Sekali Lagi tentang Hoax

Ahmad Sahidah*, Majalah Tempo, 27 Mar 2017

Heboh tentang hoax betul-betul makin menempatkan bahasa kita tak berdaya. Selain kamus tidak menyediakan padanan serupa yang terdiri atas empat huruf, ia menyebabkan ramai pengguna terperangkap pada pemahaman yang keliru. Lema tersebut dianggap berita tertulis yang menyebar di media sosial dan tidak didasari fakta. Dari kebiasaan ini, media massa mengekalkan kata asal tersebut, hoax. Mengingat aturan kebahasaan kita memungkinkan serapan bunyi, kadang ia juga disebut “hoaks”. Karena itu, kata auta, yang juga terdiri atas empat huruf, bisa ditawarkan sebagai padanan, mengingat kata Melayu ini adalah lawan dari kata “fakta”.

Jika dikembalikan kepada arti kata asal, makna hoax adalah sebuah rencana untuk memperdaya seseorang. Dalam kamus Cambridge (1997: 674), contoh dari penggunaan kata ini adalah seperti seseorang menceritakan kepada polisi bahwa ada bom, padahal tidak. Tak pelak, kata ini acap beriringan dengan berita bohong atau palsu. Hanya, bila dikaitkan dengan kabar di media sosial, memperdaya di sini lebih kerap dikaitkan dengan perilaku jahat yang bisa melahirkan permusuhan dan kebencian. Padahal, pada waktu yang sama, “olok-olok” sebagai sinonim hoax bisa menyuguhkan nuansa lain, yaitu semacam kritik tersembunyi yang tak menohok karena bernada kelakar.

Karena kecenderungan hoax adalah buruk, orang ramai diharapkan tidak sesuka hati menyebarkan berita tidak sahih. Tapi, kenyataannya, tanpa pemeriksaan yang cermat, sebagian orang turut menikmati berita bohong karena isi kabar tersebut memenuhi harapannya tentang keadaan orang atau lembaga yang menjadi korban hoax. Pendek kata, sejatinya isi kabar itu adalah prasangka sekelompok orang untuk membenarkan kebenciannya. Tak pelak, di era digital, warta seperti ini cepat menyebar, yang sering disebut viral. Lagi-lagi kata yang terakhir merepotkan bahasa kita karena belum dimasukkan sebagai entri.

Sejauh ini, kata viral berasal dari virus yang dikaitkan dengan mikroorganisme yang tidak bisa dilihat dengan mikroskop biasa; hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron. Selain itu, ia menyebabkan dan menularkan penyakit, seperti cacar dan influenza. Menariknya, kamus kita juga memerikan pengertian kedua dari kata “virus” ini sebagai program ilegal yang dimasukkan ke sistem komputer melalui jaringan atau disket sehingga menyebar dan dapat merusak program yang ada (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008: 1548). Jika “virus” bisa dipahami sebagai kiasan, mengapa kamus kita tak memperlakukan hal serupa untuk “tikus” (mouse)? Dalam kamus tersebut, kata “tikus” dimasukkan sebatas sebagai binatang pengerat, termasuk suku Muridae.

Padahal kamus Cambridge terbitan 1997 telah memasukkan kata mouse sebagai alat dengan bola kecil yang digerakkan dengan tangan melintasi sebuah permukaan datar khusus dan yang mengontrol gerakan tanda penunjuk (pointer). Kalau kita bisa menyerap kata “virus” untuk arti kiasan, mengapa kita tak melakukan hal serupa untuk “tikus”, yang sama-sama makhluk yang merugikan dalam kasus tertentu? Tentu orang Inggris dengan mudah menyebut “tikus” (mouse) dalam berurusan dengan perangkat komputer, sementara kita masih geli menyebutnya “tikus”, padahal di tempat lain kata “tikus” juga mempunyai makna kiasan, yaitu orang yang menggerogoti hak milik orang ramai, seperti pada istilah “tikus-tikus kantor”.

Jadi, selagi kata “viral” tak dianggap menjadi satu-satunya kata untuk menunjukkan keadaan persebaran, baik kandungan kata maupun gambar, bahasa Indonesia juga mempunyai kata serupa, yaitu “tular”. Malangnya, dalam kamus, kata ini bermuatan makna tak baik, yakni terkait dengan penularan penyakit dan pengaruh yang tidak baik. Padahal, berkaca pada kata “viral”, betapapun kata ini berasal dari kata “virus”, kandungannya yang tersebar tak selalu buruk, malah justru lucu, aneh, dan menarik, misalnya yang terakhir adalah pidato perpisahan Michele Obama viral di WhatsApp. Lagi pula, pengertian “tular” dalam percakapan sehari-hari juga menunjuk pada keadaan memindahkan kemampuan seseorang kepada orang lain, misalnya si A menularkan kemampuan menulis kepada peserta kursus. Malah, dalam bahasa Jawa, getok tular tidak membayangkan makna negatif. Ia tak lebih berupa penyebaran berita dari mulut ke mulut.

Bagaimanapun, kita mempunyai kesulitan menyerap bahasa asing, karena tidak ada pedoman yang tegas mengenai kata yang hendak dimasukkan ke perbendaharaan bahasa kita. Jika kata “virus” dimasukkan ke kamus, kenapa “viral”, kata turunannya, tidak dijadikan entri sesudahnya? Sejatinya, kalau kita menyerap begitu saja istilah itu, kata ini bisa dibandingkan dengan “natural”, yang kata asalnya nature juga diserap dengan disebut “natur”. Tapi, pada waktu yang sama, untuk mengayakan makna bahasa kita, bukan sekadar makna dasar, tapi juga relasional, kata “tular” juga bisa berkembang dan bersanding dengan percaya diri bersama “viral”. Dengan demikian, mari tularkan pesan tulisan ini karena ia bukan auta!

* Dosen senior filsafat dan etika Universitas Utara Malaysia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s