Relik

Eko Endarmoko* (Kompas, 9 Des 2017)

Kita bacalah dua kalimat ini:

(1)”Ia mengalami rasa sakit melahirkan anak selama tiga hari tiga malam.”

(2)”Lelaki yang terpukul itu menjerit, seolah-olah telah diberi cap dengan besi (seperti hewan ternak yang ditandai), kemudian jatuh berdebum ke bumi.”

Baca lebih lanjut

Iklan

Ingin Kebelet

Eko Endarmoko* (Kompas, 10 Des 2016)

Perempuan periang kawan saya lebih dari tiga puluh tahun silam itu pada satu hari yang rada heboh tampil di layar televisi. Sayang, saya tidak melihat langsung, melainkan hanya menonton rekamannya lewat internet. Namun, di mata saya di menit itu ia masih saja menawan. Ingin saya cium dahi atau ubun-ubunnya, tapi tidak boleh, dalam hati saya bergumam.

Baca lebih lanjut

Cemar

Eko Endarmoko* (Majalah Tempo, 28 Nov 2016)

Pernah sekali waktu akal sehat Anda terusik oleh klausa “mencemarkan nama baik”?

Saya pernah, apalagi dalam beberapa tahun belakangan. Omong-omong soal cemar, akan sampailah kita nanti pada satu titik saat kita agak gelagapan, tidak tahu lagi apa ini soal logika-dan-tata bahasa atau perkara tata susila, moralitas. Saya mulai saja dari aspek sintaksis dan semantika, mengingat ruang ini adalah kolom bahasa, bukan forum tempat membincangkan budi pekerti apalagi agama.

Baca lebih lanjut

Memakai ”Tesamoko”

Eko Endarmoko*, Kompas, 7 Mei 2016

Lewat pembacaan acak atas respons pembaca edisi pertama, saya bisa menduga ada sebagian dari mereka, pemakai kamus dan tesaurus, yang menurut saya rada teledor, yaitu tidak membaca teks-teks pengantar. Padahal, kita tahu, di sanalah penyusun mempertanggungjawabkan apa-apa yang ia pikir dan kerjakan dengan kamus atau tesaurusnya. Izinkanlah saya di sini sedikit menerangkan soal itu, tentu saja dalam hubungannya dengan Tesamoko, Tesaurus Bahasa Indonesia Edisi Kedua.

Baca lebih lanjut

Bahasamu Kastamu

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 7 Nov 2015

Ilustrasi: Agung Zetiadji

Tidak ada yang istimewa benar pada bahasa Indonesia kita dibandingkan dengan bahasa umumnya di mana-mana pun. Bahasa Indonesia adalah cara orang Indonesia terhubung satu sama lain. Antara mereka yang bersekolah tinggi dan yang buta huruf, antara si kaya dan si melarat, antara lelaki dan perempuan, antara kaum Muslim dan mereka yang punya agama berbeda, antara pejabat dan rakyat, antara orang Lamongan dari tanah Jawa dan Patipi dari bumi Papua, antara penegak hukum dan para durjana. Bahasa Indonesia dipakai bukan hanya oleh mereka yang berasal dari golongan, kelamin, derajat, agama, dan ras yang sama. Dan ”Indonesia” dalam frasa ”bahasa Indonesia” jelas menjadi pewatas kita sebagai (sesama) bangsa Indonesia yang bertutur dalam bahasa Indonesia, entah sebagai bahasa ibu atau bahasa kedua.

Baca lebih lanjut

Makna yang Merewang

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 5 Sep 2015

Tidak pernah ada dalam sejarah, sebuah kamus dapat selesai paripurna dalam sekali pengerjaan. Kamus selamanya berkejaran dengan bahasa yang dinamis. Kata sebagai bahan bakunya hampir niscaya bukan saja terus bertambah, tetapi juga berubah, baik dari segi bentuk maupun isi atau makna. Begitulah yang selalu kita saksikan. Sementara kata terus bergerak, terkadang dengan ringan dan gesit dalam konteks berbeda-beda, kamus yang berpretensi merekam kesemua itu mesti berhenti pada menit ia siap terbit.

Baca lebih lanjut

Dua Tentang

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 1 Agu 2015

Perbincangan berikut bermaksud kembali membicarakan tentang kata tentang setelah Masmimar Mangiang, pemerhati bahasa Indonesia yang telaten dan jernih, menulis soal yang sama dalam catatannya (berjudul “Tentang ‘Tentang'”) di media sosial fesbuk, 26 Juli 2015. Perlulah saya utarakan di awal sini, barangsiapa tidak melihat masalah dalam kalimat pertama tulisan ini, saya kira ia belum, dan karenanya sangat perlu, membaca tulisan Masmimar tadi. Tampaknya baik saya ringkaskan lebih dulu pandangan Masmimar tersebut dan baru kemudian merentangkannya ke medan yang sedikit lebih lebar.

Baca lebih lanjut

Proses

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 4 Jul 2015

Dokumentasi dan klasifikasi adalah dua kata serapan yang berkerabat, sekalipun rada jauh. Mari kita sama berangkat dari pengertian yang dirumus kamus.

dokumentasi /dokuméntasi/ n 1 pengumpulan, pemilihan, pengolahan, dan penyimpanan informasi dl bidang pengetahuan; 2 pemberian atau pengumpulan bukti dan keterangan (spt gambar, kutipan, guntingan koran, dan bahan referensi lain)

klasifikasi n penyusunan bersistem dl kelompok atau golongan menurut kaidah atau standar yg ditetapkan

Baca lebih lanjut

Heran

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 6 Jun 2015

Jangan heran bila kata heran bikin heran. Saya heran ketika jumpa lagi dengan kata ini waktu membaca ulang Tesaurus Bahasa Indonesia (TBI) selagi mengerjakan perbaikan terhadapnya untuk edisi revisi yang kini sudah dekat selesai. Heran, sebab di sana ia tercatat berkerabat dengan ajaib dan aneh. Sambil memanggul heran, saya periksa kembali beberapa kamus bahasa Indonesia, rujukan saya dalam menyusun TBI edisi pertama. Hasilnya? Tentu saja mudah diterka. Semua kamus bahasa Indonesia pada saya menyuratkan, heran punya arti atau bersinonim dengan ajaib dan aneh.

Baca lebih lanjut