Soal Klise

Eko Endarmoko (Kompas, 28 Apr 2018)

Seorang kawan pada satu hari bertanya, kenapa kita mengeja memprotes, bukan memrotes? Juga mengapa mempertinggi, bukan memertinggi? Ia berargumen, bila huruf /p/ di kedua bentuk setelah mendapat awalan /me-/ itu tidak melesap atau luluh menjadi /m/, bukankah itu berarti kaidah kpst dilaksanakan tidak secara konsisten? Ini adalah tanyaan yang sangat logis, dan sebenarnya cukup sederhana—sekalipun jawabannya saya kira tidak bisa dibilang sederhana.

Baca lebih lanjut

Iklan

Salah

Eko Endarmoko (Kompas, 31 Mar 2018)

Media kita cukup sering memberitakan, tak jarang lengkap dengan gambar atau rekaman video berdurasi pendek, penjahat kelas kambing sedang digiring ke kantor polisi. Tanpa rompi oranye, mereka memperlihatkan bahasa tubuh yang menunjukkan ekspresi sangat malu dan digayuti rasa amat bersalah.

Baca lebih lanjut

Bumi Datar dan Dunia Persilatan

Eko Endarmoko (Kompas, 24 Feb 2018)

Kredit Foto: Kompas/Wawan H. Prabowo

Perbalahan yang sudah lama selesai dan tenggelam itu tempo hari bangkit lagi. Itulah perbantahan soal ”bumi datar” versus ”bumi bulat”. Bukannya mempersoalkan kembali pokok basi itu, saya tertarik pada sesuatu yang lebih menggelitik ini. Bila bumi dan dunia bersinonim, mengapa jarang sekali atau malah barangkali belum pernah kita temukan konstruksi ”dunia datar” atau ”dunia bulat”.

Baca lebih lanjut

Pura-Pura dalam Perahu

Eko Endarmoko* (Kompas, 27 Jan 2018)

Moyang kita dari banyak daerah di sekujur tanah Nusantara pernah lebih suka menegur, mengkritik, memberi nasihat, atau mengajarkan adab yang baik dengan bahasa tersirat. Orang boleh berdebat, apakah kegemaran memakai bahasa tersirat di situ adalah tanda adab yang baik ataukah cermin sikap pura-pura, semacam eufemisme yang akut.

Baca lebih lanjut

Polisi Kitab

Eko Endarmoko* (Kompas, 11 Nov 2017)

Salah satu ciri menonjol pada polisi bahasa adalah kesukaan mereka mempersoalkan tata cara penulisan kata. Mereka punya semacam kegetolan yang berlebihan pada apa yang menurut mereka merupakan bentuk baku. Pengetahuan, yang kemudian menjadi kepercayaan, mereka tentang baku atau tidak bakunya satu bentuk kata sering disandarkan pada kitab KBBI. Suka dilupakan adalah fakta bahwa kita terkadang

Yang Datang dan Pergi

Eko Endarmoko* (Kompas, 14 Okt 2017)

Banyak kata berseliweran, datang dan pergi begitu saja sering tanpa kita sadari. Berbarengan dengan hadirnya sejumlah kata baru lewat berbagai cara, sekian banyak kata lain mulai jarang dipakai, pudar, dan kemudian lambat laun lenyap. Bukan punah, kecuali apabila masyarakat pendukung atau penuturnya sudah tak ada lagi sehingga bahasa itu tidak berkembang lagi, seperti bahasa Latin atau bahasa Jawa kuna.

Baca lebih lanjut

“Dikontrakan” atau “Di kontrakkan”

Eko Endarmoko* (Kompas, 19 Agu 2017)

Mungkin sekali cukup sering kita bersua dengan bentuk dikontrakan atau di kontrakkan. Kedua bentuk ini biasanya mengambil rupa plakat, tulisan di atas secarik kertas atau karton, dan ditempelkan di sisi depan sebuah rumah yang oleh pemiliknya hendak disewakan. Cara ungkap yang sebenarnya bermaksud kelak ditangkap oleh pembacanya sebagai disewakan itu, dengan segera kita tahu, keliru atau menyimpangi kaidah tata bahasa Indonesia. Persisnya keliru baik pada tataran gramatika (di kontrakkan) maupun pada tataran semantika (dikontrakan).

Baca lebih lanjut