Bahasamu Kastamu

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 7 Nov 2015

Ilustrasi: Agung Zetiadji

Tidak ada yang istimewa benar pada bahasa Indonesia kita dibandingkan dengan bahasa umumnya di mana-mana pun. Bahasa Indonesia adalah cara orang Indonesia terhubung satu sama lain. Antara mereka yang bersekolah tinggi dan yang buta huruf, antara si kaya dan si melarat, antara lelaki dan perempuan, antara kaum Muslim dan mereka yang punya agama berbeda, antara pejabat dan rakyat, antara orang Lamongan dari tanah Jawa dan Patipi dari bumi Papua, antara penegak hukum dan para durjana. Bahasa Indonesia dipakai bukan hanya oleh mereka yang berasal dari golongan, kelamin, derajat, agama, dan ras yang sama. Dan ”Indonesia” dalam frasa ”bahasa Indonesia” jelas menjadi pewatas kita sebagai (sesama) bangsa Indonesia yang bertutur dalam bahasa Indonesia, entah sebagai bahasa ibu atau bahasa kedua.

Baca lebih lanjut

Makna yang Merewang

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 5 Sep 2015

Tidak pernah ada dalam sejarah, sebuah kamus dapat selesai paripurna dalam sekali pengerjaan. Kamus selamanya berkejaran dengan bahasa yang dinamis. Kata sebagai bahan bakunya hampir niscaya bukan saja terus bertambah, tetapi juga berubah, baik dari segi bentuk maupun isi atau makna. Begitulah yang selalu kita saksikan. Sementara kata terus bergerak, terkadang dengan ringan dan gesit dalam konteks berbeda-beda, kamus yang berpretensi merekam kesemua itu mesti berhenti pada menit ia siap terbit.

Baca lebih lanjut

Dua Tentang

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 1 Agu 2015

Perbincangan berikut bermaksud kembali membicarakan tentang kata tentang setelah Masmimar Mangiang, pemerhati bahasa Indonesia yang telaten dan jernih, menulis soal yang sama dalam catatannya (berjudul “Tentang ‘Tentang'”) di media sosial fesbuk, 26 Juli 2015. Perlulah saya utarakan di awal sini, barangsiapa tidak melihat masalah dalam kalimat pertama tulisan ini, saya kira ia belum, dan karenanya sangat perlu, membaca tulisan Masmimar tadi. Tampaknya baik saya ringkaskan lebih dulu pandangan Masmimar tersebut dan baru kemudian merentangkannya ke medan yang sedikit lebih lebar.

Baca lebih lanjut

Proses

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 4 Jul 2015

Dokumentasi dan klasifikasi adalah dua kata serapan yang berkerabat, sekalipun rada jauh. Mari kita sama berangkat dari pengertian yang dirumus kamus.

dokumentasi /dokuméntasi/ n 1 pengumpulan, pemilihan, pengolahan, dan penyimpanan informasi dl bidang pengetahuan; 2 pemberian atau pengumpulan bukti dan keterangan (spt gambar, kutipan, guntingan koran, dan bahan referensi lain)

klasifikasi n penyusunan bersistem dl kelompok atau golongan menurut kaidah atau standar yg ditetapkan

Baca lebih lanjut

Heran

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 6 Jun 2015

Jangan heran bila kata heran bikin heran. Saya heran ketika jumpa lagi dengan kata ini waktu membaca ulang Tesaurus Bahasa Indonesia (TBI) selagi mengerjakan perbaikan terhadapnya untuk edisi revisi yang kini sudah dekat selesai. Heran, sebab di sana ia tercatat berkerabat dengan ajaib dan aneh. Sambil memanggul heran, saya periksa kembali beberapa kamus bahasa Indonesia, rujukan saya dalam menyusun TBI edisi pertama. Hasilnya? Tentu saja mudah diterka. Semua kamus bahasa Indonesia pada saya menyuratkan, heran punya arti atau bersinonim dengan ajaib dan aneh.

Baca lebih lanjut

Tikus yang Tak Mati-mati

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 2 Mei 2015

Ajakan ”Yuk, kita tidur” yang diucapkan orang tua, bapak atau ibu, kepada anaknya yang masih kecil hampir pasti akan ditafsir lain jika orang tua itu mengatakannya kepada pasangan dia. Kata tidur dalam konteks kedua kita lihat telah menyerobot porsi kata berhubungan intim atau bersetubuh. Inilah aksi pembajakan yang dilegalkan dalam bahasa, antara lain karena perlu demi menyelamatkan muka dari malu. Sangat jarang orang menyatakan hasrat seksualnya secara telanjang—kepada pasangan hidup resminya sekalipun, apalagi bila hadir pihak ketiga, di tengah percakapan. Bahasa untuk mengungkapkan hasrat seksual lebih sering terselubung, dengan kata bersayap, seakan-akan bila lugas tanpa tedeng aling-aling, sebuah truk barang bakal tiba-tiba menumbuk si penutur dari muka tanpa ampun.

Baca lebih lanjut

Bahasa Baku: Catatan Ala Kadarnya

Eko Endarmoko*, Majalah Tempo, 4 Apr 2015

Ilustrasi: Fast Company

Dari mana asal kata-kata yang berdiam dalam kamus? Sebagian besar darinya adalah hasil kerja mencari dan menimbang kata dari sejumlah teks terpilih, selain dari khazanah lisan. Tentang lika-liku kerja besar itu kita baca dalam buku Simon Winchester yang memukau, The Professor and the Madman, yang edisi bahasa Indonesianya diberi anak judul “Sebuah Dongeng tentang Pembunuhan, Kegilaan, dan Pembuatan Oxford English Dictionary”. Terjemahan ini diterbitkan Serambi sekitar delapan tahun silam.

Baca lebih lanjut

Merah Putih

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 4 Apr 2015

Upacara bendera, seingat saya, rutin kami jalani saban Senin pagi. Itu masa ketika saya duduk di kelas V dan VI di sekolah dasar partikelir di Matraman Raya, Jakarta Timur, akhir 1970-an. Pada masa itu, selalu menjadi bagian dari upacara adalah ”pembacaan” teks Sumpah Pemuda—yang sekarang rupanya sudah berganti dengan teks lain, Pembukaan UUD ’45 atau janji setia siswa. Ingatan berikut adalah kabar yang kita dapat beberapa waktu silam lewat media massa tentang sekelompok kecil warga negara Republik Indonesia yang berkukuh menolak menggelar upacara bendera di sekolah-sekolah. Namun, ingatan lainlah yang paling mengesan buat saya. Sampai hari ini.

Baca lebih lanjut

Kampung Halaman

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 7 Mar 2015

Banyak dari kita, saya kira, pernah punya “kampung halaman”, kampung yang penduduknya rata-rata memiliki rumah dengan halaman yang lapang. Inilah kata yang rujukannya diam-diam melindap, kata benda yang lambat-laun berubah menjadi konsep. Sesuatu yang kini mungkin sudah jadi kenangan-atau terdesak ke dalam film, karya sastra, atau dalam potret berwarna sefia sedikit suram. Sesuatu yang menyiratkan kepemilikan dalam bentuk kata majemuk itu lama-kelamaan menjelma satu kata tunggal “kampung” semata, tanpa lagi embel-embel “halaman”. Kita tahu, ada ungkapan yang sangat populer pada musim liburan: “pulang kampung”.

Baca lebih lanjut