proksi “biaya kesempatan” membaca kolomnya. Sedangkan opportunity cost yang sesungguhnya adalah nilai dari mengerjakan tugas kantor-bisa berupa bonus atau sekadar kepuasan memenuhi tenggat. Harga dari majalah di sini adalah konsep yang lain, yaitu sunk cost, atau biaya yang tak dapat diganti lagi. Ia tidak relevan dalam keputusan memilih membaca kolom atau mengerjakan tugas kantor.

Baca lebih lanjut

Serapan

Uu Suhardi* (Majalah Tempo, 3 Maret 2014)

Setiap bahasa memiliki pola. Dalam bahasa Indonesia, contohnya, jika kata yang diawali fonem p, t, k, atau s mendapat imbuhan meng- atau peng-, fonem itu luluh. Misalnya memukul, pemukul, menari, penari, mengeras, pengeras, menyerang, dan penyerang. Dari pola, terbentuklah kaidah. Dengan kaidah itulah niscaya kita akan lebih mudah memahami dan mempelajari bahasa.

Memang, dalam kasus tertentu, pengecualian tak bisa dihindarkan.

Ada bentuk mempunyai (alih-alih memunyai), penyair (pensyair atau pesyair), dan mengkaji (mengaji), misalnya, yang tidak mengikuti pola yang membentuk kaidah itu. Apa pun penyebabnya, contoh kata-kata yang dikecualikan itu sangat produktif pemakaiannya dan dibakukan dalam kamus.

Tapi, satu hal yang tak boleh kita lupakan, makin sedikit pengecualian, makin mudah bahasa dipelajari dan dipahami.

Baca lebih lanjut

Merah yang Bukan Kirmizi

Anton Kurnia* (Majalah Tempo, 10 Feb 2014)

Dalam kata-kata Orhan Pamuk, novelis Turki pemenang Nobel Sastra 2006, melalui narator si warna merah dalam adikaryanya Benim Adim Kirmizi (1998) atau My Name Is Red, “Warna adalah sentuhan mata, musik bagi mereka yang tuli, sepatah kata yang dilahirkan kegelapan.”

Novel yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Atta Verin sebagai Namaku Merah Kirmizi (2006) ini menyatakan warna sebagai “kata yang dilahirkan kegelapan” dan tentu membutuhkan cara membedakan warna yang spesifik dan deskripsi yang akurat agar tak terjadi kekeliruan satu dengan yang lain, misalnya antara merah dan jambon.

Namun bahasa Indonesia memiliki kosakata warna yang amat terbatas jika dibandingkan dengan kosakata warna lebih rinci dari khazanah bahasa asing. Persoalan itu amat terasa, misalnya, dalam kerja penerjemahan teks sastra.

Baca lebih lanjut

Rok Luar

Kasijanto Sastrodinomo* (Majalah Tempo, 11 Nov 2013)

LANGIT membersit jernih ketika saya tiba di Bandar Udara Internasional Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat, menjelang tengah hari beberapa waktu yang lalu. Bandara itu tergolong gres, baru beroperasi sekitar tiga tahun terakhir menggantikan Selaparang yang kini tampak tua. Terletak di sebuah kawasan desa di Kabupaten Praya, Lombok Tengah, sekitar lima puluh kilometer dari Mataram, ibu kota provinsi, lapangan gegana yang baru itu tampak megah di tengah padang kosong. Tak ada bangunan besar lain di sekitarnya. Sebagian besar area lahan yang masih terbentang luas itu berupa sawah, ladang, dan sedikit hunian penduduk. Dulu, kata sopir yang menjemput saya, kawasan itu sangat sepi dan jarang didatangi orang.

“Ada yang menyebutnya rok luar,” ujar Pak Sopir tertawa kecil. Dia mengaku tak paham maksud istilah itu karena cuma dengar dari obrolan para pakar yang pernah ia jemput. Saya ingat gurauan serupa, entah siapa pemulanya, yang menyebut “rok luar” sebagai terjemahan outskirts secara harfiah. Dalam The Con­cise Oxford Dictionary (1987), kata itu berarti “outer border or fringe of town, district, subject, etc.” Ringkas kata, outskirts adalah daerah pinggiran kota. Awalnya, kata itu berbentuk tunggal yang dirakit dari out plus skirt, dan supaya tidak kèder dengan pakaian “rok” dibuatlah jamak. Perihal “rok” itu dalam kosakata Inggris cukup disebut skirt, yang dijelaskan sebagai “woman’s outer garment hanging from waist” alias pakaian luar perempuan yang menggantung dari pinggang ke bawah. Ngisoran, kata orang Jawa.

Baca lebih lanjut

Remot

KOMPAS, 5 Okt 2012. Salomo Simanungkalit.

Sumber gambar: Telly on a Plate

Sampai semalam saya masih memantangkan sebutan ”remot” bagi benda pudat tombol yang memungkinkan kita mengoperasikan televisi dari titik berjarak. Kesulitan pertama dan terbesar oleh kekerasan hati ini justru terjadi di rumah sendiri.

”Tolong ambilkan benda itu!”

”Maksud Bapak: remot?”

Mau bilang apa saya kepada putri saya yang masih duduk di kelas besar taman kanak-kanak itu?

Baca lebih lanjut

Devosi, Jombrot, dan Tembolok

Pikiran Rakyat, 26 Agu 2012. Setyadi Setyapranata, dosen Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.

Sumber gambar: DinoMite

“Devosi”, “jombrot”, dan “tembolok”, hanyalah contoh model pengindonesiaan bahasa asing yang boleh dikata mewakili tiga “aliran” penerjemahan istilah teknis. Devosi diserap dari aslinya devotion, rangkaian ritual tertentu di gereja Katolik. Mungkin pencipta istilah semacam ini yakin tidak ada kata dalam bahasa Nusantara yang tepat berpadanan dengan aslinya, baik makna, konsep, maupun bentuknya, maka diserap saja dengan dimiripkan ejaannya. Contoh yang ”sealiran” devosi, misalnya mitigasi, dan hotplat. Semboyan mereka ”Mengapa susah-susah cari terjemahan, kalau serapannya sudah dapat dipahami”. Mereka yakin bahwa cara mereka dapat memperkaya bahasa nasional, dan bahkan dapat mengarah ke ”globalisasi” bahasa kita, meskipun cara ini sering disebut terlalu mengejar bentuk (form-based) aslinya.

Baca lebih lanjut