Bahasa Cirebon dan Bahasa Indramayu

Pikiran Rakyat, 23 Okt 2010. Ajip Rosidi: Penulis, budayawan.

Tampaknya terhadap Perda No. 5 Tahun 2003 yang mengakui bahwa ada tiga bahasa daerah di Jawa Barat, yakni bahasa Sunda, bahasa Cirebon, dan bahasa Betawi, ada yang merasa tidak puas. Orang Indramayu ingin “bahasa Indramayu” dianggap sebagai bahasa daerah yang harus diajarkan juga di sekolah-sekolah formal di wilayahnya.

Saya sendiri kaget mendengar bahwa ada “bahasa Indramayu”. Sejak masih anak-anak, saya tahu adanya bahasa (Jawa)-Cirebon, yaitu bahasa Jawa yang dipergunakan di wilayah Keresidenan Cirebon. Pada waktu itu tidak pernah terdengar ada “bahasa Indramayu”, mungkin karena Indramayu menjadi salah satu kabupaten di wilayah Keresidenan Cirebon seperti Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Kuningan. Akan tetapi, setelah administrasi keresidenan dihapuskan, kedudukan Indramayu sama dengan kedudukan Cirebon, sama-sama sebagai kabupaten. Oleh karena itu, agaknya timbul di kalangan orang Indramayu untuk juga menyebut bahasa yang dipergunakan di wilayahnya sebagai bahasa tersendiri.

Yang menjadi masalah apakah penamaan bahasa harus disesuaikan dengan wilayah yang mempergunakan bahasa itu, padahal bahasa itu digunakan juga di wilayah lain? Kalau penamaan bahasa harus sesuai dengan nama kabupaten-kabupaten yang mempergunakannya, alangkah akan banyaknya nama bahasa di seluruh pulau Jawa!

Nama bahasa biasanya mencakup seluruh masyarakat yang mempergunakannya, tidak tergantung kepada pembagian wilayahnya secara administratif. Memang terjadi perbedaan-perbedaan di antara suatu wilayah dengan wilayah yang lain, tetapi selama perbedaan itu sebatas tiga puluh persen maka bahasa itu masih disebut dengan nama yang sama. Paling-paling dibedakan dengan dianggap dialek. Dengan demikian, dalam bahasa Jawa terdapat dialek Jawa Timuran, dialek Surabaya, dialek Banyumas, dan lain-lain. Bahasa Cirebon (dan yang digunakan di wilayah Indramayu) termasuk bahasa Jawa, seperti bahasa yang digunakan oleh sebagian penduduk Banten. Bahasa Indramayu meski mempunyai perbedaan-perbedaan dengan bahasa Cirebon, tetapi niscaya tak sampai tiga puluh persen sehingga bahasa yang dipergunakan di Kabupaten Indramayu sama dengan bahasa yang dipergunakan di Kabupaten Cirebon, yaitu sama-sama merupakan satu dialek bahasa Jawa. Selama ini, dialek tersebut dinamakan sebagai dialek Cirebon. Di kalangan ahli bahasa, nama itulah yang sering dipergunakan dan dengan demikian diakui.

Memang bahasa Cirebon yang dipergunakan di Cirebon dengan di Indramayu itu meskipun termasuk bahasa Jawa, mempunyai perbedaan cukup besar dengan “bahasa Jawa baku”, yaitu bahasa yang diajarkan di sekolah-sekolah yang berpegang kepada bahasa Jawa Solo. Dengan demikian, sebelum 1970-an, buku-buku pelajaran dari Solo tak dapat digunakan karena terlalu sukar bagi para murid (dan mungkin juga gurunya). Oleh karena itu, pada 1970-an, buku pelajaran itu diganti dengan buku pelajaran bahasa Sunda yang dianggap akan lebih mudah dimengerti karena para pemakai bahasa Sunda “lebih dekat”. Akan tetapi, ternyata kebijaksanaan itu pun tidak tepat sehingga muncul gerakan untuk menggantinya dengan buku dalam bahasa yang digunakan di wilayahnya, yaitu bahasa Jawa dialek Cirebon.

Yang menjadi masalah ialah belum adanya buku pelajaran dalam bahasa tersebut, karena penelitian tentang penggunaannya dalam masyarakat juga belum banyak. Buku pelajaran untuk digunakan di sekolah biasanya harus berdasarkan hasil-hasil penelitian para ahli tentang bahasa tersebut. Akan tetapi, mudah-mudahan sekarang penelitian tentang bahasa Cirebon sudah maju dan hasilnya sudah banyak sehingga dapat disusun buku pelajaran untuk sekolah-sekolah. Saya tidak tahu mengenai hal itu karena tidak mengikuti persoalannya dari dekat.

Penelitian tentang bahasa dialek memang belum banyak, apalagi tentang bahasa dialek Cirebon. Ayatrohaedi menulis disertasi tentang bahasa dialek Cirebon, tetapi yang ditelitinya adalah dialek bahasa Sunda. Dengan demikian, penelitian ilmiah tentang bahasa Cirebon juga sedikit sekali. Hal itu akan menyebabkan penyusunan buku pelajaran bahasa Cirebon untuk dipelajari oleh murid-murid di sekolah tidak mudah.

Hal lain yang harus mendapat perhatian juga ialah penulisan dan penerbitan buku dalam bahasa Cirebon. Saya tahu banyak naskah lama yang ditulis dalam bahasa Cirebon, umumnya ditulis dengan huruf Arab, tetapi kebanyakan belum diterbitkan sebagai buku. Penerbitan pers bahasa Cirebon juga — walaupun pernah diusahakan beberapa kali — belum ada yang berhasil hidup, artinya minat masyarakatnya tidak menunjang. Belakangan kelihatan ada usaha penulisan sajak dalam bahasa Cirebon, di antaranya ada yang dimuat dalam majalah bahasa Sunda. Akan tetapi, penulisan cerita pendek atau roman belum kelihatan.

Padahal, penerbitan buku dan pers itu dalam setiap bahasa sangat penting. Buku dan barang tercetak itulah yang akan menjadi bukti hidupnya suatu bahasa. Buat apa anak-anak di sekolah disuruh mempelajari bahasa yang hanya akan dia gunakan secara lisan dalam kehidupan bermasyarakat setelah dia keluar dari sekolah karena tidak ada buku yang dapat dibacanya?

Pengajaran bahasa Cirebon di sekolah-sekolah bukan saja memerlukan buku ajar yang sesuai dengan tiap jenjang sekolah, melainkan juga memerlukan dukungan penerbitan buku-buku bacaan dan buku lainnya dalam bahasa tersebut. Hanya dengan demikianlah, bahasa sebagai inti budaya Cirebon akan mempunyai arti bagi perkembangan budaya Cirebon.

Iklan

One thought on “Bahasa Cirebon dan Bahasa Indramayu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s