Pemakzulan

Pikiran Rakyat, 7 Feb 2010. Asep Juanda, Staf Teknis Balai Bahasa Bandung.

Seratus hari kerja pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono menciptakan beberapa hal yang baru. Baik pembentukan Panitia Khusus (pansus) DPR tentang Kasus Bank Century, perombakan departemen menjadi kementerian, dan sebagainya.

Menjelang selesainya seratus hari kerja Yudhoyono-Boediono, terjadi suasana yang ”hiruk pikuk” dan efeknya bermacam-macam. Tidak ketinggalan dalam bidang bahasa pun muncul beberapa kata yang dianggap masih asing. Salah satunya, sejak beberapa minggu yang lalu, di media massa sering muncul kata pemakzulan. Bagi sebagian orang, kemunculan kata pemakzulan menimbulkan beberapa pertanyaan, khususnya dari pemerhati bahasa. Pertanyaannya paling tidak, apa sebenarnya arti pemakzulan dan berasal dari bahasa apa?

Pemakzulan dapat ditemukan pada beberapa sumber. Salah satu sumber menyebutkan bahwa pemakzulan lebih populer disebut impeachment, yaitu suatu proses di mana sebuah badan legislatif secara resmi menjatuhkan dakwaan terhadap seorang pejabat tinggi negara. Pemakzulan bukan selalu berarti pemecatan atau pelepasan jabatan, tetapi hanya merupakan pernyataan dakwaan secara resmi, mirip pendakwaan dalam kasus-kasus kriminal sehingga hanya merupakan langkah pertama menuju kemungkinan pemecatan. Saat pejabat tersebut telah dimakzulkan, ia harus menghadapi kemungkinan dinyatakan bersalah melalui sebuah pemungutan suara legislatif yang kemudian menyebabkan pemecatan sang pejabat.

Pemakzulan berlaku di bawah undang-undang konstitusi di banyak negara di dunia termasuk Amerika Serikat, Brasil, Rusia, Filipina, dan Republik Irlandia.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan dituliskan bahwa pemakzulan berupa nomina adalah proses, cara, perbuatan memakzulkan. Adapun verbanya adalah makzul yang mengandung arti berhenti memegang jabatan; turun takhta. Sementara memakzulkan, menurunkan dari takhta; memberhentikan dari jabatan atau meletakkan jabatannya (sendiri) sebagai raja bisa juga berhenti sebagai raja.

Pemakzulan merupakan kata pinjaman yang berasal dari bahasa asing, yaitu bahasa Arab. Muhammad Muis (2008) menulis, sebagaimana diketahui, bahasa Arab sudah cukup lama berinteraksi dengan bahasa Indonesia, atau, dengan kata lain, sudah cukup lama memengaruhi bahasa Indonesia. Hal itu dapat dibuktikan dengan banyaknya jumlah kata serapan dari bahasa Arab yang terdapat di dalam bahasa Indonesia. Di dalam Jumariam et al. (1996:9) misalnya, didaftar 7.636 kata serapan dalam bahasa Indonesia, yang 1.495 kata adalah kata serapan yang berasal dari bahasa Arab. Tentu saja harus disepakati bersama bahwa jumlah keseluruhan kata serapan dari pelbagai bahasa yang dimuat di dalam karya itu bukanlah jumlah yang pasti sebab jumlah yang sebenarnya lebih besar dari itu. Sudarno (1990) misalnya, berpandangan, memang agak sukar menentukan secara pasti berapa jumlah kata serapan dari bahasa Arab atau bahasa yang lain yang terdapat dalam bahasa Indonesia sebab, menurut dia, para linguis atau penulis buku tentang etimologi biasanya tidak sama pandangannya mengenai satu kata berasal dari bahasa apa.

Adapun mengenai pemakzulan dapat ditelusuri dalam bahasa Arab sebagai berikut, pemakzulan kata dasarnya makzul, dari bahasa Arabnya ma’zul(un) [bentuk isim maful, ’nama atau kata benda yang menunjukkan sesuatu yang dikenai pekerjaan’ (objek)]. Dalam kamus Almunawwir, bentuk verba yang mendekati kepada arti ma’zul(un) adalah azala dengan huruf /ain/, /zai/, dan /lam/ yang berarti memisahkan, menyingkirkan, atau memecat. Jadi, ma’zul(un) berarti yang dipisahkan, disingkirkan, atau dipecat.

Kata ma’zul(un) diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi makzul. Hal itu dapat dilihat terjadi penambahan fonem /k/ sebagai pengganti huruf /ain/ dan penghilangan akhiran (un) karena disukunkan. Kemudian ditambah awalan pe- dan akhiran –an sehingga menjadi pemakzulan.

Kata makzul pernah ditulis dalam lirik lagu Grup Bimbo yang berjudul ”Mawar Asuhan Rembulan”, walaupun menimbulkan pertanyaan apakah artinya sama sebagaimana tersebut di atas. Adapun potongan lirik lagunya sebagai berikut.

Bertahun lamunan menjumpaimu
Tersangkut di sela purnama
Daun yang gugur telah lama kering
Namun nostalgia bersamamu tak pernah gersang

Selembar benang sutera yang terurai
Bersinar ceria menyala
Setulus cintamu pada diriku
Setegar cadas keras yang berdiri tegak

Indah pelabuhan Sunda Kalapa
Burung camar riang menari-nari
Dua insan meningkat birahi
memakzulkan diri sehidup semati

Tirai semu datang tak terhindarkan
Dua hati terbalut luka
Suwarga khayal cinta kita berdua
Akhirnya hilang terkubur nestapa….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s