Tersinggunglah!

KOMPAS 8 Mei 2009. Roy Thaniago. Penggiat Agenda 18, Pecinta Bahasa Indonesia.

Seorang kawan yang baru lulus kuliah ditolak di mana-mana ketika melamar pekerjaan. Kesalahannya cuma satu, Ia terlalu bangga memakai bahasa Indonesia.

TIDAK seperti kebanyakan pelamar lain yang berfoya-foya dalam bahasa Inggris, kawan tadi memakai bahasa Indonesia dalam surat lamarannya. Jumlah alasannya memakai bahasa Indonesia pun sama dengan kesalahannya itu, cuma satu, yakni, ia melamar pada perusahaan yang ada di Indonesia, yang masyarakat, rekan kerja, dan pimpinannya berbahasa Indonesia. Perusahaan yang pekerjaanya bisa dikerjakan dalam bahasa Indonesia. Sialnya, kawan tadi lupa, kalau perusahaan di Indonesia merasa hebat ketika berhasil mengaudisi karyawannya dalam bahasa Inggris. Biar sedikit intelek, bro!

Dari perusahaan dengan banyak istilah asingnya – meeting, outing, order, customer, owner, break event point, part time, office boy – mari beralih ke bidang lain. Dalam pemerintahan, kebanggaan meminjam istilah Inggris juga amat mengenaskan – kalau tidak mau disebut mengesalkan atau memuakkan. Tampak sekali kalau para pejabat kewalahan untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia sepenuhnya, sehingga merasa perlu meminjam istilah asing. Tengoklah istilah seperti impeachment, smart card, voting, sampai yang paling tolol, busway.

Entah, tulah apa yang menelanjangi identitas kebangsaan kita. Kenapa kata-kata asing bertaburan dalam percakapan sehari-hari? Bahasa Indonesia seakan tak mampu bersolek dengan anggun bila tidak menggandeng bahasa Inggris. Orang paling bodoh sekali pun diatur gaya berbahasanya agar fasih melafal tengkyu, sori, serprais, sekuriti, syoping sebagai syarat penduduk berwawasan global – walau pengetahuan dan nalarnya tidak diajak mengglobal.

Tidak ketinggalan – dan ini yang paling menyakitkan – institusi publik yang seharusnya mendidik masyarakat, malah melayani kekeliruan berbahasa tersebut. Kita lihat bagaimana sekolah-sekolah berbangga dengan mengganti namanya dengan bahasa Inggris. Universitas mengiklankan dirinya di media dengan istilah Inggris seperti admission, free laptop, the leading university, faculty of management, dan seterusnya. Padahal target pemasarannya adalah orang-orang yang sehari-hari berbahasa Indonesia.

Media cetak maupun elektronik juga melayani semua kekenesan ini. Simak saja kata-kata yang mondar-mandir di halaman mata kita. Ada Today Dialogues, Woman of the Year, Sport, Headline News, dan sebagainya. Pada SINDO, sebuah media massa nasional, yang logikanya adalah sebuah media yang turut bertanggungjawab terhadap budaya berbahasa, pun bersikap demikian. Coba periksa koran ini pada tiap edisinya. Di halaman depan, mata pembaca sudah dihadang dengan rubrik ‘news’ dan ‘quote of the day’. Usaha meng-inggris ini belum usai, karena disusul di lembar-lembar berikutnya: rubrik ‘financial revolution’-nya Tung Desem Waringin, rubrik ‘people’, rubrik ‘fashion’, rubrik ‘food’, rubrik ‘rundown’, atau cap ‘special report’ pada artikel tertentu. Jangan tersenyum geli dulu, karena bukan saja SINDO, koran-koran lainnya pun tak luput dari gaya-gayaan berbahasa ini.

Mau contoh lain? Tak usah pergi jauh, karena cukup sambil duduk menggenggam halaman ini, bayangkanlah segala sesuatu di sekitar anda: merek permen, keterangan dalam bungkus mie instan, nama restoran, keterangan dalam gedung (exit, toilet, emergency), dan seterusnya, dan sebagainya, yang kalau dituliskan semua, artikel kali ini hanya akan memuat daftar ‘dosa’ tersebut. Dan tentunya memanjangkan rasa jengkel.

