Relawan

Kasijanto Sastrodinomo*, Majalah Tempo, 9 Mar 2015

Ilustrasi: Núcleo de Ação Dr. Celso

Sekitar setengah abad silam, kata relawan rasanya tak pernah mencuat ke ruang publik. Tapi orang ramai kala itu terpukau pada sukarelawan yang terasa riuh hampir saban hari. Berpidato memperingati hari proklamasi kemerdekaan yang bertajuk “Tahun Kemenangan” (1962), Presiden Sukarno melukiskan bagaimana sukarelawan terbentuk. “Berjuta-juta sukarelawan,” ujarnya, “laki, perempuan, tua, muda, dari kota, dari desa, dari gunung-gunung, mengalirlah untuk mendaftarkan diri—satu bukti bahwa bangsa Indonesia sebagai satu keseluruhan bertekad untuk membebaskan Irian Barat selekas mungkin, dengan jalan apa pun.”

Jadi kata sukarelawan bertalian dengan orang-orang yang rela hati melibatkan diri dalam operasi pembebasan Irian Barat, yang saat itu masih dikuasai Belanda. Bagi banyak orang Indonesia kala itu, sukarelawan bermakna mulia dan mendalam: pejuang yang ikhlas membela bangsa dan negara. Sukarelawan memiliki konteks sosio-politis yang kuat, “solid”, dan karena itu seakan-akan “berhenti” pada satu pemaknaan tunggal—tak pernah, atau sangat jarang, digunakan untuk merujuk pada hal lain. Para penolong korban musibah atau bencana alam waktu itu, misalnya, jarang disebut “sukarelawan” atau “relawan” seperti sekarang, melainkan cukup dengan istilah umum “regu penolong”.

Kata relawan cukup lama tidak dihitung dalam kamus bahasa Indonesia, setidaknya hingga Kamus Umum Bahasa Indonesia W.J.S. Poerwadarminta terbit ulang (1976). Barulah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, kata itu tercatat, tapi dirujuk pada sukarelawan dengan takrif “orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela (tidak karena diwajibkan atau dipaksakan)”. Kedudukan relawan, jadinya, bukan sebagai kata utama yang memiliki arti leksikal tersendiri, melainkan disinonimkan dengan sukarelawan. Bisa jadi, relawan dipandang sebagai ragam informal. Namun bentuk ini jelas lebih ringkas dan menguatkan watak yang terkandung dalam pengertiannya.

Saat tsunami menggelegak di Aceh, relawan mulai santer disebut-sebut. Kala itu (2004), banyak penolong dari dalam dan luar negeri bahu-membahu menangani korban bencana di sana. Relawan merujuk pada petugas kemanusiaan yang spontan tergerak membantu korban bencana. Lebih dari sepuluh tahun kemudian, majalah ini menulis laporan utama bertajuk “Jokowi & Para Relawan” (Tempo, 28 Juli-3 Agustus 2014). Isinya tentang peran relawan dalam pemenangan Joko Widodo pada pemilihan presiden tahun lalu. Dalam laporan yang lain, para relawan tersebut ditabalkan sebagai tokoh pilihan (Tempo, 15-21 Desember 2014). Dua laporan ini menambah perspektif tentang relawan, yakni “orang yang tidak aktif dalam partai politik tapi terlibat dalam gerakan besar yang bersifat politis”.

Dalam bahasa Inggris, kata yang bermakna “relawan” tentulah volunteer, diserap dari Prancis kuno, voluntaire, atau Latin, voluntarius. Kamus Merriam-Webster menjelaskan arti kata itu: “a person who voluntarily undertakes or expresses a willingness to undertake a service”; atau “to offer to do something without being forced to or without getting paid to do it” sebagai verba. Kamus Webster juga mencatat, kata volunteer telah digunakan publik Eropa sejak abad ke-17/18 tanpa keterangan lebih lanjut. Mungkin bertautan dengan suasana gerakan Pencerahan yang ditandai bekerjanya mind and matter—ketika akal dan hati diunggulkan untuk menyelesaikan persoalan hidup (lihat buku saku lawas Stuart Hampshire, The Age of Reason, 1956).

Dari kata volunteer, lahir istilah paham volunteerism atau voluntarism sejak abad ke-19—saat praktek kolonialisme semakin kemaruk di berbagai belahan dunia. Dalam sosiologi, voluntarisme mengacu pada tindakan para aktor individual yang didasari kehendak otonom tanpa terikat atau ditentukan oleh suatu struktur sosial. Itu sebabnya voluntarisme biasa dilawankan dengan determinisme. Banyak yang meyakini “kehendak bebas”—apalagi kehendak yang kuat atau volitional dalam istilah Inggris—inilah yang menjadi motor penggerak spirit kerelawanan.

Voluntarisme sebagai paham bersisian dengan voluntary associations sebagai wadah. Dalam Encyclopedia of Social History (1994), istilah itu mencakup berbagai asosiasi masyarakat yang merentang sangat luas, dari gilda di Eropa Abad Pertengahan, secret societies di Cina, satuan tribal di Afrika Barat, hingga organisasi buruh di Amerika Serikat abad ke-19. Bahkan kemudian arti voluntary associations (VA) mengacu pada tatanan masyarakat kontemporer. Maka ke dalam VA bisa dimasukkan partai politik, organisasi keagamaan, lembaga swadaya masyarakat, dan lain-lain.

Relawan yang tergabung dalam pemenangan coblosan presiden yang lalu tentu bukanlah organisasi model VA, melainkan suatu kumpulan yang “cair”. Namun Presiden Joko Widodo meminta mereka tidak bubar walau pemilihan telah usai. Permintaan itu bisa dibaca: spirit voluntarisme patut terus dikobarkan.

* Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s