Pagi, Siang, Sore, dan Malam

Lampung Post, 24 Feb 2010. Ratih Rahayu: Staf Pembinaan Kantor Bahasa Provinsi Lampung.

DALAM bahasa Indonesia kita mengenal beberapa kata yang mengacu ke saat tertentu yang merupakan bagian hari, siang, malam, pagi, dan sore. Persepsi orang berbeda-beda terhadap pengertian yang diacu oleh kata itu.

Hal itu terlihat pada keberagaman batasan yang diberikan oleh beberapa kamus dan keberagaman pengertian dalam pemakaian sehari-hari. Kita terkadang bingung menyapa orang lain pada pukul 10.00, apakah dengan selamat siang atau selamat pagi, pukul 15.00 itu dengan selamat siang atau selamat sore, dan lain sebagainya.

Begitu pun penyiar berita di televisi, jika lewat pukul 00.00 atau pukul 24.00 terkadang suka menyapa dengan selamat pagi. Benarkah sapaan itu?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pagi berarti, 1) bagian awal dari hari; 2) waktu setelah matahari terbit hingga menjelang siang hari. Artinya pagi bermakna waktu menjelang matahari terbit atau saat mulainya hari. Atau dengan kata lain, pagi adalah bagian akhir dari malam dan bagian awal dari siang.

Siang berarti 1) bagian hari yang terang, yaitu dari matahari terbit sampai terbenam; 2) waktu antara pagi dan petang, yaitu kira-kira pukul 11.00–14.00; 3) sudah lepas pagi atau hampir tengah hari; sudah lepas tengah hari atau hampir petang.

Sore berarti petang, petang adalah waktu sesudah tengah hari, kira-kira dari pukul 15.00 sampai matahari terbenam. Malam berarti waktu setelah matahari terbenam hingga matahari terbit.

Dari pengertian pagi menurut KBBI di atas, jika sapaan selamat pagi diartikan “awal hari”, sapaan penyiar berita itu sudah benar. Mungkin penyiar berita tersebut bermaksud mengingatkan penonton bahwa saat itu hari baru sudah dimulai.

Pengertian pagi, siang, sore, dan malam dalam KBBI itu dikaitkan pada dua hal, yaitu: 1) keadaan alam, ada tidaknya matahari atau keadaan terang dan gelap; dan 2) jam yang menjadi penunjuk waktu. Di ujung timur Pulau Jawa, misalnya, pada pukul 06.00 matahari sudah kelihatan dan tidak dapat lagi disebut subuh.

Bagi penduduk di tempat itu sinar matahari pada pukul 14.00 sudah tidak sedemikian panas sehingga mereka menganggap saat itu sudah sore.

Sementara itu, di ujung utara Pulau Sumatera, pada pukul 06.00 matahari belum muncul, saat itu dikatakan masih subuh. Pada pukul 14.00, sinar matahari masih terasa panas dan orang di sana menganggap saat itu masih siang.

Di daerah yang dekat kutub, misalnya Negeri Belanda, pada bulan tertentu matahari masih kelihatan pada pukul 21.00. Meskipun demikian, orang sepakat menyebut saat itu sudah malam.

Perbedaan persepsi itu juga memengaruhi salam saat kita menyapa. Batas pagi dan siang tidak dapat ditentukan secara tegas. Meskipun demikian, kita lazim mengucapkan selamat siang antara pukul 10.00 dan pukul 14.00. Selamat sore lazim diucapkan antara pukul 14.00 dan pukul 18.30. Pada pukul 16.30 sampai pukul 18.30, pada situasi yang formal, lazim diucapkan selamat petang. Selamat malam lazim diucapkan antara pukul 18.30 dan 04.00.

Kita tidak lazim mengucapkan selamat subuh atau selamat dini hari. Antara pukul 04.00 dan pukul 10.00 lazim diucapkan selamat pagi.

Fungsi sapaan memang bukan hanya untuk menginformasikan makna yang terkandung pada kata-kata yang dipakai. Namun, juga untuk menciptakan kontak awal yang akrab antara pembicara dan kawan bicara yang memungkinkan komunikasi selanjutnya berjalan lancar.