Lalu, menjadi sehebat Inggris atau Amerika-kah bangsa ini ketika berhasil mengadopsi bahasa mereka? Apakah dengan serta merta ekonomi negara menjadi seciamik mereka? Apakah dengan begitu terlihat cerdas karena berhasil mensejajarkan diri dengan bangsa Barat? Sampai sebegitu jijiknyakah kita terhadap bahasa Indonesia sehingga pada kata ‘peralatan kantor’ perlu ditemani kata dalam kurung ‘stationery’, ‘nyata’ ditemani kata dalam kurung ‘real’, atau ‘kekuatan’ yang ditemani ‘power’? Seakan mata kita lebih karib dengan kata di dalam kurung ketimbang kata dalam bahasa Indonesia-nya.

Masih cukup waraskah kita ketika menertawakan seorang artis muda yang ber-Inggris ria, “hujan.. beychek.. ojhek”, yang padahal adalah cermin dari ketidakberpribadian diri kita sendiri? Atau celakanya, latah pun kalau bisa dibuat-buat agar yang keluar secara spontan adalah kata, ‘oh my god’, ‘monkey’, ‘shit’, ‘fuck you’, atau ‘event organizer’.

Pada kasus lain kita temukan bagaimana sikap sok inggris ini tidak diimbangi dengan pengetahuan memadai. Contoh paling fatal, juga paling tolol, ada  pada isitilah ‘busway’ yang tidak mengindahkan aturan bahasa, terlebih logika. Mana ada frase, “ke Blok M naik ‘jalanan bis’ sangat nyaman”.

Coba perhatikan, bagaimana kita melafal ‘AC’ (Air Conditioner) dan’HP’ (Hand Phone). Bukankah kita menyepel a-se untuk ‘AC’ dan ha-pe untuk ‘HP’? – padahal kalau sok Inggris layaklah dieja ei-si dan eitch-pi. Tapi tidak pada ‘VCD’ (Video Compact Disc) dan ‘PC’ (Personal Computer), karena kita menyepel vi-si-di dan pi-si. Konyolnya, ‘Media Nusantara Citra’ (MNC), dieja dengan em-en-si, bukan em-en-ce.

Yang paling menyedihkan, justru yang menghargai budaya (bahasa) Indonesia adalah orang asing. Mungkin kita sudah bosan mendengar bagaimana bertaburnya kelompok musik gamelan Jawa di Amerika. Di Eropa, beberapa konservatori musik malah menyediakan jurusan musik karawitan atau gamelan bali. Tengoklah yang terdekat, misalnya di Erasmus Huis, sebuah pusat budaya Belanda di Kuningan, Jakarta Selatan. Dalam program bulanan kegiatan yang dicetak di atas brosur, bahasa Indonesia-lah yang didahulukan, kemudian baru disusul dengan bahasa Belanda kemudian Inggris. Bila ada pementasan pun, buku acara, bahkan kata sambutannya pun – walau terbata-bata – mendahulukan bahasa Indonesia. Gilanya, hal ini justru terbalik bila artis Indonesia yang tampil.

Pada konser Nusantara Symphony Orchestra yang berkolaborasi dengan Tokyo Philharmonie Orchestra di Balai Sarbini, 10 Juni 2008 lalu, sebagai perwakilan dari Indonesia, Miranda Goeltom yang orang Indonesia memberi sambutan, tentunya dalam bahasa Inggris. Lalu, sebagai perwakilan Jepang, kata sambutan dari ‘Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Jepang untuk Republik Indonesia’, Kojiro Shiojiri menyusul. Shiojiri yang asli Jepang ini, yang tidak ada untungnya karena memakai bahasa Indonesia, malah dengan pede-nya berpidato dalam bahasa Indonesia, meski terbata. Sudah cukup muakkah membaca kenorakan kita di atas?

Memang, bahasa yang hidup adalah bahasa yang dinamis dan terus dirusak. Tidak seperti bahasa yang sudah mati seperti bahasa Latin. Namun dalam konteks ini, sama sekali tidak menandakan bahwa masyarakat Indonesia sedang mengembangkan bahasanya secara sadar. Sebaliknya, masyarakat kita tidak mempunyai kemampuan untuk mengenali fenomena budaya yang menggigiti identitas bangsa.  Tidak mampu mengatasi kekagokkannya sendiri terhadap budaya asing. Mirip orang kampung yang merias berlebihan dengan segala pernak-pernik kota sepulangnya ke kampung halaman.

