Gusti Allah

Sapardi Djoko Damono*, Majalah Tempo, 1 Jun 2015

Ilustrasi: God Is Real

Begitu masuk ke habitatnya yang baru, segala sesuatu harus rela untuk berubah atau diubah agar sesuai dengan tata pemahaman masyarakat yang menjadi sasarannya. Kita pernah berbincang mengenai proses yang menyangkut nama-nama negara. Sebagai contoh Nederland, yang dalam bahasa Indonesia disebut Negeri Belanda dan dalam bahasa Jawa disebut Negari Welandi atau Negoro Londo, tergantung bahasa Jawa apa yang dipergunakan. Ketika masuk ke bahasa kita, segenap istilah dan sebutan yang berkaitan dengan agama mengalami proses serupa.

Baca lebih lanjut

Iklan

Di Mana Tu(h)an?

Qaris Tajudin* (Majalah Tempo, 5 Mei 2013)

Bulan lalu saya Jumatan di sebuah masjid dengan nama yang cukup indah, Taman Ibadah. Agak jarang tempat ibadah umat Islam memakai nama dari bahasa Indonesia. Hampir semua masjid memakai nama dari bahasa Arab, seperti At-Taqwa (nama paling banyak dipakai untuk masjid Muhammadiyah), Al-Muhajirin (biasanya di kompleks perumahan, karena berarti orang-orang yang pindah), dan Masjid Al-Qithaar (artinya kereta api, karena terletak di dekat stasiun di Surabaya).

Khatib berkhotbah tentang keimanan dan kepatuhan kepada Tuhan. Tapi, sepanjang ceramah, dia sama sekali tidak menyebut kata Tuhan. Ini bukan pertama kali saya mendengar ceramah dari seorang mubalig yang alergi pada kata Tuhan. Dan alasan yang saya dengar dari mereka yang menolak menyebut Tuhan ini agak aneh: “Seharusnya kita menyebut Allah, bukan Tuhan. Karena Tuhan itu bisa berarti banyak, sedangkan Allah hanya satu.” Agak ganjil. Bukankah, dalam iman tauhid, Tuhan itu hanya satu? Artinya, kita tak perlu khawatir akan tertukar oleh Tuhan lain saat menyebut kata Tuhan.

Baca lebih lanjut