Politik dan Akronim

akronim-politik

Rocky Gerung*, Majalah Tempo, 29 Sep 2014

KontraS adalah akronim dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan. Itu resminya. Tapi sebetulnya ada sugesti subversif pada huruf S di ujung akronim: Soeharto. Jadi harus dibaca: Kontra-Soeharto. Memang demikianlah konteksnya.

Di hari pertama Orde Baru menetapkan larangan demonstrasi pada 23 Februari 1998, sejumlah aktivis perempuan Jakarta justru melawannya dengan turun berdemonstrasi di Bundaran Hotel Indonesia membawa bendera Suara Ibu Peduli. Tuntutan mereka: “Turunkan Harga Susu”. Dalam hari-hari rapat persiapan demo itu, yang dimaksud sebetulnya adalah “Turunkan Soeharto”.

Baca lebih lanjut

Demagogi

Rocky Gerung* (Majalah Tempo, 7 Jul 2014)

Debat bukan sabung ayam. Tapi kita telanjur menikmatinya begitu. Menunggu ada yang keok. Lalu bersorak, lalu mengejek. Hasrat ejek-mengejek inilah yang kini menguasai psikologi politik kita: mencari kepuasan dalam kedunguan lawan.

Debat adalah seni persuasi. Seharusnya ia dinikmati sebagai sebuah pedagogi: sambil berkalimat, pikiran dikonsolidasikan. Suhu percakapan adalah suhu pikiran. Tapi bagian ini yang justru hilang dari forum debat hari-hari ini. Yang menonjol cuma bagian demagoginya: busa kalimat. Pada kalimat berbusa, kita tak menonton keindahan pikiran.

Baca lebih lanjut

Rahim Laki-Laki

Majalah Tempo, 28 Feb 2011. Rocky Gerung: Redaktur srimulyani.net.

PEREMPUAN mengucapkan kalimat untuk memelihara komunikasi. Laki-laki memanfaatkan kalimat untuk mengendalikan komunikasi. Aturan inilah yang dieksploitasi patriarkisme untuk memerintah dunia.

Bahasa adalah sponsor resmi kekuasaan. Ia disusun dalam tata pikiran politik laki-laki: hierarkis, dikotomis, dan hegemonis. Strukturasi androsentrisme inilah yang beroperasi dalam hukum, agama, ilmu, dan filsafat. Hasilnya adalah peradaban yang eksploitatif.

Baca lebih lanjut