Bangsa yang persoalan budaya-nya dianggap sepele bukan Indonesia sendiri. Tenang saja, kita ada kawan. Bangsa Romawi adalah kawan yang dimaksud. Secara militer Romawi memang menjajah Yunani, tapi dalam hal kultural, Yunani-lah yang menjajah. Kalau kita, militer dijajah, budaya dijajah, ekonomi juga dijajah. Lalu apa yang bisa membuat bangsa ini tidak terjajah? Ketika tersinggung saat membaca artikel ini, begitu jawabnya.

Jadi, tersinggunglah!

Iklan

40 thoughts on “Tersinggunglah!

  1. Tersinggung? Silahkan jika ingin kalah terus dalam persaingan dunia. Silahkan tersinggung dalam tempurung, bung! Oh yach, Anda mungkin baca komentar saya dalam Mesin Hitung Pribadi (Personal Computer), memakai tetikus (mouse) dan papan kunci (keyboard), jadi mohon jangan pakai barang-barang asing itu.

    • Menurut saya, sebaiknya sesuai konteks. Kalau lawan bicaranya orang Indonesia, biasakan berbahasa Indonesia juga. Banyak bahasa yang punah lantaran tak banyak digunakan.

      • dulu saat mburuh di pabrik, setiap ber email ria di sarankan memakai bhs inggris meskipun saat itu di kirim ke orang2 indonesia. tujuannya sih supanya kalau suatu saat di fwd ke bos di atas bisa memahami isi email tsb.
        eh lakok curhat :)

  2. Harusnya bidang-bidang yang memimpin perangkat bahasa di negeri ini seperti pendidikan dan media massa lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia. Akan tetapi, hal tersebut juga harus diimbangi sosialisasi dan standar yang jelas dalam bahasa Indonesia. Lihat saja bukti para kaum expatriat yang belasan tahun tinggal di Indonesia, tapi tak bisa berbicara sedikitpun bahasa Indonesia. Salah siapa, hayo?

  3. Tersinggung? Hemm… Tidak. Yauda, kalo anda menganggap kita terjajahi oleh bahasa asing itu mungkin opini anda. Tapi, apa yah jadinya Indonesia tanpa ada penggunaan bahasa asing? Indonesia bukan negara adikuasa, tapi negara berkembang ya kan? Kalau berkembang, apa kita mau diam di satu tempat saja? Tanpa mempelajari apa yang dunia lakukan, saya rasa bukan Indonesia saja yang banyak menggunakan bahasa inggris. Ingat bung, semua negara hampir mengadopsi bahasa dari bahasa inggris mau pun prancis dll. Saya rasa kita bukan terjajah lagi karena berbahasa asing, kita terus belajar bung. Perkembangan itu penting, indonesia tidak mau diam ditempat.

  4. Seperti bangsa lain di dunia, bahasa-bahasa mereka juga mengalami pencampuran ‘acak kadut; dalam percakapan sehari2.. Dan karena buat saya sih tidak masalah jika dalam percakapan sehari2, pergaulan yang cair, kita menggunakan bahasa2 pengganti, singkatan dan frokem. Saya tidak ‘saklek’ dengan aturan ini.

    Tapi ada benarnya kata artikel ini, kenapa koran, media massa, juga instansi-instansi pemerintah ikutan “merasa cair dan gaul” ?

  5. Beneran mas itu perusahaan dengan pernyataan tersurat menolak pelamar yang bersangkutan HANYA karena dia menggunakan bahasa Indonesia, tanpa alasan lain?

  6. Ohya, btw saya juga lebih bangga kalau pencampuran bahasa, frokem2 dan “rasa cair” berbahasa itu justru menyesuaikan budaya lokal. Ngomong sehari degan teman bercanda sambil berbahasa Indonesia -campur Jawa-Sunda-Aceh,..

    *numpang nyampah ya Om2..

  7. saya juga lagi mikirin salah satu teknisi kapal, sertifikatnya dikeluarkan departemen of communication tapi capnya departemen perhubungan.

