Sate Madura Tak Ada di Madura

Pikiran Rakyat, 6 Nov 2010. Ajip Rosidi: Penulis, budayawan.

Saya pernah diantar oleh pelukis asal Madura, Amang Rahman, berkeliling di Pulau Madura mencari sate madura yang saya sukai. Amang memberi tahu bahwa di Madura tak ada sate madura, tetapi mulanya saya tidak percaya. Baru setelah lelah berkeliling dan tidak menemukannya, saya percaya bahwa di Madura tidak ada sate (dan soto) madura, tetapi sate kambing biasa ada. Akan tetapi, sate dan soto madura adanya di Pulau Jawa, dari Surabaya ke barat atau ke timur. Di Bandung dan Jakarta banyak, begitu juga di kota-kota lain dengan bentuk pikulan dan pakaian pedagangnya yang khas. Akan tetapi, di Pulau Madura sendiri tidak ada yang namanya sate madura.

Saya tadinya mengira di Madura ada sate dan soto madura, tetapi disebut dengan nama lain. Bukankah biasanya bangsa kita tidak mau menamakan makanan atau buah-buahan dengan menyebut nama tempatnya? Pisang ambon di Ambon katanya disebut pisang meja. Kacang banten di Banten disebut kacang bandung dan di Bandung disebut kacang bogor. Nama jeruk bali di Bali lain lagi. Daripada menyebut nama asalnya, sering malah dinamakan dengan nama tempat yang jauh. Petai yang bijinya kecil-kecil yang batangnya sering ditanam sebagai pagar disebut petai cina. Dalam bahasa Sunda disebut peuteuy selong (petai sri lanka). Saya tidak tahu apakah tanaman itu ada di Cina atau di Sri lanka?

Mandalika disebut nangka belanda. Dalam bahasa Belanda disebut zuursak (kantung asam) yang kemudian dipribumikan menjadi sirsak. Nama itu lebih populer dari nama aslinya, mandalika. Pohon yang suka ditanam sebagai pagar serta daunnya seperti daun kangkung disebut kangkung belanda. Besar kemungkinan di Belanda tanaman itu tidak tumbuh.

Cara makan dengan menghidangkan segala macam makanan di atas meja dan orang-orang yang akan makan mengambil sendiri makanan yang disukainya, sedang tempat makannya memilih sendiri tempat yang tersedia, bisa menghadapi meja bisa juga tidak, sehingga piring makannya harus dipegangnya dengan sebelah tangan, dalam bahasa Sunda disebut parasmanan, artinya makan secara orang parasman (Prancis). Akan tetapi, orang Prancis sendiri tidak tahu akan kebiasaan makan seperti itu. Entah sejak kapan kebiasaan demikian dilakukan oleh orang Sunda dan mengapa disebut parasmanan, belum saya peroleh keterangannya. Sementara itu, kita ketahui bahwa orang Sunda tidak punya hubungan khusus dengan orang Prancis, apa lagi dalam soal makan.

Akan tetapi, belakangan ini ada nama-nama makanan yang menyebut nama tempat asal atau tempat asal orang yang menyelenggarakannya, seperti warung tegal yang kebanyakan kepunyaan orang dari Tegal tetapi hidup di kota lain. Demikian juga dengan liwet solo dan serabi solo. Akan tetapi, yang disebut gado-gado jakarta yang dijual dalam dorongan khusus dan mendadak diulek di atas cobek batu bukanlah dibuat oleh orang Jakarta. Umumnya pedagang gado-gado jakarta seperti itu adalah orang Kuningan, secara lebih khusus orang dari Desa Maleber, Kecamatan Lebakwangi. Begitu juga dengan soto jakarta, kebanyakan pedagangnya orang Bogor.

Di Jakarta pernah terkenal sate blora. Akan tetapi, sate demikian bukan berasal dari Blora, melainkan dari Cirebon. Pada akhir dekade 1950-an sampai awal dekade 1960-an, tukang sate itu bertempat di pinggir Jalan Blora, dan sangat terkenal. Maklumlah, pada waktu itu wisata kuliner di Jakarta belum semeriah sekarang. Akan tetapi, kemudian digusur dari jalan Blora, dan pindah ke pinggir Jalan Sudirman. Untuk menarik para pelanggan yang sudah biasa makan di pinggir Jalan Blora, digunakan nama Sate Blora. Sekarang di Jalan Sudirman juga sudah tidak ada, walaupun nama Sate Blora masih digunakan juga di beberapa tempat lain di Jakarta.

Pada dekade 1950-an ada gado-gado terkenal di kedai pinggir Jalan Cemara. Konon karena enaknya, Bung Karno kalau mau makan gado-gado memesan dari situ. Sesuai dengan nama jalan yang ditempatinya, gado-gado itu disebut Gado-gado Cemara. Ketika kedai itu digusur, kedai gado-gado tersebut pindah ke Pasar Boplo yang letaknya tak begitu jauh dari Jalan Cemara dan tetap menggunakan nama Gado-gado Cemara. Belakangan pindah ke pinggir Jalan Wahid Hasyim, di sebelah timur seberang utara jalan tersebut, dan namanya tetap Gado-gado Cemara. Kalau kita makan di situ, tempatnya tak begitu luas dan sangat sederhana. Yang menarik, pada dinding ditulis banyak pengumuman yang menyatakan bahwa “Gado-gado Cemara tidak membuka cabang”. Apakah ada yang membuka cabang warung Gado-gado Cemara? Ternyata tidak ada. Yang ada beberapa restoran megah yang memakai nama “Gado-gado Cemara asli”, walaupun tempatnya bukan di Jalan Cemara. Kalau begitu apakah yang di pinggir Jalan Wahid Hasyim itukah yang “tidak asli”? Namanya tidak mempergunakan sebutan asli atau tidak asli, tetapi rasanya tidak dapat dibohongi.

Juga pernah terkenal martabak bangka yang sebenarnya bukan berasal dari Bangka atau dibuat oleh orang dari pulau timah itu, melainkan dahulu tempat berjualannya di Jalan Bangka, Jakarta. Sekarang nama martabak bandung lebih terkenal, tidak hanya di Jakarta, dan memang kebanyakan pedagangnya orang Bandung. Akan tetapi, sebenarnya martabak berasal dari India, secara khusus dari Malabar. Pada mulanya hanya dijual di restoran-restoran masakan India. Akan tetapi, kemudian ada orang-orang dari Lebaksiuh, Brebes yang menjualnya dengan dorongan yang ditempatkannya di pinggir jalan di Jakarta. Kemudian juga ada di Bandung. Entah sejak kapan orang Bandung menyisihkan orang Lebaksiuh membuat martabak.

Di Singapura dan Malaysia ada sirop bandung yang tak ada di Bandung dan ada mih jawa yang tak ada di Jawa.

Nama-nama kota atau tempat memang banyak digunakan untuk menyebut makanan atau tanam-tanaman, tetapi bukan berarti bahwa makanan atau tanam-tanaman itu memang berasal dari situ. Apalah arti nama, kata William Shakespeare, what’s in a name.

Sumber gambar: My Cooking Without Borders.

Iklan

3 thoughts on “Sate Madura Tak Ada di Madura

  1. di Bandung juga ada es cendol elizabeth, karena buka di depan toko sepatu elizabeth. sekarang nama elizabeth itu jadi trade mark sendiri untuk es cendol di kota Bandung. banyak penirunya.

  2. Ping-balik: kuliner khas daerah yang ga ada di daerah itu | worderlijk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s