Istilah Kampanye Hitam yang Salah Kaprah

Rohman Budijanto* (Majalah Tempo, 9 Jun 2014)

SEORANG kawan asal Malang, Jawa Timur, yang sedang belajar di London mempertanyakan kenapa media-media di Indonesia memakai istilah “kampanye hitam” untuk menyebut serangan opini yang buruk tentang pihak lawan politik. Dia, mungkin juga banyak orang lain, heran mengapa warna hitam selalu diidentikkan dengan sesuatu yang buruk. Di negara-negara yang penghormatan hak asasi manusianya lebih kuat, kata “hitam” atau black memang harus digunakan dengan lebih hati-hati karena bisa berisiko persoalan rasisme.

Uniknya, istilah “kampanye hitam” seolah-olah diterjemahkan dari bahasa Inggris, black campaign. Padahal, kalau kita memasukkan istilah itu ke mesin pencari di Internet, black campaign justru bisa berarti mulia, yakni gerakan perjuangan opini untuk memperkuat pemenuhan hak-hak asasi, termasuk hak kaum Afro-Amerika (www.blackcampaign.com).

Istilah black campaign yang direproduksi oleh komentator dan politikus, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, adalah bahasa Inggris bentukan kita sendiri, karena dalam bahasa asalnya sudah sangat berbeda makna.

Baca lebih lanjut

Iklan

Sebelum Kita Mengenal Cokelat

Qaris Tajudin* (Majalah Tempo, 12 Mei 2014)

Pekan lalu, sambil memplontosi kepala saya, pemangkas rambut menawarkan madu merah dari Kalimantan. Rupanya, berjualan madu ini adalah bisnis sampingannya. Ia memanfaatkan ketidakberdayaan saya saat dipangkas untuk memasarkan jualannya dengan leluasa. Saya tak tertarik membahas khasiat madu yang ia lebih-lebihkan. Saya lebih tertarik membahas kenapa dia menyebut madu di dalam botol transparan di atas meja itu sebagai madu merah. “Karena warnanya memang merah,” kata pemangkas asal Garut itu. Saya berkeras menyatakan bahwa warna madu itu cokelat. Kesepakatan tak tercapai, dan saya tidak membeli madunya.

Pengalaman serupa saya temui beberapa tahun lalu ketika berkunjung ke Madura. Seorang teman mengajak saya melihat sapi karapan yang, kata dia, berwarna merah. Saya penasaran karena belum pernah melihat sapi merah. Setahu saya, sapi itu berwarna putih-hitam, putih, atau cokelat. Saya kecele, sapi yang diyakini merah itu ternyata berwarna cokelat mengkilat. “Itu bukan cokelat, itu merah,” ujar teman saya berkeras. Menurut dia, warna cokelat itu seperti daun jendela yang dipelitur. Menurut saya, warna daun jendela dan daun telinga sapi karapan itu sama-sama cokelat, meski berbeda kegelapannya.

Baca lebih lanjut

Merah yang Bukan Kirmizi

Anton Kurnia* (Majalah Tempo, 10 Feb 2014)

Dalam kata-kata Orhan Pamuk, novelis Turki pemenang Nobel Sastra 2006, melalui narator si warna merah dalam adikaryanya Benim Adim Kirmizi (1998) atau My Name Is Red, “Warna adalah sentuhan mata, musik bagi mereka yang tuli, sepatah kata yang dilahirkan kegelapan.”

Novel yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Atta Verin sebagai Namaku Merah Kirmizi (2006) ini menyatakan warna sebagai “kata yang dilahirkan kegelapan” dan tentu membutuhkan cara membedakan warna yang spesifik dan deskripsi yang akurat agar tak terjadi kekeliruan satu dengan yang lain, misalnya antara merah dan jambon.

Namun bahasa Indonesia memiliki kosakata warna yang amat terbatas jika dibandingkan dengan kosakata warna lebih rinci dari khazanah bahasa asing. Persoalan itu amat terasa, misalnya, dalam kerja penerjemahan teks sastra.

Baca lebih lanjut