  8. Ping-balik: BELLAMYBUDIMAN | Blog | BLOG ARCHIVE » My Take on Using Indonesian or English

  9. Menurut saya, pasti ada alasan tertentu yg membuat si perusahaan mengharuskan calon pelamar menguasai bahasa Inggris, entah itu karena nanti si karyawan akan banyak berhubungan dengan vendor2 asing, atau mereka punya bos orang asing, pasti sedikit banyak si karyawan dihadapkan di kondisi harus berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Lagipula ga bisa dipungkiri kalau sekarang kan era perdagangan bebas, banyak investor asing, belum lagi skrg ada CAFTA, jadi sebaiknya memang setiap calon karyawan membekali diri dgn kemampuan bahasa asing. Kalau mslh penggunaan dlm kehidupan sehari2 yg kadang2 ngaco dan keminter sih itu balik ke pribadi masing2 ya, bagusnya sih bisa menyesuaikan diri aja sama situasi dan kondisi :D. *komen yg serius sekali*

  10. apa mungkin karena bahasa Indonesia itu terlalu banyak memiliki makna kali ya, seperti ambigu begitu makanya agak riskan kalo pake bahasa Indonesia? — ini atas dasar pemikiran saya pribadi, karena begitu banyak teman2 saya yang lebih cenderung menggunakan bahasa Inggris untuk mendeskripsikan sesuatu yang sudah umum (general)

    aneh..

  11. Terlalu bangga memakai bahasa Indonesia atau tidak mampu berbahasa Inggris? Teman Anda baru lulus, kemudian melamar pekerjaan bersama pelamar-pelamar lainnya yang juga baru lulus. Belum ada pengalaman kerja. Logikanya kalau nilai akademis teman Anda sama dengan nilai akademis pelamar di sebelahnya tapi pelamar di sebelahnya itu bisa berbahasa Inggris dan teman Anda tidak, yang mana yang kira-kira akan dipilih?

    Mungkin perusahaan tempat dia melamar itu perusahaan Indonesia, pimpinan dan personel-personelnya orang Indonesia. Tapi dalam kegiatan dia berindustri, pesaing-pesaingnya, penanam modal-nya orang Indonesia juga? Mungkin saja kan perusahaan itu ogah rugi keluar uang lebih banyak untuk biaya training bahasa Inggris karyawan baru?

    Saatnya Anda berkata pada teman Anda, selamat mengarungi kehidupan nyata. Daripada tersinggung, lebih baik kita berusaha menyesuaikan diri saja dengan tuntutan dunia kerja jaman sekarang, bukan dunia kerja yang harus kita tuntut menyesuaikan diri dengan kualifikasi kita.

    Hanya opini saya saja, jangan marah ya :)

    • Sebenarnya yang perlu diperhatikan iklan lowongan pekerjaan perusahaan tersebut. Kalau iklan tersebut dalam bahasa Inggris dengan kriteria kemampuan pelamar berbahasa Inggris, maka mungkin perlu digunakan bahasa Inggris. Bila iklan lowongan pekerjaan yang dibaca berbahasa Indonesia, maka kemampuan berbahasa asing bisa dicantumkan di Riwayat Hidup dan bisa dikenali kebenarannya pada waktu wawancara.

      @ Dewangga: Lebih enak kalau bisa ikut berkembang dengan memiliki citra diri yang kuat…Dalam pembelajaran bahasa asing sekarang ini, keberagaman budaya, bahasa, dan etika ikut diperhitungkan dalam pembelajaran bahasa.

  12. Mungkin habis ini akan ada orang yang menuliskan opini & menganjurkan agar mereka yang nggak lolos masuk kampus negeri agar ramai2 tersinggung karena nilai ujiannya tak memenuhi syarat kelulusan!

  13. Sekedar info: Lebih banyak orang RRC (China) yang bisa berbahasa Inggris dibanding Amerika Serikat. Demikian juga halnya dengan India. Bahasa Inggris memiliki begitu banyak serapan bahasa asing, terutama dari latin dan Perancis, juga seperti kata: jungle (India), orangutan (jelas darimana) dsb.
    Bahasa2 besar dunia justru berasal dari kebudayaan yang campur baur, seperti Inggris yang adalah campuran kebudayaan latin + perancis + jerman, maupun China yg merupakan campuran kebudayaan persia + turki + budaya asli.

    Teman anda (atau anda sendiri kali ya?) tidak mau berbahasa asing, atau tidak bisa? Bagaimana menunjukkan kemampuan berbahasa Inggris anda kalau untuk ngomong aja gak mau?

  14. Sebaiknya Anda singkirkan kata-kata serapan dari sansekerta dan lain sebagainya. Apa kata asli Indonesia untuk tahu, bakso, siomay, bakmi, budaya, graha, sastra, dsb dsb … Heran Anda gak tersinggung tuh dengan pemakaian bahasa2 asing itu, kok hanya menyerang bahasa Inggris?

