Bahasa sebagai Perlawanan Publik

Rainy MP Hutabarat*, KOMPAS, 16 Jan 2016

Rakyat Indonesia rupanya punya cara kreatif dalam merespons berbagai keputusan sosial politik yang mengusik nalar sehat dan ulah politikus. Salah satu adalah pelesetan, bentuk perlawanan publik melalui bahasa yang muncul di setiap rezim dan marak pada era Orde Baru hingga sekarang. Pelesetan adalah kritik atau sindiran berwajah humor dan banyak digunakan rakyat dengan memanfaatkan berbagai media: kaus, stiker, komedi, obrolan, media sosial, dan syair lagu oleh pengamen di bus kota.

Pelesetan yang beredar dalam pergaulan sosial, sepanjang amatan saya, umumnya memanfaatkan singkatan dan akronim resmi, nama, kata, atau kalimat yang sudah dikenal publik. Arah maknanya memuat respons terhadap masalah sosial, politik, dan ekonomi yang tengah hangat. Dilihat dari sudut pesan, masalah korupsi paling banyak ditembak pelesetan sejak Orde Baru. SDSB (sumbangan dana sosial berhadiah) yang sejatinya sama dengan judi dipelesetkan menjadi ”Sudomo datang semua berantakan”; Sumut menjadi ”semua mesti (dengan) uang tunai”, KUHP menjadi ”kasih uang habis perkara”, Jaksa menjadi ”jika ada kasus, sediakan amplop”. Harmoko, Menteri Penerangan Orde Baru, dipelesetkan menjadi ”hari-hari omong kosong”. Di era Reformasi nama Nazaruddin, mantan bendahara Partai Demokrat, dipelesetkan menjadi ”burung Nazar”. Pelesetan kalimat juga beredar, tetapi tidak sebanyak singkatan dan akronim, misalnya ”maju tak gentar membela yang benar” menjadi ”maju tak gentar membela yang bayar”.

Di era internet, pelesetan kian marak, mulai dari yang kritis terpelajar hingga yang asal bunyi, kasar, dan melecehkan. Jika ingin melihat perkembangan teranyar pelesetan, simaklah media sosial. Tiada hari tanpa pelesetan, kerap berpadu dengan meme. Di tangan netizen, pelesetan menjadi media tempat meletupkan rasa marah dan frustrasi akibat keputusan politik yang dirasa tak adil. Bahkan, satu singkatan atau akronim bisa memiliki banyak pelesetan dengan bahasa campur aduk. Ariel Heryanto mengatakan bahwa salah satu ciri-ciri pelesetan sebagai fenomena kritik sosial memang sewenang-wenang dan santai. Ketika MKD (Majelis Kehormatan Dewan) melakukan sidang tertutup terhadap kasus Setya Novanto, misalnya, netizen memelesetkannya menjadi Majelis Konco Dhewe atau Majelis Koyo Dagelan.

Pelesetan-pelesetan di media sosial umumnya temporer, hanya bergulir ketika peristiwa politik terkait masih berlangsung. Setelah itu surut dan muncul lagi ketika lembaga atau orang yang sama jadi berita di media massa dengan kasus yang lain.

Fenomena bahasa sebagai perlawanan publik tentu saja tak hanya pelesetan. Seperti terjadi di sebuah desa di Tanah Karo, rakyat memilih memakai istilah dalam bahasa Inggris. Saya pernah berdebat dengan seorang pegiat sosial yang menuliskan pengalamannya tentang koperasi simpan-pinjam di lingkungan komunitas marjinal. Ia menggunakan istilah credit union untuk koperasi simpan-pinjam dan tulisan tersebut akan dibukukan bersama naskah lain. Sebagai penyunting, saya menerjemahkan istilah credit union menjadi koperasi simpan-pinjam. Ini istilah yang lazim digunakan dan dicantumkan dalam akta notaris.

Penulis itu keberatan credit union diterjemahkan dengan koperasi simpan-pinjam sebab di lingkungannya istilah koperasi berkonotasi buruk. Berbagai Koperasi Unit Desa bentukan para pemimpin setempat hanya memakmurkan pengurusnya. Untuk melawan itu, rakyat bersama-sama para pendamping mereka mendirikan apa yang mereka sebut credit union, yang mereka anggap berbeda dengan koperasi. Bagi mereka, koperasi adalah organisasi yang mapan, harus berbadan hukum, bentukan pemerintah, dan bukan gerakan dari rakyat. Credit union dipandang sebagai gerakan rakyat sekaligus mitra rakyat. Teknologi komunikasi dan informasi telah mengantar bahasa asing hingga ke pelosok-pelosok desa di Tanah Air.

Saya paham, istilah credit union merupakan perlawanan terhadap koperasi bentukan para pemimpin setempat yang dikelola sewenang-wenang. Meski demikian, perlu diingatkan, istilah credit union adalah bahasa Inggris. Bahwa sepak terjang koperasi di lingkungannya buruk, tak berarti memakai istilah credit union akan menjamin keberhasilan. Semua bergantung pada individu-individu yang menggerakkan suatu organisasi.

* Cerpenis, Pekerja Media

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s