Semoga dengan tulisan ini, kita tidak perlu merasa bingung untuk menyapa lagi.

16 thoughts on “Pagi, Siang, Sore, dan Malam

    • Ini masuk dalam bagian sapaan sesaat, yang lebih bersifat informal, serta bergantung situasi dan kondisi aktif interaksi antarindividu. Sama saja dengan Good bye (selamat tinggal/sampai jumpa) yang diucapkan saat seseorang berpisah dengan orang lain. Jadi memang ada beberapa sapaan formal, seperti Good night, yang dapat dipakai dalam konteks bebas (informal) sehingga tidak hanya menunjukkan makna seperti dijelaskan penulis artikel ini.

  1. Berarti seandainya ada breaking news pukul 23.00 lalu ada lagi pukul 00.15 dia akan bilang sampai jumpa esok hari ya? Karna kan kalo memasuki pukul 00.00 udah beda tanggal. Agak membingungkan ya.

  2. kalau sapaan lewat jam 00.00 bilang selamat pagi, kenapa kalau lewat jam 12.00 tidak bilang selamat malam. Bahkan ketika menentukan 1 Romadon atau 1 syawal. para pengintai munculnya bulan ada batas waktu sesudah Maqhrib atau Solat Isya’, WIB, padahal walau sama-sama WIB perbedaan ujung Jawa Timur tidak sama dengan ujung Medan. Itulah kelebihan RI yang mempunyai wilayah panjang dari timur ke barat. Di Sumenep sudah masuk solat Isya”, Di Medan baru mau Solat Maghrib…..bagaimana gan?!.

  3. Waktu sehari bagi orang senusantara sepertinya tidak terlalu dipikirkan seperti masyarakat Eropa yang selalu bilang good morning di pagi hari, good afternoon selepas tengah hari, good evening pada sore sampai menjelang tidur, good night untuk mendoakan agar tidur malam ini tidak ada gangguan. Semua ungkapan yang berkaitan dengan waktu itu adalah harapan agar pagi-nya good, siangnya good, sorenya good, malam tidurnya good.

    Kenapa tidak terlalu dipikirkan? Sebab di nusantara, jarang terjadi pergantian cuaca ekstrem seperti di Eropa. Sehingga tidak perlu kita berdoa agar pagi ini cuaca baik, siang nanti cuaca enak dst. Orang Eropa hidup dalam empat musim dengan cuaca yang bisa berubah cepat dalam sehari, sehingga doa yang baik bagi tiap orang adalah agar orang itu mendapatkan cuaca yang enak: cuaca yang hangat dan tidak dingin menusuk tulang. Salam terkait waktu itu adalah doa.

    Kita tidak perlu mendoakan orang agar dia mendapatkan cuaca yang bagus, karena sepanjang hari dan malam, cuaca di seluruh nusantara selalu hangat dan tidak dingin menusuk tulang.

    Seumur hidup saya sebagai orang jawa yang hidup di masyarakat jawa, jarang sekali orang sekampung saya mengucapkan sugeng enjing dst. Saya curiga bahwa selamat pagi dan seterusnya yang ada dalam bahasa Indonesia, sugeng enjing dst yang ada dalam bahasa Jawa adalah terjemahan dari bahasa dan cara pikir Eropa (belanda) ke dalam bahasa melayu dan bahasa Jawa.

    Dan pengguna bahasa Indonesia sekarang adalah orang-orang yang menganggap bahwa selamat pagi dst memang wajib, sehungga bersusah payah untuk menetapkan kapan harus selamat pagi dst. dengan cara pikir yang sama sekali asing: selamat pagi tidak ada kaitannya dengan cuaca baik yang diharapkan untuk sepanjang pagi itu.

    Salam yang lebih masuk akal adalah “ati-ati di jalan” yang artnya semoga kamu selamat yaitu tidak kecelakaan di jalan. “Baik-baik di jalan” juga lebih masuk akal. “Semoga berhasil” juga lebih bisa diterima, daripada selamat pagi yang diucapkan pada lingkungan yang di situ pagi tidak pernah buruk. “Selamat menempuh hidup baru” bagi pengantin baru juga bagus dan relevan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s