  15. saya meliahat yang dimaksud penulis adalah “terlalu” menjajah!! bukan maslah kata-2 serapannya. g usah munafiklah. buat yang tersinggung.., tersinggunglah dengan bangga!!

  16. Tersinggung? Saya tersinggung oleh pernyataan bung Henry Eza yang di satu sisi menuduh penulis menyerang bahasa Inggris secara khusus (bukan bahasa asing lain) namun di sisi lain menyerang bahasa ibu pertiwi secara sengit! jangan pakai/singkirkan (meminjam istilah yang bersangkutan sendiri) bahasa indonesia kalau anda tidak cinta. :) Damai!!! (jijik pake piss atau peace!)
    Karena tuntutan pekerjaan, saya sering “bercumbu” dengan teks-teks hukum berupa kontrak, perjanjian dan sejawatnya. Pihak kita seringkali dirugikan akibat keharusan penggunaan bahasa asing di dalamnya. Posisi tawar kita melemah bukan saja karena kita pasrah menerima “paksaan” itu sendiri tapi juga akibat konstruksi hukum terkait yang akhirnya didikte secara terselubung. Padahal seringkali pokok materi yang diperjanjikan merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh orang lain dari kita, sehingga seharusnya “harga” kita jauh lebih mahal. Jadi? DUKUNG BAHASA INDONESIA UNTUK JADI TUAN RUMAH DI NEGERI SENDIRI.

  17. Haha, banyak juga yang berkomentar terhadap artikel tulisan Roy Thaniago yang aslinya dimuat di Kompas 8 Mei 2009 ini ya. Sebelum berkomentar lebih banyak, saya sarankan untuk membaca dulu laman Perihal blog ini.

  18. Blog ini sendiri belum menggunakan bahasa Indonesia sepenuhnya :p

    Written by Rubrik Bahasa
    8 Mei 2009 pada 01:35

    Ditulis dalam KOMPAS
    Ditandai dengan bahasa indonesia

    with 31 comments

  19. Ooo, kalau ingin membuat tersinggung gampang. Kisik-kisik aja ke pemerintah negeri jiran, “bisa nggak lu akuin Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional lu”.

    Pasti langsung maen bakar-bakaran.

    Ntar kalau sudah, ngenggres lagi pasti.

  20. yang akar katanya memang dari bahasa Indonesia, ga usah dinggris-inggiskan; yang dari sononya memang baasa Inggris, ya ga usah dipaksakan diterjemahin ke dalam bahsa Indonesia

  21. Ikut menyimak, Gan! Risuh akibat tulisan ini sungguh membahana. Padahal, ini sekadar opini penulis yang hendak menyelamatkan bahasa kita dari “penjajahan” bahasa asing. Sebenarnya perlu dirancang “aturan main” yang dapat membuat dikotomi jelas, kapan dipergunakan bahasa Indonesia dan kapan dipergunakan bahasa Inggris, agar tidak terjadi kesalahkaprahan dalam memahami konsep “bahasa yang baik dan benar”. Alhasil, saya merasa pemaparan artikel dan komentar-komentar di atas sangat menarik, layak untuk dibaca.

  22. Tulisan ini memang satire. Sayang, dibalik isinya masih banyak kosakata bahasa Indonesia yang kurang tepat, semisal bertanggungjawab (seharusnya bertanggung jawab), mensejajarkan (seharusnya menyejajarkan), bis (seharusnya bus), mie (seharusnya mi), budaya-nya (seharusnya budayanya), dan beberapa kosa kata lainnya yang masih keliru.

    Hm… ada benarnya memang apa yang disampaikan penulis, tetapi argumentasinya terlalu menggebu-gebu. Memang betul penggunaan bahasa asing (Inggris) ini amat mengancam keberadaan bahasa Indonesia. Banyak orang yang lebih mengutamakan berujar bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia. Sebenarnya bukan bahasanya yang salah, melainkan konteksnya: tinggal bagaimana kita menyesuaikan situasi dan kondisinya saja. Berbahasa Indonesialah yang baik dan benar, berbahasa Inggrislah yang baik dan benar pula. Nah, bukankah itu seimbang?

    Simpulan saya, Bahasa Indonesia itu wajib, sedangkan bahasa Inggris itu perlu (butuh).

    NB: Kepada para pengomentar opini di atas mohon menanggapi tulisan tersebut dengan bahasa yang baik dan benar. Mari kita sama-sama belajar di sini. Tabik :-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s